Connect with us

HUKRIM

Desak Relokasi Napiter di NTT, TPDI Surati Menteri Yasonna

Published

on

Petrus Salestinus (NET)

Jakarta, penatimor.com – Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) menyurati Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Senin (28/5).

Surat Nomor: 32/TPDI/V/2018, tanggal 28 Mei 2018 berisikan permintaan agar Menkumham segera menghentikan kebijakan menitip napi teroris (Napiter) pada Lapas-Lapas di NTT.

Dan terhadap Napiter yang sudah terlanjur dititip agar segera ditarik kembali dan dipindahkan ke Jakarta atau Nusakambangan.

Permintaan dimaksud didasarkan pada kondisi dimana Pemprov NTT dan aparat BIN NTT sudah sangat khawatir terhadap dampak buruk penitipan Napiter pada beberapa Lapas dan/atau Rutan di NTT sebagaimana telah dilansir oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya tanggal 13 Mei 2018 kepada beberapa media.

Disusul dengan pernyataan Kepala BIN NTT tanggal 25 Mei 2018, meminta agar jangan titip lagi Napiter ke NTT, karena menurut BIN NTT bahwasanya aktivitas sekelompok orang di sejumlah tempat di NTT menggambarkan afiliasi pada kelompok ISIS, HTI dan gerakan radikal lainnya.

Bisa dibayangkan dampak buruk dari keberadaan 10 orang Napiter titipan di beberapa Lapas di NTT, antara lain di Kabupaten Kupang, Atambua, Alor, Sumba Timur, Sumba Barat dan Manggarai, berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban serta rasa nyaman masyarakat NTT, bahkan bisa merusak kebhinekaan dan toleransi masyarakat NTT.

Koordinator TPDI Petrus Salestinus kepada wartawan di Jakarta, Selasa (29/5), mengatakan, peringatan dari Gubernur NTT agar BIN NTT dan pihak Lapas meningkatkan keamanan dan mengawasi secara ketat keberadaan Napiter di beberapa Lapas di NTT, merupakan sikap yang masih minus malum dan tidak tegas, karena hanya meminta agar hentikan menitip Napiter di NTT, yang  dinilai sudah disusupi kelompok ISIS dan teroris lainnya.

Menurut dia, aksi brutal Napiter di Mako Brimob Kelapa Dua, beberapa waktu yang lalu disusul dengan aksi bom bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya, sudah sungguh-sungguh memberikan efek domino secara kumulatif, sehingga memberi gambaran nyata bahwa penempatan Napiter titipan di NTT sama sekali tidak menguntungkan posisi NTT, apalagi sikap publik NTT sudah menjadikan teroris sebagai musuh rakyat.

“Meskipun kebijakan menitipkan Napiter di Lapas-Lapas di luar wilayah hukum Pengadilan Negeri yang memutus perkara, sepenuhnya merupakan wewenang Dirjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM, namun karena yang dititip adalah Napiter dan titipannya itu justru di Lapas-Lapas di NTT, maka inilah yang jadi soal bahkan masyarakat NTT mempertanyakan apa motif dan urgensinya dan mengapa harus di NTT,” kata Petrus.

“Mengingat obyek sasaran teroris selama ini adalah gereja, umat, pimpinan umat, polisi dan lainnya. Masyarakat NTT menilai bahwa menitip Napiter di Lapas-Lapas di NTT bukanlah langkah bijak, karena di setiap kampung, desa, kecamatan dan kota di NTT ada gereja, ada umat dan ada pimpinan umat, sementara teroris selalu menjadikan gereja, umat, pimpinan umat dan polisi sebagai target teror bom,” sambung dia.

Advokat senior Peradi di Jakarta itu, menilai kebijakan menitip Napiter di NTT tanpa mayoritas warga masyarakat NTT tahu atau dilibatkan, dan tanpa dimintai persetujuannya, jelas merupakan suatu kesalahan besar dan sangat fatal karena mengabaikan hak-hak publik. (R3)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Guru Penganiaya Siswa hingga Meninggal di Alor Dipecat, Polisi Tetapkan Tersangka

Published

on

Kapolres Alor, AKBP Agustinus Christmas.
Continue Reading

HUKRIM

Korupsi Dana Desa Makun, Kades dan Berdahara Segera Diadili, Kejari TTU Sita Uang dan Aset Ratusan Juta

Published

on

Kajari Kabupaten TTU, Roberth Jimmy Lambila, SH.,MH.
Continue Reading

HUKRIM

SADIS! Siswa SMP di Alor Meninggal Dunia Setelah Dianiaya Gurunya

Published

on

Jenazah korban saat berada di RSUD Kalabahi.
Continue Reading
error: Content is protected !!