Connect with us

SOSBUD

Pelayanan Bernuansa Etnik di GMIT Mestinya di Bulan Mei, Bukan Oktober

Published

on

Pdt. Dr. Mery Kolimon

Kupang, penatimor.com – Bulan Mei menjadi bulan bahasa dan budaya bagi warga GMIT.

Kali ini GMIT fokus melestarikan bahasa dan budaya lokal guna mengelola keberagaman.

Gereja protestan terbesar kedua di Indonesia ini prihatin bahasa dan budaya lokal semakin jarang digunakan seiring perkembangan teknologi dan informasi modern.

Ketua Majelis Sinode GMIT  Pdt. Dr. Mery Kolimon, mengatakan, Indonesia memiliki sekira 746 bahasa daerah, dan 61 di antaranya ada di NTT.

“Di NTT ada beberapa bahasa daerah yang terancam punah karena jarang digunakan. Bahasa lokal patut dirawat agar lestari. Kesatuan bahasa dan budaya harus dipertahankan,” harap Mery.

Terkait penggunaan liturgi kontekstual, Mery sampaikan, dalam rangka perayaan Bulan Bahasa dan Budaya selama ini, ada banyak masukan yang baik dan membangun.

Inti kata dia, dari masukan itu adalah warga GMIT harus berhati-hati agar pengembangan liturgi kontekstual tidak menjadi alat eksploitasi terhadap budaya lokal dan peribadahan menjadi sekadar ajang pertunjukkan budaya.

Mery melanjutkan, selama ini di banyak jemaat GMIT ekspresi budaya justru tampak pada bulan Oktober yang merupakan bulan keluarga GMIT.

Padahal, lanjut dia, GMIT mempunyai tradisi merayakan bulan Mei sebagai Bulan Bahasa dan Budaya.

Mestinya, pelayanan bernuansa etnik berlangsung pada bulan Mei, bukan pada bulan Oktober.

“Perlu diingat bahwa pada bulan Oktober nanti kita secara khusus menggumuli masalah-masalah keluarga yang sangat kompleks,” tandasnya.

Ditambahkan, Unit  Bahasa dan Budaya (UBB) GMIT juga menerbitkan Alkitab dan buku nyanyian berbahasa daerah.

Ada juga pengakuan iman, Doa Bapa Kami, dan lain-lain. Bahkan ada rekaman video kebaktian bernuansa etnik yang diselenggarakan di beberapa jemaat GMIT.

“Semua bahan itu dapat dimanfaatkan atau diolah untuk menghasilkan bentuk-bentuk liturgi kebaktian yang dapat dipakai di tiap jemaat,” pungkas Mery. (R1)

Advertisement


Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SOSBUD

SALUT! Pemkab Kupang Respon Cepat Bantu Bocah Penderita Kanker Tulang

Published

on

Erwin Pantola, bocah 11 tahun penderita kanker tulang di jemput Pemkab Kabupaten Kupang untuk dirujuk ke rumah sakit.
Continue Reading

HUKRIM

Senyum Bahagia Korban Badai Seroja di Kupang Saat Terima Bantuan Kapolda NTT

Published

on

Korban badai Seroja, Ny Marthen Tafuli dan anak-anaknya tertawa bahagia saat berdialog dengan Kapolda NTT, belum lama ini.
Continue Reading

PENDIDIKAN

Peduli Pemulung, Petugas Kebersihan dan Loper Koran di Kupang, Siswa SMA Kolose Yogyakarta Bagi-bagi Makanan

Published

on

Tristan Caktiananta Binti (16) saat membagikan makan kepada pekerja pemulung.
Continue Reading
error: Content is protected !!