Connect with us

HUKRIM

Korupsi Dana Sail Komodo, Gabriel Kusno Divonis 1,5 Tahun Penjara  

Published

on

Gabriel P. Kusno tampak berdiri mendengar amar putusan majelis hakim di ruang sidang Pengadilan Tipikor Kupang, Kamis (11/4).

Kupang, penatimor.com – Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang dalam amar putusannya menjatuhkan hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan atau 18 bulan terhadap Gabriel P. Kusno.

Gabriel P. Kusno merupakan terdakwa perkara dugaan korupsi dana penyelenggaraan Sail Komodo Tahun 2013.

Putusan hakim sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Manggarai Barat yang dibacakan dalam persidangan sebelumnya.

Sidang putusan yang diketuai Prasetio Utomo didampingi anggota Ali Muhtarom dan Gustaf Marpaung tersebut berlangsung pada Kamis (11/4).

Terdakwa Gabriel P. Kusno didampingi penasihat hukumnya George Nakmofa. Turut hadir JPU Kejari Manggarai Barat Ari Prabowo.

Menurut majelis hakim, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 3 Undang-Undang (UU) Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sehingga patut untuk dihukum.

Majelis hakim juga tidak menemukan alasan pemaaf yang dapat membebaskan terdakwa dari hukuman pidana penjara.

Karenanya, terdakwa patut untuk dihukum atas perbuatannya dalam pelaksanaan kegiatan Sail Komodo tahun 2013 yang mengakibatkan kerugian negara dari sembilan item pekerjaan yang dikerjakan oleh terdakwa.

Majelis hakim menguraikan, hal-hal yang memberatkan terdakwa adalah karena perbuatan terdakwa tidak bersesuaian dengan upaya pemerintah secara nasional yang bertekad untuk melakukan pemberantasan terhadap tindak pidana korupsi.

Sedangkan, hal-hal yang meringankan adalah terdakwa belum pernah dihukum, bersikap sopan dalam persidangan, merupakan tulang punggung keluarga, dan sudah mengembalikan kerugian keuangan negara.

Selain menghukum terdakwa dengan pidana kurungan selama 1 tahun 6 bulan, terdakwa juga divonis dengan hukuman tambahan berupa pidana denda sebesar Rp 50 juta, dengan ketentuan apabila tidak dibayarkan maka diganti dengan pidana kurungan selama 1 bulan.

Terdakwa juga divonis membayar uang pengganti sesuai dengan besaran kerugian negara yang diakibatkan dari perbuatan terdakwa yakni sebesar Rp 154.954.226.

Namun untuk uang pengganti ini, majelis hakim memutuskan untuk mengkompensasikannya dengan uang yang dititipkan terdakwa kepada JPU Kejari Manggarai Barat sebelumnya, yang besarannya sama dengan nilai kerugian negara.

Terdakwa juga dihukum untuk membayar biaya perkara ini sebesar Rp 10.000.

Terhadap putusan majelis hakim ini, baik terdakwa Gabriel P. Kusno yang didampingi penasihat hukumnya George Nakmofa maupun JPU Kejari Manggarai Barat Ari Wibowo, sama-sama menyatakan pikir-pikir untuk mengambil langkah hukum selanjutnya, apakah mengajukan banding atau menerima putusan majelis hakim ini.

“Karena itu, kedua pihak memiliki waktu selama tujuh hari sejak amar putusan ini dibacakan untuk menyatakan menerima atau mengajukan banding,” tutup Prasetio Utomo. (R1)

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Lidik Kasus Tanah Jonas Salean, Jaksa Periksa 3 Notaris

Published

on

Mantan Wali Kota Kupang Jonas Salean saat mendatangi kantor Kejati NTT, pekan lalu.

Kupang, penatimor.com – Tim penyelidik Bidang Pidsus Kejati NTT terus mengembangkan penyelidikan perkara dugaan korupsi terkait lahan milik mantan Wali Kota Kupang Jonas Salean.

Dalam sepekan terakhir, tim penyidik terus melakukan pemeriksaan saksi.

Saksi yang diperiksa termasuk tiga orang notaris di Kota Kupang, masing-masing Zantje Tomasowa, Imanuel Mali dan Hengky Famdale.

Ketiga notaris ini diperiksa terpisah. Zantje diperiksa terlebih dahulu, kemudian disusul Imanuel Mali dan Hengky Famdale.

Zantje saat itu diperiksa dari pukul 15.00-18.00, selaku notaris yang membuat akta jual beli dengan Mourest Patty.

Saat ditanyakan, apakah ada maksud lain di antara Jonas Salean dan Mourest Patty dalam pembuatan akta jual beli tersebut, Zantje mengaku tidak tahu.

Zantje saat diwawancarai usai pemeriksaan, kepada wartawan, mengaku diperiksa terkait perkara dugaan penyerobotan tanah milik mantan Wali Kota Kupang.

“Saya dipanggil penyidik dan sudah berikan keterangan,” kata Zantje sambil berlalu meninggalkan gedung kantor Kejati NTT. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Jaksa Periksa Lee, Suami Linda Liudianto

Published

on

Amos Cadu Hina, SH. (kiri) bersama Lee di kantor Kejati NTT, Senin (24/6).

Kupang, penatimor.com – Penyidik Kejati NTT memeriksa Lee, suami tersangka Linda Liudianto yang terjerat perkara dugaan korupsi proyek NTT Fair.

Lee memenuhi panggilan penyidik dengan mendatangi kantor Kejati NTT di Jl. Adhyaksa No. 1, pukul 09.00.

Dia didampingi kuasa hukum istrinya, Amos Cadu Hina, SH.

Lee saat diwawancarai mengatakan dirinya siap memberikan keterangan ke penyidik.

“Ada panggilan jadi saya datang memberikan keterangan,” kata Lee.

Sementara, Amos Cadu Hina, menambahkan, suami kliennya tersebut sama sekali tidak terlibat dalam proyek NTT Fair.

“Dia hanya dampingi istri nya saat temui pak Hadmen waktu itu,” kata Amos.

Terpantau, penyidik Kejati NTT hari ini kembali memeriksa tambahan tiga orang tersangka perkara dugaan korupsi NTT Fair, masing-masing Yuli Afra, Dona Toh dan Ferry Jonson Pandie. Mereka diperiksa mulai pukul 13.00. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Heboh di Amarasi Timur, Menantu Tewas di Tangan Mertua

Published

on

Ilustrasi penikaman (NET)

Kupang, penatimor.com – Warga Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang dibuat geger dengan kasus dugaan pembunuhan.

Kasus ini terjadi pada Minggu (23/6), pukul 13.45, dan dilaporkan ke Polsek Amarasi Timur dengan Laporan Polisi Nomor: LP/02/VI/2019/Sek Amtim pukul 15.10.

Korban nya adalah Gunawan Kaesnube (25), warga RT 03/RW 02, Desa Enoraen.

Penganiayaan ini terjadi di halaman rumah milik Meynar Aruan, Desa Enoraen, dengan pelaku Adiyanto Takain (46), warga RT 06/RW 03, Desa Enoraen.

Adapun para saksi dalam kasus ini, yang juga warga setempat, masing-masing Ronaldo Dairo, Fance Junedi Ruku (21) dan Aplonius Runesi (27).

Informasi yang dihimpun wartawan, menyebutkan, kasus ini berawal pada saat pelaku menyimpan dendam terhadap korban.

Korban adalah anak menantu dari pelaku, dikarenakan korban menelantarkan anak dan cucu dari pelaku di Kupang.

Sehingga pada saat korban hadir pada acara pesta di Desa Enoraen, pelaku melihat korban kemudian langsung mendekati korban dan menusuk korban menggunakan sebilah pisau tepat pada dada korban sebanyak satu kali.

Akibat dari penusukan tersebut korban langsung terjatuh dan meninggal dunia.

Aparat kepolisian Polsek Kupang Timur yang menerima laporan masyarakat, langsung melakukan tindakan kepolisian, menerima laporan, membuat LP, mendatangi TKP, memasang police line pada TKP dan mengevakuasi korban.

Korban pada saat sekarang sementara dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Kupang guna dilaksanakan autopsi. (wil)

Continue Reading




Loading...

Trending

error: Content is protected !!