Connect with us

HUKRIM

Kematian Bupati Ende Akibat Serangan Jantung Diragukan, Polda Diminta Autopsi dan Usut Tuntas

Published

on

Prosesi pemakaman Bupati Ende Marsel Petu, Rabu (29/5).

Jakarta, penatimor.com – Bupati Ende Ir. Marsel Petu telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya sejak dini hari tanggal 26 Mei 2019.

Kepergian Bupati Ende Ir. Marsel Petu sungguh sungguh mengagetkan bukan saja oleh keluarga terdekat yang ditinggalkan, tetapi juga oleh hampir seluruh masyarakat Kabupaten Ende dan sekitarnya, karena tidak pernah terbetik informasi sedikitpun bahwa alm. Ir. Marsel Petu sedang mengidap penyakit jantung atau penyakit bawaan lainnya yang sangat mengganggu aktivitasnya selaku Bupati Ende selama dua periode berjalan memimpin Ende.

Masyarakat luas mulai mempertanyakan hal ikhwal kepastian sebab-sebab kematian Buapti Ende Ir. Marsel Petu, benarkah Ir. Marsel Petu meninggal karena serangan jantung yang mendadak pada tanggal 26 Mei 2019 dini hari itu.

Pertanyaan ini logis karena berdasarkan informasi dari sejumlah sumber yang dekat dengan almahrum Ir. Marsel Petu bahwa selama ini tidak pernah ada keluhan akan adanya sakit jantung yang diderita almarhum, juga belum lama ini almarhum mengikuti pemeriksaan kesehatan diawal seleksi persyaratan sebagai bakal Calon Bupati Ende dalam pilkada langsung beberapa bulan lalu dan dinyatakan sehat walafiat.

Tidak adanya informasi tentang gangguan kesehatan yang diidap, dan memang faktanya tidak ada keluhan dari almahrum atau ada tanda-tanda fisik yang memberikan tanda-tanda secara gestural atau postural bahwa almarhum sedang mengidap penyakit yang sangat mengganggu aktivitasnya untuk memimpin Ende untuk periode berikutnya, membuat sejumlah pihak mulai memberikan analisa ke arah sebab-sebab kematian Ir. Marsel Petu sebagai tidak wajar alias bukan serangan jantung.

Bahkan sebagian pihak menghubungkan dengan persoalan politik lokal menyangkut kepemimpinan 5 tahun ke depan bagi Kabupaten Ende.

Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Salestinus kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (1/6), mengatakan, semua dinamika dan cara pandang serta tafsir masyarakat Ende seputar sebab-sebab kematian Ir. Marsel Petu tentu sah-sah saja.

“Apalagi almarhum Marsel Petu adalah seorang pejabat publik yang sekaligus milik publik Ende, sehingga di dalam dirinya tidak hanya ada banyak sahabat karib yang dekat dengan almahrum, akan tetapi juga ada musuh-musuh politik almahrumpun pasti ada termasuk musuh dalam selimut,” kata Petrus Salestinus.

Peristiwa kematian Marsel Petu, menurut advokat senior Peradi itu, selain meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarganya dan sahabat-sahabat dekatnya, akan tetapi juga menjadi kabar baik bagi sebagian orang yang menghendaki kematian almahrum.

Karena itu spekulasi yang berkembang seputar sebab-sebab kematian almahrum harus dijawab secara pasti dan segera tentu saja dengan sebuah proses yang lebih spesifik yaitu autopsi.

“Hanya dengan autopsi penentuan sebab-sebab kematian yang tidak wajar bahkan menjadi polemik di tengah masyarakat bisa dipastikan sebabnya dan segera mengakhiri polemik yang sedang berkembang. Oleh karena almarhum Marsel Petu sudah menjadi milik publik, maka publik berhak tentu saja dengan restu keluarga almahrun dan Pemerintah Daerah meminta Dokter Ahli Forensik untuk melakukan autopsi agar spekulasi seputar sebab-sebab kematian menjadi lebih jelas,” jelas Petrus.

Dia melanjutkan, Polda NTT-pun perlu melakukan penyelidikan untuk merespons dinamika yang berkembang di tengah masyarakat Ende, seputar sebab-sebab kematian Marsel Petu yang mulai dihubungkan dengan persoalan politik suksesi.

“Untuk meredam polemik yang berkembang ke arah yang tidak sehat, maka polisi perlu mendengar sejumlah pihak terutama mereka yang seharian mendampingi almahrum hingga malam, apa saja yang dikonsumsi, siapa saja yang menghubungi kontak telpon dengan almahrum, mengapa pada malam itu ke Kampung Solor, apakah hanya sekedar mau makan malam atau memang bertujuan untuk mampir di rumah Chen Abubakar, atau apakah pertemuan di rumah Chen Abubakar sudah diagendakan dan hal lainnya,” pungkas Petrus Salestinus. (R4)

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Selundup 4.874 Pil Ekstasi, 2 Warga Tiles Ditangkap, 1 Dibekuk di Kupang

Published

on

Kapolres Belu AKBP Christian Tobing menunjukan barang bukti ekstasi dalam konferensi pers yang dilakukan di Aula Wira Satya Mapolres Belu, siang tadi, Selasa (26/5).

Atambua, penatimor.com – Apresiasi patut diberikan kepada tim Sat Resnarkoba Polres Belu, Bea Cukai dan BNN Kabupaten Belu yang berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika jenis MDMA atau ekstasi.

Penangkapan dua kurir warga negara Timor Leste dilakukan di perbatasan Motaian, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, pada tanggal 29 Mei 2019.

Kedua kurir adalah sepasang suami istri bernama Jose Soares Pereira alias Jose (34) dan Angel Soares alias Ansa (30).

Kedua tersangka ini berprofesi sebagai wiraswasta.

Kapolres Belu AKBP Christian Tobing dalam konferensi pers yang dilakukan di Aula Wira Satya Mapolres Belu, siang tadi, Selasa (26/5), mengatakan, kedua pelaku ditahan karena membawa ekstasi.

Tersangka Jose mengaku diperintah majikannya bernama Jerry Gunao, warga negara Filipina, untuk mengantar barang berupa mesin printer warna putih merk Epson Tipe 355 ke Kota Kupang.

Karena sendiri, Jose mengajak istri nya Ansa dengan alasan mendapat uang jalan dan kalau sampai di Kota Kupang, akan membeli cincin nikah.

“Sampainya di PBLN Motaain, barang bawaan mereka diperiksa oleh petugas Bea dan Cukai, sehingga mendapati barang berupa MDMA (ekstasi) sebanyak 5 paket yang dibungkus plastik warna hitam di dalam mesin printer warna putih merk Epson Tipe 355 tersebut,” kata Kapolres.

“Kemudian kedua tersangka dibawa ke Kantor Induk Bea dan Cukai Atambua untuk diperiksa lebih lanjut barang bawaan mereka,” lanjut dia.

Petugas Bea dan Cukai bersama Kasat Narkoba Polres Belu, Iptu Ivans Drajat beserta anggota dengan disaksikan kedua tersangka, memeriksa kelima paket tersebut.

Paket pertama berisi pil warna hijau bentuk geranat sebanyak 972 butir MDMA.

Paket kedua terdapat pil warna biru bentuk superman sebanyak 988 butir MDMA, paket ketiga pil warna biru bentuk superman sebanyak 969 butir MDMA, paket keempat berisi pil warna hijau bentuk geranat sebanyak 977 butir
MDMA dan paket kelima terdapat pil warna coklat bentuk kepala monyet sebanyak 968 butir.

Total keseluruhannya sebanyak 4.874 butir pil ekstasi dengan berat 1.861gram.

Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Jumat (31/5), Kasat Narkoba Iptu Ivans Drajat beserta anggota dan tersangka pergi ke Kota Kupang untuk mengembangkan kasus tersebut lebih lanjut.

Dan pada Sabtu (1/6), Satresnarkoba Polres Belu bekerja sama dengan Dit Resnarkoba Polda NTT berhasil menangkap tersangka Hendry Suciyono yang akan mengambil barang atau paket di tersangka Jose di tempat parkir Flobamora Mall.

Untuk tersangka Hendry Suciyono diserahkan ke Dit Resnarkoba Polda NTT untuk dikembangkan lebih lanjut.

Sedangkan, tersangka Jose dan Anse diamankan di Mapolres Belu.

Sementara, terkait majikan tersangka Jose yang berada di Timor Leste sudah ditangkap dan diamankan oleh petugas kepolisian Timor Leste.

Ketiga tersangka dikenakan Pasal 112 ayat (1) dan (2), 114 ayat (1) dan (2) dan atau Pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 tahun 2009, tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup. (wil)

Continue Reading

HUKRIM

Penganiaya Honorer di Kupang Terancam 5 Tahun Penjara

Published

on

Pelimpahan tersangka dan barang bukti kasus dugaan penganiayaan oleh penyidik Unit Reskrim Polsek Oebobo di Kejari Kota Kupang, Selasa (25/6).

Kupang, penatimor.com – Penyidik Unit Reskrim Polsek Oebobo, Polres Kupang Kota, melimpahkan tersangka dan barang bukti perkara dugaan penganiayaan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Kupang.

Dengan pelimpahan tahap dua tersebut, tersangka berinisial JBM segera disidangkan di Pengadilan. Tersangka JBM juga masih di bawah umur.

Korban kasus ini adalah Yermia F. Cornelius, pegawai honorer yang juga warga Jalan Bakti Karang, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Kasus penganiayaan ini berdasarkan laporan polisi Nomor: LP/B/61/IV/2019 Tanggal 1 Mei 2019.

Kopolsek Oebobo Kompol I ketut Saba melalui Kanit Reskrim Iptu Komang Sukamara, SH., kepada wartawan di ruang kerjanya, (25/6) siang, membenarkan.

Dia menjelaskan, kasus dugaan penganiayaan ini dilakukan oleh JMB terhadap korban pada Rabu (1/5).

Komang sampaikan, pada saat itu tersangka lagi duduk mengonsumsi minum keras (miras) bersama teman- teman nya sambil bernyanyi dengan suara keras.

Saat itu juga korban datang menghampiri dan menegur pelaku untuk bubar.

Karena tidak terima ditegur, tersangka JMB langsung memukul korban menggunakan batu di kepala sehingga mengalami luka robek di bagian kepala belakang.

“Kasus dugaan tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh tersangka JMB, sudah dilimpahkan tahap dua ke Kejari Kota Kupang siang tadi,” sebut Komang.

“Tersangka JMB dan barang bukti diterima oleh jaksa ibu Kadek Widiantri, SH., MH.,” lanjut dia.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 351, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. (wil)

Continue Reading

HUKRIM

Mabuk di Perumahan Korem Alak, Yohanes Hery Babak Belur Dikeroyok

Published

on

Ilustrasi pengeroyokan (NET)

Kupang, penatimor.com – Yohanes Hery Kurniawan (37), bernasib nahas.

Warga RT 05/RW 02, Kelurahan Penkase-Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang ini menjadi korban pengeroyokan.

Pengeroyokan dialami korban saat menghadiri acara syukuran pernikahan di Perumahan Korem, Kelurahan Penkase-Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang sekitar pukul 02.00 dinihari, Senin (24/6).

Kapolsek Alak, Polres Kupang Kota, Kompol I Gede Sucitra, S.H., kepada wartawan, membenarkan adanya laporan pengeroyokan tersebut.

“Korban datang melaporkan kejadian ini sekitar pukul 04.10. Dalam laporan yang dibuat oleh korban, diduga pelaku pengeroyokan ini adalah Asbel Cs,” kata Kapolsek.

Dijelaskan, awalnya korban ditemukan oleh pamannya sudah dalam keadaan tergeletak di tengah jalan dan bersimbah darah.

Kemudian korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Wira Sakti Kupang untuk mendapat perawatan medis.

“Akibat dari kejadian tersebut korban mengalami bengkak dan luka pada bagian kepala dan wajah,” ungkap Mantan Kapolsek Maulafa itu.

Dikatakan, menurut keterangan saksi bahwa korban awalnya berada di tempat pesta syukuran nikah yang bertempat di sekitar TKP dan dalam keadaan mabuk miras.

Korban yang sudah dipengaruhi miras itu terlibat pertengkaran dengan pelaku Cs yang mengakibatkan korban dikeroyok oleh para terlapor.

“Menurut keterangan saksi mereka sempat cekcok lalu dikeroyok. Untuk saat ini korban masih dirawat di Rumah Sakit Wira Sakti,” imbuh Kapolsek.

Atas laporan tersebut, Kapolsek sampaikan pihaknya telah mendatangi TKP, namun para pelaku telah melarikan diri dan sementara ini masih dalam pengejaran. (wil)

Continue Reading




Loading...

Trending

error: Content is protected !!