Connect with us

HUKRIM

Diduga Aniaya Istri hingga Tewas, Berkas Erik Mella Dilimpah ke Jaksa

Published

on

Ilustrasi KDRT (NET)

Kupang, penatimor.com – Berkas perkara dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap korban Linda Brand hingga meninggal dunia dengan tersangka Erik Benediktus Mella yang adalah suami korban sendiri, telah dilimpahkan untuk tahap pertama oleh penyidik Unit Pidum Satreskrim Polres Kupang Kota kepada jaksa peneliti di Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kupang.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH., kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (9/4), mengatakan, penyidik telah melakukan pelimpahan tahap satu ke Kejari Kota Kupang pada Jumat (5/4).

Berkas perkara tersebut dilimpahkan ke jaksa untuk diteliti lebih lanjut kelengkapannya.

“Jadi berkas tersebut baru kita limpah tahap satu dan jaksa akan teliti. Jika belum lengkap jaksa pasti akan berikan petunjuk untuk dilengkapi sampai benar-benar lengkap dan ditetapkan P-21,” jelas mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu.

Sebelumnya, Erik Mella telah menjalani pemeriksaan pada Sabtu (23/3) dari pukul 11.00-18.00. Dia tidak ditahan penyidik usai menjalani pemeriksaan tersebut.

Tidak ditahannya tersangka ini menimbulkan reaksi protes dari pihak keluarga korban Linda Brand.

Ricky Brand mewakili keluarga korban yang juga sebagai kuasa hukum korban, kepada wartawan, belum lama ini, menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak kepolisian Polres Kupang Kota yang telah mengungkapkan kembali kasus yang terjadi sejak 6 tahun silam itu.

“Kami keluarga sangat mengapresiasi langkah pihak kepolisian yang mengangkat kembali kasus tersebut dan sudah menetapkan tersangkanya. Kami keluarga sangat membutuhkan keadilan karena adik kami meninggal secara tidak wajar. Hal itu telah membuka kembali luka rasa keadilan keluarga korban selama 6 tahun yang baru mulai mengering dan menimbulkan skeptisme bahwa promoter akan terwujud dalam penanganan kasus ini,” ungkap Ricky.

Namun menurut Ricky, sangat disayangkan tersangka tidak ditahan oleh penyidik dengan alasan kemanusiaan dan tersangka merupakan tulang punggung dari pada keluarga.

Padahal dugaan perbuatan tersangka yang mengakibatkan Linda Bran meninggal dunia tidak pernah memikirkan akan nilai kemanusiaan. Maka dirinya sebagai keluarga dan kuasa hukum dari korban secara tegas tidak menerima.

“Alasan tidak melakukan penahanan terhadap tersangka tidak dapat saya terima secara hukum, karena perkara ini adalah tindak pidana KDRT yg menyebabkan tercabutnya nyawa orang yang diancam dengan pidana penjara 15 tahun penjara,” ujarnya.

Ricky menilai diskresi kepolisian tidak menahan tersangka dengan menggunakan alasan tersangka sebagai tulang punggung keluarga akan menjadi preseden buruk ke depan, karena tersangka lain dalam tindak pidana KDRT yang mengakibatkan kematian korban ditahan, sementara tersangka kasus ini tidak ditahan.

“Ini secara pengecut akan berlindung di balik punggung anak-anaknya dengan alasan bahwa tersangka adalah tulang punggung keluarga dan anak-anaknya yang masih kecil membutuhkan kehadiran si pembunuh di samping mereka,” ujarnya.

Sesungguhnya, lanjut Erick, anak-anak adalah juga merupakan korban dari perbuatan pelaku, karena mereka tidak saja kehilangan ibu akibat perbuatan pelaku, tetapi juga harus menjalani hidup dengan luka batin akibat selalu menyaksikan kekerasan-kekerasan yang dialami oleh ibu mereka hingga meregang nyawa di depan mata anak-anak itu.

Lanjutnya, perbuatan pelaku dalam kasus tersebut sudah pasti berdampak keras pada kesehatan kejiwaan anak-anak, dan bukan tidak mungkin perilaku sang ayah akan ditiru olehnya ketika kelak mereka berumah tangga.

Ricky mengatakan, ada hal lain yang perlu diungkap dalam kasus ini oleh penyidik adalah penyidik perlu ungkapkan apa motif tersangka melakukan tindakan kekerasan secara berlanjut terhadap korban yang berujung pada kematian.

Padahal pernah ada SMS kepada almarhumah dari seorang perempuan bernama Merry yang menyatakan bahwa posisi almarhumah akan segera diganti oleh Merry.

“Isi SMS itu terbukti tidak lama kemudian. SMS tersebut pernah saya tunjukkan kepada penyidik,” terangnya.

Ricky Brand juga menyampaikan bahwa pelaku dalam kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal dunia ini tidak saja dilakukan oleh pelaku, namun ada beberapa orang juga terlibat dalam kasus tersebut.

“Saya berpendapat bahwa pelaku dalam tindak pidana ini tidak hanya pelaku utama, melainkan masih ada pelaku lain (kurang lebih 4 orang) yang dapat diklasifikasikan sebagai pelaku pembantu,” jelasnya.

Sementara, Yohanis Rihi, selaku kuasa hukum tersangka, saat dikonfirmasi, mengatakan, harus dipahami bahwa penahanan terhadap seorang tersangka itu tidak wajib dan ini menjadi pembelajaran hukum kepada masyarakat bahwa seorang yang tersangkut kasus sesuai dengan KUHP, dapat ditahan apabila tiga hal tidak terpenuhi oleh tersangka.

Tiga hal tersebut yakni tersangka tersebut diduga dapat melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan mengulangi tindak pidana.
“Jika tiga hal tersebut dinilai oleh penyidik tidak ada pada diri tersangka maka tidak ada alasan untuk menahan tersangka. Pengertian KUHP itu jelas, dapat ditahan,” tegasnya.

Yohanis menambahkan, jika tersangka berniat untuk melarikan diri, maka sudah dilakukan sejak dulu. Namun tersangka masih memikirkan anak-anaknya, karena istri dari tersangka sudah meninggal dunia dan tersangka sudah menjadi ibu dan ayah bagi anak-anaknya.

Terhadap kasus tersebut, apakah cukup bukti atau tidak, Yohanis mengaku pihaknya tetap koperatif dan menghargai proses hukum tersebut, sehingga pihaknya mendatangi penyidik untuk mengikuti proses pemeriksaan.

“Kita tetap koperatif dalam mengikuti tahapan proses hukum yang sedang berjalan,” tutup advokat yang akrab disapa John Rihi itu. (R1)

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Lidik Kasus Tanah Jonas Salean, Jaksa Periksa 3 Notaris

Published

on

Mantan Wali Kota Kupang Jonas Salean saat mendatangi kantor Kejati NTT, pekan lalu.

Kupang, penatimor.com – Tim penyelidik Bidang Pidsus Kejati NTT terus mengembangkan penyelidikan perkara dugaan korupsi terkait lahan milik mantan Wali Kota Kupang Jonas Salean.

Dalam sepekan terakhir, tim penyidik terus melakukan pemeriksaan saksi.

Saksi yang diperiksa termasuk tiga orang notaris di Kota Kupang, masing-masing Zantje Tomasowa, Imanuel Mali dan Hengky Famdale.

Ketiga notaris ini diperiksa terpisah. Zantje diperiksa terlebih dahulu, kemudian disusul Imanuel Mali dan Hengky Famdale.

Zantje saat itu diperiksa dari pukul 15.00-18.00, selaku notaris yang membuat akta jual beli dengan Mourest Patty.

Saat ditanyakan, apakah ada maksud lain di antara Jonas Salean dan Mourest Patty dalam pembuatan akta jual beli tersebut, Zantje mengaku tidak tahu.

Zantje saat diwawancarai usai pemeriksaan, kepada wartawan, mengaku diperiksa terkait perkara dugaan penyerobotan tanah milik mantan Wali Kota Kupang.

“Saya dipanggil penyidik dan sudah berikan keterangan,” kata Zantje sambil berlalu meninggalkan gedung kantor Kejati NTT. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Jaksa Periksa Lee, Suami Linda Liudianto

Published

on

Amos Cadu Hina, SH. (kiri) bersama Lee di kantor Kejati NTT, Senin (24/6).

Kupang, penatimor.com – Penyidik Kejati NTT memeriksa Lee, suami tersangka Linda Liudianto yang terjerat perkara dugaan korupsi proyek NTT Fair.

Lee memenuhi panggilan penyidik dengan mendatangi kantor Kejati NTT di Jl. Adhyaksa No. 1, pukul 09.00.

Dia didampingi kuasa hukum istrinya, Amos Cadu Hina, SH.

Lee saat diwawancarai mengatakan dirinya siap memberikan keterangan ke penyidik.

“Ada panggilan jadi saya datang memberikan keterangan,” kata Lee.

Sementara, Amos Cadu Hina, menambahkan, suami kliennya tersebut sama sekali tidak terlibat dalam proyek NTT Fair.

“Dia hanya dampingi istri nya saat temui pak Hadmen waktu itu,” kata Amos.

Terpantau, penyidik Kejati NTT hari ini kembali memeriksa tambahan tiga orang tersangka perkara dugaan korupsi NTT Fair, masing-masing Yuli Afra, Dona Toh dan Ferry Jonson Pandie. Mereka diperiksa mulai pukul 13.00. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Heboh di Amarasi Timur, Menantu Tewas di Tangan Mertua

Published

on

Ilustrasi penikaman (NET)

Kupang, penatimor.com – Warga Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang dibuat geger dengan kasus dugaan pembunuhan.

Kasus ini terjadi pada Minggu (23/6), pukul 13.45, dan dilaporkan ke Polsek Amarasi Timur dengan Laporan Polisi Nomor: LP/02/VI/2019/Sek Amtim pukul 15.10.

Korban nya adalah Gunawan Kaesnube (25), warga RT 03/RW 02, Desa Enoraen.

Penganiayaan ini terjadi di halaman rumah milik Meynar Aruan, Desa Enoraen, dengan pelaku Adiyanto Takain (46), warga RT 06/RW 03, Desa Enoraen.

Adapun para saksi dalam kasus ini, yang juga warga setempat, masing-masing Ronaldo Dairo, Fance Junedi Ruku (21) dan Aplonius Runesi (27).

Informasi yang dihimpun wartawan, menyebutkan, kasus ini berawal pada saat pelaku menyimpan dendam terhadap korban.

Korban adalah anak menantu dari pelaku, dikarenakan korban menelantarkan anak dan cucu dari pelaku di Kupang.

Sehingga pada saat korban hadir pada acara pesta di Desa Enoraen, pelaku melihat korban kemudian langsung mendekati korban dan menusuk korban menggunakan sebilah pisau tepat pada dada korban sebanyak satu kali.

Akibat dari penusukan tersebut korban langsung terjatuh dan meninggal dunia.

Aparat kepolisian Polsek Kupang Timur yang menerima laporan masyarakat, langsung melakukan tindakan kepolisian, menerima laporan, membuat LP, mendatangi TKP, memasang police line pada TKP dan mengevakuasi korban.

Korban pada saat sekarang sementara dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Kupang guna dilaksanakan autopsi. (wil)

Continue Reading




Loading...

Trending

error: Content is protected !!