Connect with us

HUKRIM

Putusan Kasasi Korupsi Tambak Garam Sabu, Johan Sahertian Divonis 7 Tahun Penjara

Published

on

Hendrik Tiip

Kupang, penatimor.com – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati NTT telah menerima petikan putusan Kasasi Mahkamah Agung (MA) RI atas terdakwa Johan Sahertian (47), dengan perkara No. 71 K/Pid.Sus/2019.

Dalam putusan Kasasi, majelis hakim mengabulkan permohonan Kasasi dari Penuntut Umum pada Kejari Sabu Raijua.

Sekaligus membatalkan putusan Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Tinggi Kupang Nomor: 15/Pid.Sus-TPK/2018/PT.Kpg tanggal 1 Oktober 2018, yang memperbaiki putusan Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Kupang Nomor: 10/Pid.Sus-TPK/2018/PN Kpg tanggal 28 Juli 2018.

Putusan Kasasi dengan Ketua Majelis Dr. Salman Luthan, S.H.,M.H., dan Panitera Pengganti Nur Sari Baktiana, S.H.,M.H., menyatakan terdakwa Johan Sahertian terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama.

Johan juga divonis dengan pidana penjara selama 7 tahun dan pidana denda Rp 200 juta dengan ketentuan apabila pidana denda tersebut tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan.

Sesuai amar putusan Kasasi, terdakwa Johan Sahertian juga dijatuhi pidana tambahan untuk membayar uang pengganti sebesar Rp 1.328.335.683.

Jika uang pengganti tersebut tidak dibayar paling lama satu bulan setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

Dan jika terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti tersebut, maka dipidana dengan pidana penjara selama 3 tahun.

Majelis hakim Kasasi juga menetapkan masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

Vonis hukuman pada putusan Kasasi lebih tinggi dari Putusan Banding yang menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Johan Sahertian selama 4 tahun dan denda Rp 200 juta subsidair 2 bulan kurungan.

Dalam putusan banding, terdakwa juga dihukum membayar uang pengganti keuangan negara sebesar Rp 1.328.335.683.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati NTT Hendrik Tiip yang diwawancarai, mengatakan, pihaknya segera melakukan eksekusi terhadap putusan Kasasi tersebut.

“Tadi kami baru terima putusannya. Kami akan laporkan ke pak Kajari Sabu Raijua dulu untuk dapatkan perintah pelaksanaan eksekusi,” singkat Hendrik.

Sebelumnya, JPU Kejati NTT menyatakan banding terhadap putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Kupang Nomor: 10/Pid.Sus-TPK/2018/PN.Kpg, tanggal 26 Juli 2018 dengan terdakwa Johan Sahertian.

Upaya banding tersebut dibuktikan dengan akta pernyataan banding Nomor:12/Akta. Pid.Sus-TPK/2018/PN.Kpg yang dibuat pada Rabu (1/8) oleh JPU S. Hendrik Tiip, SH., dan diketahui Panitera Pengadilan Tipikor Kupang Drs. H.L.M. Sudisman,SH., MH.

Sementara itu, majelis hakim di Pengadilan Tipikor Kupang dalam amar putusannya memvonis terdakwa Johan Sahertian dengan pidana penjara selama 4 tahun.

Johan selaku terdakwa perkara dugaan tindak pidana korupsi proyek pembangunan tambak garam di Kabupaten Sarai.

Selain vonis penjara, Johan juga dihukum dengan pidana denda senilai Rp 200 juta subsidair 2 bulan kurungan.

Terdakwa juga dijatuhi hukuman membayar uang pengganti kerugian negara senilai Rp 1,3 miliar subsidair 1 tahun penjara.

Ketua Majelis Hakim Jimi Tanjung Utama, didampingi hakim anggota Ibnu Kholik dan Ahlim Muhtarom, saat membacakan putusan, menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dan melanggar Pasal 2 Undang-Undang Tipikor.

Hukuman terhadap terdakwa Johan Sahertian lebih ringan dibanding tuntutan JPU.

Selaku pelaksana pekerjaan tambak garam Paket Sabu 2, Johan dituntut dengan pidana penjara selama 7 tahun 6 bulan atau 7,5 tahun.

Tidak hanya itu, Direktur PT Pedro Jaya Abadi itu juga dituntut dengan pidana denda senilai Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan, termasuk membayar uang pengganti (UP) kerugian negara senilai Rp 2 miliar lebih.

John Sahertian selaku Direktur PT Pedro Jaya Abadi selaku rekanan yang mengerjakan paket proyek Sabu Barat II seluas 14 hektare dengan pagu anggaran senilai Rp 7 miliar.

Namun, kontrak kerja hanya sebesar Rp 6,997 miliar. Sama dengan yang dikerjakan oleh PT Arison Karya Sejahtera, PT Pedro Jaya Abadi juga tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan tergaet yang sudah ditetapkan dalam kontrak kerja. Sementara pembayaran sudah dilakukan sebesar Rp 77,07 persen. (R1)

Advertisement
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Karimun yang Dikemudikan Dokter Terjungkal di Jalur 40

Published

on

Beberapa warga sekitar lokasi lakalantas berupaya mengevakuasi pengemudi mobil Karimun Estilo yang terjungkal di Jalur 40, Sabtu (18/5) pagi.

Kupang, penatimor.com – Kecelakaan lalu lintas (lakalantas) terjadi lagi di Kota Kupang, Sabtu (18/5), sekira pukul 05.30.

Sebuah mobil Suzuki Karimun Estilo warga pink dengan nomor polisi DH 3 VI mengalami lakalantas tunggal di Jalur 40, dekat Pura, Kelurahan Maulafa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Mobil nahas itu dikemudikan dr. Maria Devi Arianti (50), warga Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo.

Pengemudi yang adalah dokter umum di Kupang tersebut mengalami luka memar di kepala dan rasa sakit di dada.

Informasi yang dihimpun wartawan, kronologi kejadian itu berawal dari pengemudi bergerak dari arah BTN melewati Jalur 40 hendak ke gereja di Sikumana.

Saat tiba di tempat kejadian perkara, pengemudi hendak melambung sebuah sepeda motor yang bergerak di depannya.

Saat melambung, mobil keluar jalur dan terjungkal di jurang sedalam kurang lebih 10 meter.

Akibat kejadian tersebut mobil mengalami kerusakan material dan pengemudi mengalami luka ringan dan mendapat perawatan di Rumah Sakit (RS) Bartolomeus Kupang.

Kasat Lantas Polres Kupang Kota, Iptu Rocky Junasmi yang dikonfirmasi jurnalis, mengatakan, setelah menerima laporan masyarakat terkait kejadian lakalantas tersebut, pihaknya langsung mendatangi TKP.

“Kita lakukan olah TKP dan evakuasi korban dan kendaraannya,” kata Kasat Lantas. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Jaksa Ungkap Penyeludupan Motor Harley Davidson asal Singapura ke Atambua

Published

on

Ilustrasi sepeda motor Harley Davidson (NET)

Kupang, penatimor.com – Kejati NTT kini fokus menelurusi sindikat dalam kasus penyeludupan sepeda motor gede merk Harley Davidson dari Singapura ke Atambua, melalui Timor Leste.

Pemeriksaan saksi dalam seminggu terakhir intensif dilakukan penyidik Kejati.

Para saksi yang diperiksa termasuk pimpinan dan staf Kantor Bea Cukai Atambua.

Terpantau, dua saksi dari Kantor Bea Cukai Atambua memenuhi panggilan penyidik untuk diperiksa, kemarin.

Kedua saksi, Dedy Husni dan Maezun Najib, didampingi Kepala Kantor Bea Cukai Atambua Tribuana Wetangtera.

Kasi Penkum Kejati NTT Abdul Hakim yang dikonfirmasi wartawan, membenarkan pemeriksaan tersebut.

“Masih terus kita panggil saksi untuk didengar keterangan terkait kasus ini. Saat ini baru satu tersangka yang sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Atambua. Tersangka ini ada sopir tronton yang mengangkut barang-barang itu dari Timor Leste ke Atambua. Sementara pemilik barang di Surabaya sudah kita ketahui dan periksa,” kata Abdul.

Sementara, Pengadilan Negeri (PN) Atambua menggelar sidang perkara kasus bea cukai terkait dugaan penyeludupan motor gede Harley Davidson (HD) di perlintasan perbatasan Indonesia-Timor Leste, Senin (29/4).

Sidang beragenda pemeriksaan terdakwa yang dipimpin hakim AA Gede Susila Putra, SH.,M.Hum., tersebut berlangsung dari pukul 10.00-11.30.

Terdakwa Paulus Tanmenu (42), selalu sopir menjalani pemeriksaan kasus bea cukai sebagaimana Pasal 102 huruf D Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 tentang Kepabeanan.

Terdakwa dalam keterangan di persidangan, mengaku pada tanggal 19 September 2017, dirinya melakukan pengiriman barang dari Atambua ke Timor Leste berupa semen sebanyak 600 sak menggunakan 1 unit truck tronton warna hijau Nopol W-8709-XH dengan tujuan Toko Lucky Star di daerah Audian, Timor Leste.

Setelah sampai di Toko Lucky Star, barang dibongkar pada tanggal 20 September 2017.

Selanjutnya pada tanggal 21 September 2017, Frans Valdano alias Asun menelpon terdakwa Paulus mengatakan untuk bertemu orang di Toko Lucky Star daerah Audian-Timor Leste.

“Sesampainya di Toko Lucky Star, saya bertemu dengan 3 orang, yaitu 2 orang Timor Leste dan 1 orang Cina. Namun saya tidak tahu namanya. Selanjutnya pada saat bertemu mereka menanyakan kepada saya bahwa ini mobilnya pak Asun ya, lalu saya menjawab ya, kemudian mereka mengatakan bahwa mereka sudah menelpon pak Asun untuk muat barang mereka dari Dilli ke Atapupu,” urai terdakwa.

“Lalu sekitar pukul 11 siang saya bersama dengan mereka bertiga ke Aimutin untuk mengambil barang tersebut,” lanjut dia.

Setelah barang selesai diangkut, lanjut terdakwa, tidak ada dokumen yang diserahkan kepadanya.

Kemudian terdakwa mengaku menelepon Asun menanyakan mengenai dokumen perlintasan barang-barang tersebut.

“Lalu dijawab oleh Asun bahwa bawa saja barang-barang tersebut ke perbatasan karena sudah ada yang menunggu di perbatasan untuk mengurus dokumen dokumen perlintasan,” ungkap terdakwa.

Paulus Tanmenu melanjutkan, tanggal 21 September 2017 dia menuju ke Batu Gede.

Terdakwa bermalam di Batu Gede karena dokumen belum selesai. Hingga tanggal 22 September 2017 dokumen belum selesai sehingga dirinya masih bermalam di Batu Gede.

Selanjutnya, tanggal 23 September 2017, dokumen perlintasan selesai. Paspor terdakwa diminta dan dibawa oleh pengurus untuk mengurus perlintasan di Timor Leste dan di Motaain.

“Apabila ditanya petugas, saya disuruh menjawab isinya alat lisrik dengan tujuan Oecusse,” ungkap terdakwa.

Selama di pos perlintasan, terdakwa mengaku tidak turun dari truk karena sudah ada yang mengurus dokumen. Mobil langsung ditempel segel lalu berangkat. Dia tidak menandatangani dokumen apapun.

Setelah keluar dari PLBN Motaain, tronton menuju kolam susuk, gudangnya Asun. Sesampainya di gudang, terdakwa bersama-sama Soleman membuka segel. Kemudian mobil menuju ke Atapupu. Sesampai di Atapupu, barang dibongkar di belakang kantor Bea Cukai.

Sementara, JPU Danie, SH., mengatakan, terkait kasus ini, berdasarkan sidang selama ini, perbuatan terdakwa membuka segel di luar wilayah pabean sudah terbukti.

“Barang ini dalam dokumen perlintasan adalah barang transit. Seharusnya truk melintas sampai Winie dan segel dibuka oleh petugas bea cukai di Winie. Tetapi faktanya segel dibuka sendiri sebelum mencapai Winie tanpa pengawasan petugas bea cukai,” ungkap JPU.

Dia melanjutkan, perkembangan di lapangan, masyarakat bertanya-tanya, kenapa hanya sopir yang jadi korban.

Dan pemilik barang sampai dengan saat ini tidak dijadikan tersangka dan tidak diproses hukum.

“Pihak-pihak yang harusnya dimintai pertanggungjawaban menjadi DPO semua,” ungkap Danie.

Sekadar tahu, barang bukti dalam perkara ini adalah mobil tronton warna hijau dengan nomor polisi W-8709-XH, satu buah peti kemas 40” nomor DLCU4104775, 25 koli kotak kayu berisi spare part Harley Davidson, dan dokumen perlintasan. (R5)

Continue Reading

HUKRIM

Curi Motor Sitaan Satlantas Kupang, Hendrik Terancam 4 Tahun Penjara

Published

on

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH.

Kupang, penatimor.com – Tim Buru Sergap (Buser) Polres Kupang Kota berhasil menangkap Hendrik Litik (24) yang diduga mencuri barang bukti sepeda motor di kantor Satlantas Polres Kupang Kota, Senin (13/5).

Hendrik yang adalah warga Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa itu ditangkap di lokasi Taman Nostalgia saat sedang bersama pacarnya menikmati jajanan salome.

Dia kemudian diamankan ke Mapolres Kupang Kota untuk menjalani proses hukum selanjutnya.

Pelaku berhasil ditangkap setelah tim Buser melakukan pengejaran selama dua hari.

Sepeda motor merek Kawasaki KLX dengan nomor polisi DH 2621 HL yang dibawa kabur tersebut sebenarnya adalah milik pelaku.

Hanya saja kendaraan tersebut disita polantas sebagai barang bukti, ketika pelaku ditilang karena tidak memakai helm, serta tidak memiliki SIM dan STNK.

Pelaku ditilang polantas di Jl. W.Z. Yohanes, Kelurahan Oetete, dekat SMK Negeri 1 Kupang. Motornya lalu diamankan ke kantor Satlantas.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang dikonfirmasi di Mapolresta, membenarkan.

Menurut Bobby, setelah ditilang, pelaku diarahkan ke kantor Satlantas dengan membawa serta kelengkapan sepeda motornya.

Dan satu jam kemudian, pelaku mendatangi kantor Satlantas untuk melengkapi kendaraannya.

Pelaku rupanya membawa kunci duplikat, sehingga dia pun secara diam-diam menghidupkan motor tersebut dan kabur.

Aksi Hendrik Litik ini tidak diketahui polantas yang berada di kantor Satlantas tersebut.

Beberapa saat kemudian, barulah dicek polisi dan tidak lagi mendapati motor tersebut.

Melalui pengecekan rekaman CCTV, barulah diketahui dengan jelas bahwa Hendrik lah yang membawa kabur motor tersebut. Polantas pun membuat laporan kehilangan.

“Setelah menerima laporan, kami langsung melakukan pengejaran dan berhasil menangkap pelaku. Pelaku sudah menjalani pemeriksaan. Dia kami izinkan pulang tapi wajib lapor. Pelaku dijerat Pasal 231 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara,” jelas Kasat Bobby. (R3)

Continue Reading




Loading...

Trending

error: Content is protected !!