Connect with us

SOSBUD

Kunjungan Emir Qatar Perkokoh Posisi Flores sebagai Destinasi Super Prioritas

Published

on

Petrus Salestinus (NET)

Jakarta, penatimor.com – Kunjungan Emir Qatar Syaikh Tamim Bin Hamad Al-Thani dan rombongannya, sebagai wisatawan ke Flores, khususnya ke Maumere, akan semakin memperkokoh posisi Pulau Flores sebagai kawasan strategis bahkan super strategis pariwisata, karena memiliki potensi dan pengaruh penting dalam aspek pertumbuhan ekonomi, sosial budaya, sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup dan pertahanan keamanan.

Pengamat hukum dan sosial budaya NTT, Petrus Salestinus, kepada wartawan di Jakarta, belum lama ini, mengatakan, kunjungan ini juga sekaligus memperkuat alasan penolakan masyarakat NTT terhadap program wisata halal dari Kementerian Pariwisata yang pada beberapa waktu lalu hendak diterapkan oleh BOP Labuan Bajo Flores namun mendapat resistensi dari masyarakat NTT, karena dinilai bertentangan dengan konstitusi.

Kunjungan Emir Qatar dan rombongannya ke Maumere dan beberapa tempat lain di Flores dan Alor, diharapkan dapat mengakhiri perdebatan panjang soal perlu tidaknya wisata halal diterapkan Kementerian Pariwisata di Flores khsusnya kawasan wisata di bawah Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo yang beberapa waktu yang lalu sempat jadi polemik menghebohkan dunia Pariwisata NTT.

“Mengapa, karena ternyata wisatawan sekelas Emir Qatar dan rombongan tidak mempertanyakan apakah di Flores ada program wisata halal atau tidak, begitu juga masyarakat lokal, Maumere, Flores-pun tidak memberi syarat apapun termasuk apakah Emir Qatar dan rombongan harus diterima dan diberlakukan hukum adat budaya Maumere atau tidak,” kata Petrus.

Semua ini menurut Petrus, karena kedatangan Emir Qatar Syaikh Tamim Bin Hamad Al-Thani dan rombongan betul-betul murni sebagai rekreasi dan sudah paham dengan hukum positf negara Indonesia, sehingga Emir Qatar dan rombongan bisa langsung menuju ke obyek wisata Teluk Maumere untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi atau untuk mempelajari dan menikmati keunikan daya tarik wisata yaitu keindahan alam taman laut, Teluk Maumere sebagai tempat menyelam terpopuler dan beberapa tempat lain di NTT.

“Emir Qatar dan rombongannya sudah tahu bahwa sebagai wisatawan, mereka terikat kepada hukum Indonesia yang mewajibkan setiap wisatawan menjaga dan menghormati norma agama, adat istiadat, budaya, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat,” sebut Petrus.

Kunjungan wisata Emir Qatar, lanjut Petrus, harus menjadi pelajaran bagi semua pihak terutama Kementerian Pariwisata bahwa tidak semua destinasi wisata dengan status super prioritas dapat diterapkan program wisata halal.

Hukum positif kita khususnya UU Kepariwisataan dengan tegas menyatakan bawa “Kepariwisataan diselenggarakan dengan prinsip menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam kesimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan sesama manusia dan hubungan antara manusia dengan lingkungan, keberagaman budaya dan kearifan lokal”.

Sebagai kepala negara, menurut Petrus Salestinus, Emir Qatar dan rombongannya sudah pasti memiliki informasi lengkap tentang kondisi geografis, kultur masyarakat dengan toleransi yang tinggi, masyarakat majemuk dengan mayoritas beragama Katolik, dengan adat budaya yang bebeda di setiap kabupaten, sehingga Emir Qatar dan rombongannya dengan kepercayaan penuh datang berkunjung, sekaligus bagi warga muslim Flores ini merupakan sebuah kunjungan kehormatan, karena bersamaan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri dimana sebagian warga Flores beragama Muslim, sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri.

“Ini menjadi bukti bahwa faktor budaya dan keindahan alam Pulau Flores yang menjadi tujuan utama kunjungan Emir Qatar, bukan persoalan ada atau tidak program wisata halal di Flores bahkan di Indonesia,” tutup Petrus Salestinus. (R4)

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SOSBUD

Peduli Sosial, HIPMI NTT Bantu Masyarakat Kurang Mampu

Published

on

Foto bersama pengurus HIPMI NTT usai memberikan keterangan pers, Selasa (18/6/2019).

Kupang, Penatimor.com – Sebagai wujud peduli sosial dari para pengusaha yang terhimpun dalam organisasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi NTT, akan menggelar memberikan bantuan kepada masyarakat kurang mampu khususnya di wilayah Kota Kupang.

Bantuan sosial itu akan diberikan kepada sejumlah panti asuhan dan beberapa keluarga tidak mampu. Kegiatan tersebut, akan dipadukan dalam acara Halal Bihalal Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriyah di Celebes Resto dan Cafe, dengan tema
“Sinergitas untuk kebangkitan, kesejahteraan dan kemandirian daerah”, Kamis (20/6/2019).

“HIPMI menggelar kegiatan peduli sosial yang dipadukan dengan acara halal bihalal dan silaturahmi antar kader, pengurus dan anggota HIPMI dari berbagai daerah,” kata Ketua HIPMI NTT, Renold Arthur Lay saat menggelar jumpa pers, Selasa (18/6/2019).

Menurut Arthur, kegiatan ini juga bertujuan merekatkan kembali keakraban antara para pengurus dan anggota, serta momen berbagi kasih dengan sesama yang berkekurangan. Untuk bantuan sosial, akan diprioritaskan kepada para keluarga muslim, yang secara ekonomi termasuk dalam kategori kurang mampu.

“Bantuan sosial kita prioritaskan untuk keluarga muslim yang sangat berkekurangan, dan membutuhkan uluran tangan,” kata Arthur.

Selain memberikan bantuan sosial dalam kegiatan halal bihalal itu, HIPMI juga akan menggelar diskusi cerdas dalam rangka menyamakan persepsi atau kesepahaman membangun NTT ke depan.

“Kita samakan satu frekuensi membangun dan mengambil peran secara aktif, membangun NTT ke depan,” kata Arthur.

Arthur menjelaskan, HIPMI NTT saat ini berjuang sendiri, sebagai kelembagaan sendiri, tanpa berhubungan langsung atau berafiliasi dengan pemerintah dan lainnya.

“Kita ingin menjadi satu bagian dalam membangun ekonomi NTT. Karena dalam pandangan kami, hari ini pertumbuhan ekonomi kita baik, pertumbuhan investasi baik, tetapi pertanyaannya adalah kenapa NTT selalu dikatakan sebagai daerah tertinggal, daerah terbelakang, berkekurangan? Posisi kita selalu disebut daerah yang tidak jelas, dan tidak tentu nasibnya,” ungkap Arthur.

Hal itu ditegaskan kembali oleh Christian Widodo Ketua HIPMI Kota Kupang. Menurut Christian, sudah saatnya HIPMI NTT mengambil peran dalam membangun NTT. Hal ini, karena anggota HIPMI NTT adalah pelaku-pelaku usaha muda, terutama di bidang UMKM.

“Memperkuat ekonomi NTT ke depan, perlu didorong, perlu ada stimulus untuk bisa mengembangkan pelaku usaha UMKM, sehingga semakin banyak yang bertumbuh,” kata Christian.

Menurut Christian, perlu strategi-strategi ke depan bagaimana membangun ekonomi yang lebih inklusif dan merata untuk seluruh elemen masyarakat. Dengan jumlah bisnis yang semakin kait mengait satu dengan yang lainnya sehingga perlu ada satu frekuensi yang sama.

“Hari ini HIPMI mau mengambil peran, bahkan sudah mengambil peran melalui pelaku-pelaku UMKM, pelaku industri kreatif. Kita ingin ada dukungan atau partisipasi aktif dan mungkin ada stimulus dari pemerintah,” tandas Christian. (R2)

Continue Reading

SOSBUD

Galang Dana, THS-THM Kupang Gelar Konser Musik

Published

on

Panitia dan pengisi kegiatan konser musik Dentang Nada pose bersama, Jumat (14/6) malam.

Kupang, penatimor.com – Kaderisasi nasional Tunggal Hati Seminari (THS) dan Tunggal Hati Maria (THM) melaksanakan kegiatan konser musik bertajuk “Dentang Nada”.

Kegiatan dalam rangka penggalangan dana ini dilaksanakan di Gereja Santa Maria Assumpta, Jalan Perintis Kemerdekaan 1, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Jumat (14/6) malam.

Kegiatan Dentang Nada terlaksana atas kerja sama THS-THM Distrik Keuskupan Agung Kupang (KAK) dan Sendratasik Unwira Kupang.

Turut memeriahkan kegiatan ini Rojan Band alias Romo Band
Jaman Now.

Kegiatan pengalangan dana ini dimulai dari pukul 19.30, dan sebanyak 17 lagu berbagai genre yang dipersembahkan pada malam itu.

Ketua Panitia Konser Luis Bria, kepada wartawan, mengatakan, kegiatan pengalangan dana tersebut diawali dengan acara seremonial.

Ketua Panitia Konser Luis Bria

Kemudian penampilan Sendratasik yang mempersembahkan lagu-lagu bergenre klasik, country dan pop daerah NTT.

Dan pada jeda waktu istirahat setiap session diisi oleh Rojan Band.

“Setiap lagu yang dibawakan Rojan Band kami lelangkan, dan banyak umat dan penonton yang sangat antusias berpartisipasi,” jelas Luis Bria.

Dia melanjutkan, konser pengalangan dana ini untuk mensukseskan kegiatan kaderisasi nasional, yang melibatkan seluruh Keuskupan se-Indonesia.

“Ada kurang lebih 30 keuskupan. Kaderisasi nasional akan dilaksanakan pada 21-27 Juni di Seminari Menengah Oepoi,” ungkap dia.

Selain konser pengalangan dana semalam, pada 21-27 Juni, akan dilakukan kegiatan Kaderisasi Kepelatihan untuk pembinaan kader-kader muda THS-THM, supaya semakin militan dalam berbagai bentuk sikap dan karakternya.

“Kita berharap lewat kegiatan ini juga bisa membangun spirit kepada kaum muda agar bisa mengembangkan bakat yang terpendam untuk bisa ditampilkan. (wil)

Continue Reading

SOSBUD

Pesparani Diharapkan Berdampak bagi Kesejahteraan Masyarakat

Published

on

Dok. Ist

Kupang, Penatimor.com – Kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Nasional yang akan berlangsung di Kota Kupang tahun 2020 diharapkan tidak hanya sekadar membuat NTT jadi terkenal tapi juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Harapan itu disampaikan oleh Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat saat menyampaikan arahan pada pertemuan awal Persiapan Pesparani Katolik Nasional II Tahun 2002 di Ruang Rapat Asisten Setda NTT, Jumat (17/5/2019).

“Saya coba menjembatani dan menterjemahkan keinginan serta arahan Gubernur NTT (Viktor Laiskodat) agar penyelenggaraan kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam untuk 50 tahun ke depan. Permintaan ini mesti dimakanai dalam visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera. Even-even tahunan baik itu tingkat provinsi maupun nasional tidak sekadar dilakukan karena sudah direncanakan dan anggarannya ada. Gubernur tidak mau seperti itu ,” jelas Julie dalam kesempatan tersebut.

Menurut Julie Laiskodat, pelaksanaan even nasional tersebut tidak juga sekadar dilaksanakan secara mewah dan gagah-gagahan. Bukan pula untuk menghabiskan anggaran besar sehingga membekas dalam ingatan peserta dan mengangkat nama NTT. Itu hanya satu aspek saja yakni NTT Bangkit, nama NTT mencuat. Sementara aspek sejahteranya tidak nampak.

“Jujur saja, Pak Gubernur punya mau sangat gampang. Gubernur tidak mau kita lakukan ini hanya untuk (menyenangkan) Presiden atau Gubernur. Dia tidak mau itu. Beliau tidak mau hanya satu unsur ditonjolkan. Setiap program atau kegiatan harus mencakup dua hal ini sekaligus yakni bangkit dan sejahtera. Bangkitnya berarti nama NTT terkenal, benar. Tapi sejahteranya harus dapat, terutama untuk masyarakat. Itu tujuan yang diinginkan Gubernur,” jelas Julie.

Dalam kaitannya dengan itu, Ketua Tim Penggerak PKK NTT itu menegaskan, semua perangkat daerah, swasta, TNI/Polri dan mitra-mitra terkait lainnya harus terlibat secara aktif. Tidak hanya menjadi tanggung jawab panitia. Karenanya dalam kesempatan tersebut, Julie langsung melakukan presentasi terhadap peserta yang hadir mengikuti rapat.

“Hajatan ini adalah hajatan nasional. Kita tidak boleh sekadar duduk saja. Tapi harus melakukan persiapan yang matang dari waktu ke waktu. Kita sudah berusaha keras untuk menjadi tuan rumah. Setelah dapat (penunjukan tuan rumah), itu menjadi utang dan pekerjaan berat kita. Kita tidak boleh sia-siakan perjuangan ini. Kita harus bergandengan tangan untuk sukseskan acara ini,” jelas Julie.

Lebih lanjut, Julie meminta agar semua pihak yang terlibat untuk bekerja ‘out of the box’ bukan ‘in the box’. Harus mulai terbiasa dengan standar nasional bahkan internasional. Jangan pakai ukuran yang biasa dilakukan selama ini. Ia mengharapkan agar renovasi arena-arena tidak hanya berorientasi untuk sukseskan Pesparani tetapi juga untuk kepentingan pelayanan publik di NTT yang lebih baik ke depannya.

“Minggu lalu (Kamis, 9/5), saya meninjau venue-venue (arena-arena) yang direkomendasikan namun semuanya belum layak untuk perhelatan akbar ini. Saya minta selama satu tahun ke depan ini, tolong diatur dan direncanakan anggarannya seperti apa. Kalau mau renovasi, harus berpikir tidak hanya untuk sukseskan acara ini, tetapi juga supaya standar kita NTT naik. Terutama untuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Parkiran, tangganya harus ramah dengan mereka. Saya minta Bappeda memperhatikan secara serius hal ini,” jelas Julie.

Di akhir arahannya, Anggota Dewan Pengarah dalam struktur Kepanitiaan Pesparani Nasional 2020 itu juga meminta agar kegiatan tersebut juga bisa menggerakkan sektor pariwisata yang menjadi ‘prime mover’ ekonomi NTT. Ribuan manusia yang datang tidak mungkin hanya untuk mengikuti acara tersebut. Mereka juga pasti akan cari tahu tentang NTT, khususnya Kota Kupang punya apa saja.

“Pariwisata bersama Asita (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia), tolong pikirkan paket tour yang simpel dan terjangkau supaya mereka punya pilihan untuk pesiar di sini. Kalau 12 sampai 15 ribu orang yang datang, harus juga perhatikan penginapannya. PUPR Provinsi dan Kota Kupang harus bisa petakan mana yang bisa dibedah rumahnya untuk homestay karena jumlah kamar hotel kita tidak cukup. UMKM, Koperasi dan Perdagangan harus juga pikirkan mereka mau makan apa, oleh-oleh yang bisa mereka bawa pulang apa saja. Petakan semua kelompok UMKM, supaya kita jualan juga agar sejahteranya kita dapat,” pungkas Julie.

Sementara itu, Ketua Umum Panitia Pesparani Nasional, Jamaludin Ahmad dalam arahannya menyatakan, pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas persiapan sekaligus menjawab kepercayaan dari pemerintah pusat terhadap NTT dalam menyukseskan acara akbar tersebut. Kegiatan ini sesuai harapan dari Gubernur harus bisa lebih baik dan hebat dari penyelenggaraan pertama di Ambon.

“Even ini harus punya multiplier efek terutama pariwisata sebagai prime mover dan harus terkoneksi dengan Visi NTT Bangkit menuju Sejahtera. Semua perangkat daerah dan elemen terkait harus bergandengan tangan. Kita akan keluarkan surat resmi supaya semua perangkat daerah mulai memasukan perencanaan dan penganggaran untuk menyukseskan acara ini. Acara ini harus punya dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,”jelas Ketua PWNU NTT itu.

Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) NTT, Frans Salem menyatakan, komitmen Pemerintah Provinsi NTT untuk menjadikan Pesparani Nasional di Kupang yang terhebat, sudah viral di mana-mana. Karenanya banyak orang yang mau datang dan mengikuti kegiatan ini nantinya.

“Secara nasional juga, Pesparani di NTT memberikan warna tersendiri saat Gubernur menunjuk ketua PWNU NTT sebagai ketua panitianya. Artinya pesparani adalah (medium) merajut persaudaraan sejati. Kita ingin NTT siapkan diri dengan baik karena banyak sekali orang yang akan datang ke NTT untuk buktikan bahwa NTT ingin jadi tuan rumah terbaik 50 tahun ke depan,” jelas mantan Sekda NTT tersebut.

Sementara itu Sinun Petrus Manuk selaku Ketua Tim 15 yang dibentuk Ketua Panitia Pesparani Nasional mengatakan, waktu pelaksanaan Pesparani Nasional 2020 dimulai tanggal 28 Oktober. Jumlah peserta diperkirakan mencapai 12 ribu orang.

“Semua perangkat daerah akan dilibatkan dalam kepanitiaan. Begitu juga umat dari berbagai agama diikutsertakan ” tutup Sinun Manuk. (R2)

Continue Reading




Loading...

Trending

error: Content is protected !!