Connect with us

UTAMA

Caleg PKS SBD Diduga Coblos Dua Kali di TPS Berbeda

Published

on

Dok. Ist

Tambolaka, Penatimor.com – Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya menemukan seorang warga yang diduga melakukan pencoblosan lebih dari satu kali di TPS yang berbeda.

Warga yang diduga melakukan pencoblosan di dua TPS itu diketahui adalah salah satu Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dapil 3 (Wewewa Barat – Wewewa Selatan) atas nama Oktavianus Oba Nata.

Dari pengakuan beberapa saksi Partai Politik dan panitia penyelenggara yang bertugas di dua TPS yakni TPS 8 Wanno Roto dan TPS 10 Wowara, Desa Waimangura, Kecamatan Wewewa Barat membenarkan terduga pelaku Oktavianus Oba Nata melakukan pencoblosan di dua TPS itu pada Pemilihan Umum 17 April 2019 lalu.

“Bermula dari laporan warga yang melihat terduga pelaku pelanggaran pemilu melakukan aksinya, Panwas Kecamatan melakukan penelusuran di dua TPS tersebut. Kami pun kaget ketika Panwas Kecamatan datang lalu berkata ada temuan di TPS 8 dan 10. Dua TPS ini bermasalah karena ada oknum yang melakukan pencoblosan dua kali. Kami sebagai penyelenggara mengatakan di TPS 10 tidak ada masalah karena warga yang melakukan pencoblosan terdaftar dalam DPT. Tetapi Panwas melakukan pengecekan data dan mengambil barang bukti berupa Surat Pemberitahuan Pemungutan Suara Kepada Pemilih model C6-KWK,” papar Anggota KPPS TPS 8 dan 10 yang tak ingin namanya di publikasikan, Rabu (17/4/2019).

Oktavianus Oba Nata sendiri dari hasil penelusuran penyelenggara mengatakan dirinya terdaftar dalam DPT model A3-KPU dan model A.DPTHP2-KPU di TPS 8 dan TPS 10 sehingga penyelenggara memberikan formulir C6-KWK agar dapat memberikan hak suaranya pada tanggal 17 April kemarin. Dalam DPT Model A3-KPU TPS 8, Oktavianus terdaftar pada nomor urut 77. Sedangkan pada TPS 10 terdaftar pada nomor urut 243. Selanjutnya pada DPT Model A.DPTHP2-KPU TPS 10, Oktavianus berada di nomor urut 50.

“Sesuai nama yang terdaftar di DPT kami memberikan formulir C6-KWK. Dan, formulir C6 itu sudah diambil oleh Panwas Kecamatan sebagai barang bukti. Awalnya, Oktavianus ini memberikan hak suaranya di TPS 8 Wanno Roto, namun usai melakukan pencoblosan dirinya tidak mengijinkan jarinya di bubuhi tinta. Ini kan sudah ada indikasi ingin menghancurkan demokrasi, sebagai warga negara yang baik harus patuhi aturan yang berjalan di TPS bukan semau dia, dan mungkin setelah dari TPS 8 baru pelaku Oktavianus melakukan pencoblosan yang ke dua di TPS 10 Wowara,” tambah mereka.

Pelanggaran pemilu yang terjadi di Desa Waimangura, Kabupaten Sumba Barat Daya pada TPS 8 dan 10 dari hasil penelusuran Panwas Kecamatan dengan barang bukti yang ada, maka kuat dugaan pelanggaran tersebut mengarah pada perbuatan pidana.

Karena itu, Pengawas Pemilu lapangan melimpahkan temuan tersebut ke Panwaslu Kecamatan Wewewa Barat. Selanjutnya Panwaslu Kecamatan melimpahkan berkas temuan ke Bawaslu Kabupaten Sumba Barat Daya untuk ditindaklanjuti.

Kepada awak media, Ketua Bawaslu Kabupaten Sumba Barat Daya, Niko Kaleka membenarkan ada laporan yang masuk dari Panwaslu Kecamatan Wewewa Barat. Niko mengaku, Bawaslu sudah bekerja aktif dengan memanggil terlapor untuk memberikan klarifikasi atas temuan itu.

“Kasus itu masih dalam proses. Bawaslu sudah memanggil terlapor untuk memberikan klarifikasi, dan pada tanggal 26 April 2019 Bawaslu didampingi oleh Penyidik Kepolisian dari unsur Sentra Gakkumdu telah memeriksa terlapor,” ungkap Niko.

Niko Kaleka menjelaskan, dari hasil klarifikasi yang dilakukan, terlapor melakukan perbuatan melakukan pencoblosan dua kali di TPS yang berbeda. Namun, lanjutnya dirinya belum mengambil kesimpulan terkait temuan pelanggaran itu.

“Dia mengakui. Namun saya belum bisa mengambil kesimpulan karena belum mendengar pendapat dari pihak Kepolisian, Kejaksaan dan Bawaslu sendiri,” katanya.

Terlapor sendiri Oktavianus Oba Nata ketika dihubungi awak media, (8/5/2019) Pukul 15.45 Wita lewat telepon seluler tidak menjawab pertanyaan wartawan, namun dirinya berpesan nanti saya hubungi ulang karena masih di luar rumah.

“Nanti saya hubungi ulang ya, saya masih di luar rumah sekarang, lagi di kampung,” katanya sembari memutus pembicaraan. (R2)

Advertisement
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

UTAMA

TNI-POLRI Siap Amankan Kunker Presiden di Belu

Published

on

Apel gelar pasukan pengamanan kunker Presiden di lapangan Simpang Lima Atambua, Minggu, (19/5) sore.

Atambua, penatimor.com – Personel TNI-POLRI dan unsur pendukung pengamanan lainnya melaksanakan apel gelar pasukan dalam rangka kesiapan pengamanan VVIP kunjungan kerja (Kunker) Presiden RI Joko Widodo beserta rombongan di wilayah Kabupaten Belu, yang digelar di lapangan Simpang Lima Atambua, Minggu, (19/5) sore.

Apel gelar pasukan dipimpin oleh Danrem 161/WS Brigjen TNI Syaiful Rahman, S. Sos dan dihadiri oleh Karoops Polda NTT Kombes Pol Drs. Rudi Kristantyo, Kasiops Korem 161/WS Kolonel Inf. Pakpahan dan Kapolres Belu AKBP Christian Tobing, S.I.K., M.Si serta para pejabat lingkup Polri maupun TNI.

Dalam amanat Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto yang dibacakan oleh Danrem 161/WS Brigjen TNI Syaiful Rahman, S. Sos., menyampaikan bahwa, apel gelar pasukan sangat perlu dilaksanakan untuk mengecek sejauh mana tingkat kesiapan pasukan pengamanan baik perorangan maupun hubungan satuan serta pemahaman tentang langkah dan tindakan sesuai dengan protap pengamanan VVIP yang berlaku.

“Manfaat apel gelar pasukan ini sebagai sarana komunikasi dan koordinasi antar unsur pengamanan utamanya untuk menjamain kelancaran pelaksanaan tugas serta untuk menghindari adanya kesalahan prosedur pengamanan di lapangan,” ucap Pangdam dalam sambutannya.

Dikatakannya, Kodam IX/Udayana selaku komando operasi pengamanan VVIP wilayah BALI-NUSRA bersama-sama Polda NTT, Pemda NTT dan unsur pendukung lainnya selalu bersinergi untuk mencapai tujuan dan sasaran pengamanan secara maksimal.

“Untuk itu kejelasan tugas, tanggung jawab dan rantai komando harus dipahami dan menjadi pedoman agar pelaksanaan tugas menjadi efektif dan efisien dalam mencapai tujuan dan sasaran pengamaan,” katanya.

Lanjutnya, kepada seluruh personel Satgas Pam VVIP, Pangdam XI/Udayana memberikan beberapa penekanan untuk dipedomani dan dilaksanakan sehingga pelaksanaan pengamanan nantinya dapat berjalan sesuai yang diharapkan, diantaranya, pahami dan kuasai protap pengamanan VVIP, pegang teguh disiplin dengan memahami rantai komando yang efektif dan efisien, tingkatkan kepekaan dan jangan lengah terhadap situasi yang berkembangan, jangan ragu dalam bertindak dan tingkatkan koordinasi secara optimal, secara cermat dan ikuti perkembangan situasi secara terus menerus serta laporkan sesuai dengan rantai komando.

“Semua penekanan yang saya sampaikan ini agar dipahami, dipedomani dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh personel Satgas Pam VVIP, sehingga kegiatan kunjungan kerja Presiden RI beserta rombongan dapat berjalan dengan aman, tertib dan lancar,” harapnya.

“Tugas ini merupakan tugas yang mulia yang dibebankan kepada kita, oleh karena itu, tidak ada jalan lain, kita harus mewujudkan keberhasilan pengaman ini, tidak ada alternatif lain bahwa kita harus menjaga keamanan seluruh wilayah NTT ini, khususnya di Kabupaten Belu terutama dalam kunjungan kerja Presiden RI kali ini,” pungkasnya. (R5)

Continue Reading

UTAMA

Segera Rotasi Pejabat, Wali Kota: Ini Mutasi Terbanyak

Published

on

Jefri Riwu Kore (NET)

Kupang, penatimor.com – Ratusan pejabat di lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang akan dimutasi, sekaligus pengisian jabatan pejabat pimpinan tinggi pratama (eselon II) serta pejabat eselon III atau setingkat Sekretaris Dinas dan Kepala Bidang (Kabid) yang masih lowong.

“Direncanakan mutasi akan dilakukan hari Senin, namun tanggalnya belum dipastikan,” kata Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore, saat diwawancarai di kantor DPRD Kota Kupang, belum lama ini.

Menurut Wali Kota, saat ini masih dalam proses, karena mutasi harus dilakukan sesuai dengan jabatan dan kepangkatan masing-masing.

Hal ini agar jangan sampai menyalahi aturan yang berlaku. Prinsipnya adalah penataan birokrasi harus dilakukan dalam waktu dekat ini.

“Kami masih harus membahasnya secara baik, karena ini banyak orang, mungkin merupakan mutasi terbanyak yang pernah ada, karena mutasi sampai di jabatan di kelurahan, kecamatan, puskesmas dan lainnya,” ungkapnya.

Adapun jabatan yang akan mutasi yakni 8 jabatan eselon II setingkat kepala Dinas (Kadis) yang sementara berproses di Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) dan akan diusulkan ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN).

Selain jabatan Kadis, proses mutasi dan pengisian jabatan juga dilakukan untuk enam jabatan Sekretaris Dinas, 14 jabatan Kabid, 32 jabatan Kasie.

Sementara 45 jabatan lowong lainnya yakni Sekretaris Lurah, Kepala Seksi pada kantor camat dan kelurahan.

“Ini merupakan mutasi sampai kepala seksi di tingkat kelurahan, berarti sekitar 300-an orang. Mutasi besar-besaran, sehingga kami harus persiapkan secara baik. Intinya dalam waktu dekat pasti dilakukan mutasi,” kata Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kota Kupang, Ade Manafe.

Tes kompetensi untuk jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) definitif dilakukan secepatnya guna pengisian jabatan yang selama ini lowong dan dijabat oleh Penjabat Sementara.

“Jadi untuk seleksi pengisian jabatan lowong, nanti akan digabungkan waktu pelaksanaannya dengan seleksi eselon II, agar pelantikan juga bisa dilakukan dalam waktu dekat,” terang Ade Manafe. (R1)

Continue Reading

UTAMA

Prostitusi Karang Dempel Masih Eksis

Published

on

Tim Pansus DPRD Kota Kupang mengunjungi lokasi Karang Dempel Alak, Kamis (15/5).

Kupang, penatimor.com – Pemulangan pekerja seks komersial (PSK) Karang Dempel ke daerah asalnya hingga saat ini belum dilakukan pemerintah.

Walau lokalisasi terbesar di Kota Kupang itu secara resmi telah ditutup Pemkot Kupang pada 1 Januari 2019, namun praktik prostitusi masih terus berlangsung.

Hal ini menjadi temuan Pansus DPRD Kota Kupang saat melakukan uji petik, Rabu (15/5).

Ketua Pansus Adrianus Talli menyayangkan kondisi tersebut. Dia bahkan menyalahkan Pemkot Kupang karena melakukan penutupan KD tanpa perencanaan yang matang.

Pasalnya, pasca penutupan KD, para PSK ditelantarkan tanpa jaminan hidup dari pemerintah, sehingga para PSK terpaksa kembali melakoni praktik prostitusi untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari.

“Hal ini akan menjadi rekomendasi pansus agar segera diselesaikan dan dicarikan solusinya,” kata Adrianus.

Menurutnya, sebelum penutupan lokalisasi tersebut, pemerintah seharusnya sudah memperhitungkan berbagai hal, termasuk kebutuhan para PSK, mengingat sebagian besar dari mereka bukan warga asli NTT, dan tempat yang mereka diami merupakan rumah sewaan yang harus dibayar setiap bulannya.

Namun yang terjadi, lanjut Adrianus Talli, pemerintah langsung menutup lokalisasi tersebut tanpa memperhitungkan nasib para PSK, sehingga mereka terpaksa melakukan praktik transaksi seks untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari.

“Bagaimana mereka dilarang untuk menerima tamu, sementara mereka mau makan dan membayar kontrak tidak punya biaya, dan ini terjadi sudah berbulan-bulan. Jadi kita tidak bisa salahkan PSK jika mereka masih bekerja, karena mereka juga butuh makan dan minum,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan anggota Pansus DPRD Kota Kupang Padron Paulus. Menurut dia, penutupan lokalisasi Karang Dempel dilakukan pemerintah tanpa perencanaan yang baik, sehingga nasib para eks PSK terkatung-katung menunggu proses pemulangan, sehingga mereka terpaksa menerima tamu lagi untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari.

Untuk itu, Padron Paulus berharap pemerintah segera memberikan bantuan kepada para PSK agar mereka tidak lagi melayani tamu untuk memenuhi kehidupan mereka.

“Kita tidak bisa langsung salahkan PSK bahwa mereka melanggar aturan yang telah dikeluarkan, dengan masih menerima tamu, sementara mereka harus membayar kontrakan dan lainnya. Mau ambil uang dari mana, jika belum memiliki kepastian untuk pemulangan, jangan langsung mengambil langkah penutupan,” katanya.

Menurut Padron, pemerintah harus bertanggung jawab, karena ini merupakan manusia yang perlu makan dan minun.

Selain itu, Mery Salouw, mengatakan, banyak PSK yang sudah tinggal puluhan tahun di Kota Kupang dan mengantongi KTP-e Kota Kupang.

“Bagaimana dengan masalah ini, jangan sampai hak warga negara dibiarkan begitu saja. Pikirkanlah solusi yang terbaik dengan perencanaan yang matang, jangan hanya mengambil keputusan lalu membiarkan para PSK ini tidak makan dan diusir dari kontrakan karena tidak membayar. Ini harus menjadi perhatian serius, harus juga terus dilakukan koordinasi dengan pemerintah pusat, untuk waktu pemulangan secara pasti,” ungkapnya.

Pansus DPRD Kota Kupang ini dipimpin oleh Adrianus Talli, dengan anggota Yapi Pingak, Setyo Ratuarat, Mery Salouw, Theodora Ewalde Taek, Moses Mandala, Padron Paulus, Juven Tukung, Jhon G. Seran dan Nitanel Pandie. (R1)

Continue Reading




Loading...

Trending

error: Content is protected !!