Connect with us

HUKRIM

Trauma Diperkosa, Permohonan Suntik Mati Gadis Belanda Dikabulkan

Published

on

Foto: IST/net

Berlin, Penatimor.com – Noa Pothoven, seorang gadis berusia 17 tahunn asal Arnhem, Belanda, telah di-eutanasia atau disuntik mati secara legal hari Minggu lalu. Suntik mati itu permohonan dirinya setelah merasa tak bisa terus hidup akibat trauma diperkosa ketika masih kecil.

Jasad Noa telah ditidurkan di rumahnya. Sehari sebelum disuntik mati secara legal, Noa mengatakan dalam sebuah posting di media sosial bahwa dia “bernafas tetapi tidak lagi hidup”.

Noa menulis otobiografi yang dinamai “Winning or Learning”. Dalam otobiografi itu, dia menceritakan setelah kekerasan seksual dan pemerkosaan ketika menjadi gadis kecil telah menuntunnya untuk mengembangkan gangguan stres pasca-trauma, depresi dan anoreksia.

Dia diserang tiga kali ketika masih kecil. Dua insiden pertama adalah penganiayaan ketika dia menghadiri pesta anak-anak berusia 11 dan 12 tahun sebelum dia diperkosa oleh dua pria ketika dia berusia 14 tahun di lingkungan Elderveld.

Selama bertahun-tahun dia tidak pernah mengungkapkan pelecehan mengerikan itu karena itu membuatnya merasa malu.

“Saya berunding untuk sementara waktu apakah saya harus membagikan ini atau tidak, tetapi memutuskan untuk tetap melakukannya,” tulis dia. “Mungkin ini mengejutkan bagi beberapa orang, mengingat posting saya tentang rawat inap, tetapi rencana saya telah ada di sana untuk waktu yang lama dan tidak impulsif.”

“Saya akan langsung ke intinya; dalam maksimal 10 hari saya akan mati. Setelah bertahun-tahun berjuang dan bertarung, saya kehabisan tenaga. Saya sudah berhenti makan dan minum untuk sementara waktu sekarang, dan setelah banyak diskusi dan evaluasi, diputuskan untuk membiarkan saya pergi karena penderitaan saya tidak tertahankan,” paparnya.

“Karena takut dan malu, saya menghidupkan kembali rasa takut, rasa sakit itu setiap hari. Selalu takut, selalu berjaga-jaga. Dan sampai hari ini tubuh saya masih terasa kotor,” sambung tulisan Noa, seperti dilansir sindonews.com dari news.com.au, Rabu (5/6/2019).”Rumah saya telah dibobol, tubuh saya, yang tidak pernah bisa dibatalkan.”

Noa menghabiskan jam-jam terakhirnya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman dan keluarganya yang patah hati.

Dia meminta mereka untuk “tidak meyakinkan saya bahwa ini tidak baik, ini adalah keputusan saya dan sudah final.”

“Cinta adalah melepaskan, dalam hal ini,” imbuh dia.

Dia mengatakan ibunya, Lisette, “selalu ada untuk saya”, namun menurut hukum Belanda, ibunya benar-benar memiliki suara dalam keputusan putrinya.

Tahun lalu, dia mengungkapkan bahwa dia telah dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis setelah anoreksia meninggalkan organ-organnya di ambang kegagalan.

Dokter menempatkan dia dalam koma yang diinduksi secara medis untuk memberinya makan melalui tabung.

Menteri Belanda; Lisa Westerveld, adalah yang pertama kali melakukan kontak dengan Noa pada bulan Desember setelah wawancara di surat kabar. Dia mengunjungi remaja berusia 17 tahun itu sebelum ia di-eutanasia.

“Senang melihatnya lagi. Ini juga sangat tidak nyata. Noa sangat kuat dan sangat terbuka. Saya tidak akan pernah melupakannya. Kami akan melanjutkan perjuangannya,” kata menteri tersebut.

Anak-anak seusia 12 tahun dapat memilih untuk eutanasia di Belanda tetapi hanya setelah dokter menentukan bahwa rasa sakit pasien tidak tertahankan.

Euthanasia juga legal di beberapa negara bagian Amerika Serikat, Kanada dan Belgia. (R2)

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Selundup 4.874 Pil Ekstasi, 2 Warga Tiles Ditangkap, 1 Dibekuk di Kupang

Published

on

Kapolres Belu AKBP Christian Tobing menunjukan barang bukti ekstasi dalam konferensi pers yang dilakukan di Aula Wira Satya Mapolres Belu, siang tadi, Selasa (26/5).

Atambua, penatimor.com – Apresiasi patut diberikan kepada tim Sat Resnarkoba Polres Belu, Bea Cukai dan BNN Kabupaten Belu yang berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika jenis MDMA atau ekstasi.

Penangkapan dua kurir warga negara Timor Leste dilakukan di perbatasan Motaian, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, pada tanggal 29 Mei 2019.

Kedua kurir adalah sepasang suami istri bernama Jose Soares Pereira alias Jose (34) dan Angel Soares alias Ansa (30).

Kedua tersangka ini berprofesi sebagai wiraswasta.

Kapolres Belu AKBP Christian Tobing dalam konferensi pers yang dilakukan di Aula Wira Satya Mapolres Belu, siang tadi, Selasa (26/5), mengatakan, kedua pelaku ditahan karena membawa ekstasi.

Tersangka Jose mengaku diperintah majikannya bernama Jerry Gunao, warga negara Filipina, untuk mengantar barang berupa mesin printer warna putih merk Epson Tipe 355 ke Kota Kupang.

Karena sendiri, Jose mengajak istri nya Ansa dengan alasan mendapat uang jalan dan kalau sampai di Kota Kupang, akan membeli cincin nikah.

“Sampainya di PBLN Motaain, barang bawaan mereka diperiksa oleh petugas Bea dan Cukai, sehingga mendapati barang berupa MDMA (ekstasi) sebanyak 5 paket yang dibungkus plastik warna hitam di dalam mesin printer warna putih merk Epson Tipe 355 tersebut,” kata Kapolres.

“Kemudian kedua tersangka dibawa ke Kantor Induk Bea dan Cukai Atambua untuk diperiksa lebih lanjut barang bawaan mereka,” lanjut dia.

Petugas Bea dan Cukai bersama Kasat Narkoba Polres Belu, Iptu Ivans Drajat beserta anggota dengan disaksikan kedua tersangka, memeriksa kelima paket tersebut.

Paket pertama berisi pil warna hijau bentuk geranat sebanyak 972 butir MDMA.

Paket kedua terdapat pil warna biru bentuk superman sebanyak 988 butir MDMA, paket ketiga pil warna biru bentuk superman sebanyak 969 butir MDMA, paket keempat berisi pil warna hijau bentuk geranat sebanyak 977 butir
MDMA dan paket kelima terdapat pil warna coklat bentuk kepala monyet sebanyak 968 butir.

Total keseluruhannya sebanyak 4.874 butir pil ekstasi dengan berat 1.861gram.

Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Jumat (31/5), Kasat Narkoba Iptu Ivans Drajat beserta anggota dan tersangka pergi ke Kota Kupang untuk mengembangkan kasus tersebut lebih lanjut.

Dan pada Sabtu (1/6), Satresnarkoba Polres Belu bekerja sama dengan Dit Resnarkoba Polda NTT berhasil menangkap tersangka Hendry Suciyono yang akan mengambil barang atau paket di tersangka Jose di tempat parkir Flobamora Mall.

Untuk tersangka Hendry Suciyono diserahkan ke Dit Resnarkoba Polda NTT untuk dikembangkan lebih lanjut.

Sedangkan, tersangka Jose dan Anse diamankan di Mapolres Belu.

Sementara, terkait majikan tersangka Jose yang berada di Timor Leste sudah ditangkap dan diamankan oleh petugas kepolisian Timor Leste.

Ketiga tersangka dikenakan Pasal 112 ayat (1) dan (2), 114 ayat (1) dan (2) dan atau Pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 tahun 2009, tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup. (wil)

Continue Reading

HUKRIM

Penganiaya Honorer di Kupang Terancam 5 Tahun Penjara

Published

on

Pelimpahan tersangka dan barang bukti kasus dugaan penganiayaan oleh penyidik Unit Reskrim Polsek Oebobo di Kejari Kota Kupang, Selasa (25/6).

Kupang, penatimor.com – Penyidik Unit Reskrim Polsek Oebobo, Polres Kupang Kota, melimpahkan tersangka dan barang bukti perkara dugaan penganiayaan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Kupang.

Dengan pelimpahan tahap dua tersebut, tersangka berinisial JBM segera disidangkan di Pengadilan. Tersangka JBM juga masih di bawah umur.

Korban kasus ini adalah Yermia F. Cornelius, pegawai honorer yang juga warga Jalan Bakti Karang, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Kasus penganiayaan ini berdasarkan laporan polisi Nomor: LP/B/61/IV/2019 Tanggal 1 Mei 2019.

Kopolsek Oebobo Kompol I ketut Saba melalui Kanit Reskrim Iptu Komang Sukamara, SH., kepada wartawan di ruang kerjanya, (25/6) siang, membenarkan.

Dia menjelaskan, kasus dugaan penganiayaan ini dilakukan oleh JMB terhadap korban pada Rabu (1/5).

Komang sampaikan, pada saat itu tersangka lagi duduk mengonsumsi minum keras (miras) bersama teman- teman nya sambil bernyanyi dengan suara keras.

Saat itu juga korban datang menghampiri dan menegur pelaku untuk bubar.

Karena tidak terima ditegur, tersangka JMB langsung memukul korban menggunakan batu di kepala sehingga mengalami luka robek di bagian kepala belakang.

“Kasus dugaan tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh tersangka JMB, sudah dilimpahkan tahap dua ke Kejari Kota Kupang siang tadi,” sebut Komang.

“Tersangka JMB dan barang bukti diterima oleh jaksa ibu Kadek Widiantri, SH., MH.,” lanjut dia.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 351, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. (wil)

Continue Reading

HUKRIM

Mabuk di Perumahan Korem Alak, Yohanes Hery Babak Belur Dikeroyok

Published

on

Ilustrasi pengeroyokan (NET)

Kupang, penatimor.com – Yohanes Hery Kurniawan (37), bernasib nahas.

Warga RT 05/RW 02, Kelurahan Penkase-Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang ini menjadi korban pengeroyokan.

Pengeroyokan dialami korban saat menghadiri acara syukuran pernikahan di Perumahan Korem, Kelurahan Penkase-Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang sekitar pukul 02.00 dinihari, Senin (24/6).

Kapolsek Alak, Polres Kupang Kota, Kompol I Gede Sucitra, S.H., kepada wartawan, membenarkan adanya laporan pengeroyokan tersebut.

“Korban datang melaporkan kejadian ini sekitar pukul 04.10. Dalam laporan yang dibuat oleh korban, diduga pelaku pengeroyokan ini adalah Asbel Cs,” kata Kapolsek.

Dijelaskan, awalnya korban ditemukan oleh pamannya sudah dalam keadaan tergeletak di tengah jalan dan bersimbah darah.

Kemudian korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Wira Sakti Kupang untuk mendapat perawatan medis.

“Akibat dari kejadian tersebut korban mengalami bengkak dan luka pada bagian kepala dan wajah,” ungkap Mantan Kapolsek Maulafa itu.

Dikatakan, menurut keterangan saksi bahwa korban awalnya berada di tempat pesta syukuran nikah yang bertempat di sekitar TKP dan dalam keadaan mabuk miras.

Korban yang sudah dipengaruhi miras itu terlibat pertengkaran dengan pelaku Cs yang mengakibatkan korban dikeroyok oleh para terlapor.

“Menurut keterangan saksi mereka sempat cekcok lalu dikeroyok. Untuk saat ini korban masih dirawat di Rumah Sakit Wira Sakti,” imbuh Kapolsek.

Atas laporan tersebut, Kapolsek sampaikan pihaknya telah mendatangi TKP, namun para pelaku telah melarikan diri dan sementara ini masih dalam pengejaran. (wil)

Continue Reading




Loading...

Trending

error: Content is protected !!