Connect with us

HUKRIM

Setelah 6 Tahun, Polresta Kupang Akhirnya Ungkap Kematian Linda Brand, Suaminya Tersangka

Published

on

Ilustrasi (NET)

Kupang, penatimor.com – Setelah berproses hukum sejak tahun 2013, penyidik Unit Pidum Satreskrim Polres Kupang Kota akhirnya menetapkan tersangka dalam kasus kematian Linda Brand.

Mengejutkan memang, karena tersangka nya adalah Eric Mella yang tak lain adalah suami korban sendiri.

Informasi yang dihimpun di Mapolres Kupang Kota menyebutkan, penetapan tersangka dilakukan penyidik pada pekan lalu.

Tersangka juga sesuai rencana telah dipanggil oleh penyidik Subnit 1 Unit Pidum untuk diperiksa pada hari ini, Sabtu (23/3).

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang dikonfirmasi wartawan, belum lama ini, membenarkan.

“Ya, kita sudah tetapkan suami korban sebagai tersangka,” singkat Kasat Bobby.

Sekadar tahu, kasus ini sudah sangat lama mangkrak di Polres Kupang Kota.

Sebelumnya, pihak keluarga korban, untuk kedua kalinya meminta penyidik Polda NTT untuk melakukan outopsi terhadap jenazah korban.

Outopsi kedua kali dilakukan di lokasi makam korban, TPU Liliba pada Jumat, 20 September 2013.

Outopsi dilakukan setelah dalam gelar perkara yang dilakukan penyidik Polda NTT, terdapat berbagai kejanggalan yang tidak terungkap dalam proses hukum kasus yang menimpa korban.

Ricky Brand, selaku kuasa hukum keluarga korban, kepada wartawan saat itu mengaku, outopsi ulang janazah korban terpaksa dilakukan, mengingat hasil autopsi sebelumnya tidak mampu mengungkap kejanggalan yang ada pada tubuh korban.

Dia juga menilai, dokter polisi dari Mabes Polri, dr. Theresia Lindawati yang sebelumnya melakukan outopsi, tidak teliti sehingga bekas benturan pada leher korban tidak terungkap.

“Kami hanya ingin tahu penyebab kematian adik kami dengan berbagai kejanggalan yang sudah kami ajukan kepada polisi,” sebut Ricky.

Menurutnya, saat gelar perkara di Mapolda NTT, Senin (26/8/2013), terindikasi kuat korban meninggal akibat mengalami tindak kekerasan.

Hal ini, diperkuat dengan pengakuan dokter yang melakukan visum terhadap jenazah korban, dimana mendapati tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Dokter Irmantoyo menyatakan pada tubuh adik kami terdapat tanda-tanda kekerasan. Karena itu, kami meminta agar kasus yang sebelumnya ditangani oleh Polres Kupang Kota diambil alih oleh Polda NTT, sekaligus melakukan autopsi ulang dengan mendatangkan dokter forensik dari Bali,” ujar Ricky.

Sekadar tahu, korban yang tinggal di Jalan Hati Mulia Nomor 10, Kelurahan Oebobo, ditemukan tewas oleh suaminya, Eric Mella dalam kamar mandi rumahnya, sekitar pukul 12.30 Wita, Jumat (26/4/2013).

Kasus ini pun dilaporkan ke polisi di Polres Kupang Kota oleh saudara korban, John Brand (42), warga Jalan R Suprapto No. 19 RT 07/RW 03 Kelurahan Oebobo, Minggu (28/4/2013) sekitar pukul 22.30 Wita dengan dugaan korban meninggal tidak wajar.

Dalam penyelidikan polisi, akhirnya jenazah korban diautopsi Jumat (14/6/2013) lalu atas permintaan keluarga, dan hasilnya terungkap banyak kejanggalan yang perlu diusut tuntas. (R1)

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Lakalantas Depan Benteng Kupang, Pemotor Patah Kaki-Tangan, Mobil-Motor Ringsek

Published

on

Mobil Daihatsu Luxio bernomor polisi B 2685 BFU dengan sepeda motor Honda Beat bernomor polisi DH 4206 KC tampak rusak parah.

Kupang, penatimor.com – Kecelakaan lalu lintas terus saja terjadi di wilayah Kota Kupang.

Seperti yang terjadi di Jl. Pahlawan, Kelurahan Fatufeto, Kecamatan Alak, sekira pukul 23.00, Sabtu (20/4).

Lokasi kejadian persis di ruas jalan depan Benteng Yonif 743 Kupang dan Kantor Lurah Fatufeto.

Kecelakaan lalu lintas tersebut melibatkan mobil Daihatsu Luxio bernomor polisi B 2685 BFU dengan sepeda motor Honda Beat bernomor polisi DH 4206 KC.

Pengemudi mobil Daihatsu Luxio adalah Ali Cahyadi (29), warga seputaran belakang Pasar Oebobo, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo.

Pengemudi dalam keadaan sehat namun diketahui tidak memiliki SIM.

Penumpang mobil nahas tersebut, Wahyu Kurniawan (40) yang merupakan seorang sekuriti dan berdomisili di Perumahan Navigasi, wilayah RT 09/RW 03, Kelurahan Pasir Panjang, juga dalam kondisi sehat.

Sementara, pengendara dan penumpang sepeda motor Honda Beat belum teridentifikasi.

Kedua korban adalah laki-laki, dan tidak memakai helm.

Kondisi salah satu korban mengalami patah tulang pada kedua kaki dan tangan kiri, luka robek di lutut kaki kanan, memar di wajah dan mengeluarkan darah dari hidung.

Sedangkan korban yang satu mengalami patah tulang kaki kiri, lecet di tangan kanan dan kaki kanan.

Sesuai informasi yang dihimpun wartawan media ini, diketahui lakalantas tersebut berawal saat mobil Daihatsu Luxio melaju dari arah Kupang menuju ke arah Alak.

Sedangkan sepeda motor Honda Beat melaju dari arah berlawanan, yaitu dari arah Alak menuju ke arah Kupang.

Pada saat tiba di tempat kejadian perkara (TKP), depan benteng Yonif 743 Kupang atau depan kantor Lurah Fatufeto, sepeda motor tersebut melambung kendaraan yang ada di depannya, kemudian masuk ke jalur mobil sehingga terjadi tabrakan.

Akibat kejadian tersebut pengendara dan penumpang sepeda motor terjatuh bersama motornya dan mengalami luka-luka dan dirawat di RSUD Prof.Dr. W.Z Yohannes Kupang.

Dugaan sementara pengendara motor lalai, dan kondisi mobil dan motor rusak berat.

Kasat Lantas Polres Kupang Kota Iptu Rocky Junasmi yang dikonfirmasi, membenarkan kejadian lakalantas tersebut.

Menurut dia, setelah mengetahui lakalantas tersebut, pihaknya langsung mendatangi TKP dan melakukan identifikasi serta olah TKP.

Para korban kemudian dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis, sementara motor dan mobil nahas tersebut diamankan sebagai barang bukti di kantor Satlantas Polres Kupang Kota di Jl. Nangka.

“Kami masih mengidentifikasi kedua korban, yaitu pengendara dan penumpang sepeda motor,” singkat Kasat Lantas. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Pulang Tugas Pengamanan Pemilu, Kapospol Tuapukan Tewas Tertabrak Pick Up

Published

on

Aparat kepolisian sedang melakukan olah TKP di Jalan Timor Raya Kilometer 20 persis di depan penjual Sasando, Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Jumat (19/4).

Kupang, penatimor.com – Aipda Stef Pekuali (40), anggota Polres Kupang yang sehari-hari merupakan Kepala Pos Polisi (Kapospol) Tuapukan Polres Kupang tewas di tempat setelah sepeda motor yang dikendarai bertabrakan dengan pick up.

Kecelakaan lalu lintas maut ini terjadi pada Jumat (19/4) pagi sekitar pukul 05.30 di Jalan Timor Raya Kilometer 20 persis di depan penjual Sasando, Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang.

Aipda Stef selama masa pengamanan Pemilu 2019 melakukan tugas pengamanan di Kantor Camat Kupang Timur.

Korban Aipda Stef sedianya hendak pulang ke rumahnya di perumahan Matani Desa Matani, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, setelah melakukan tugas piket pengamanan kotak suara di kantor Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kupang Timur.

Ia hendak ke gereja bersama istri dan anaknya mengikuti ibadah Jumat Agung dan sedianya usai gereja akan kembali melakukan tugas pengamanan di PPK Kupang Timur.

Informasi yang diperoleh wartawan menyebutkan kalau saat itu, korban Aipda Stef mengendarai sepeda motor Honda CBR nomor polisi DH 4826 KF seorang diri.

Ia melaju dari Babau Kecamatan Kupang Timur hendak kembali ke rumahnya di perumahan Matani.
Sekitar pukul 05.30, di Jalan Timor Raya Desa Oebelo, korban mengalami kecelakaan lalu lintas.

Sepeda motor yang dikendarai korban Aipda Stef bertabrakan dengan pick up nomor polisi DH 8194 CN yang dikemudikan Duagus Kabnani (35), warga Kabupaten Kupang yang saat itu melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Kupang menuju Babau.

Saat itu mobil pick up yang dikendarai Duagus Kabnani memuat delapan orang penumpang.

Sepeda motor mengambil jalur kanan dan karena jarak yang sudah dekat maka Duagus Kabnani tidak dapat mengendalikan kendaraannya sehingga terjadi tabrakan.

Korban terjatuh dari sepeda motor dan terpental di badan jalan. Sepeda motor yang ditumpangi mengalami kerusakan pada bagian depan.

Demikian pula pick up mengalami kerusakan pada bagian depan.

Kepala korban pun terbentur badan jalan dan mengalami luka serius.

Darah segar keluar dari telinga dan luka di kepala korban. Korban tidak sadarkan diri dan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Korban dievakuasi dengan mobil pick up dan dibawa ke rumah sakit Bhayangkara Kupang guna proses lebih lanjut.

Diperoleh informasi kalau saat hendak pulang ke rumah, korban Aipda Stef masih sempat menelepon istrinya di rumah.

Ia hendak pulang ke rumah karena mau ke gereja mengikuti ibadah Jumat Agung.

Sang istri pun diminta menyiapkan pakaian yang akan dipakai untuk ke gereja.

Korban Aipda Stef juga masih meminta istrinya mencuci pakaian seragam korban agar dipakai kembali untuk berdinas usai kegiatan gereja.

Jenazah korban sempat divisum di rumah sakit Bhayangkara Kupang dan selanjutnya dibawa ke rumah duka di perumahan Matani untuk disemayamkan.

Sementara itu aparat keamanan unit Laka Sat Lantas Polres Kupang ke tempat kejadian perkara melakukan olah tempat kejadian perkara dan identifikasi.

Polisi mengamankan barang bukti sepeda motor milik korban dan pick up serta sopir pick up ke kantor Sat Lantas Polres Kupang.

Polisi juga meminta keterangan dari sejumlah pihak selaku saksi dan memeriksa Agus Kabnani, sopir pick up. Agus Kabnani pun masih diamankan di Kantor Satantas Polres Kupang.

Kapolres Kupang, AKBP Indera Gunawan, SIK., melalui Kasat Lantas Polres Kupang, AKP Andry Andriyansyah, SIK., yang dikonfirmasi membenarkan peristiwa ini.

“Barang bukti mobil pick up dan sepeda motor sudah kita amankan dan sopir pick up kita periksa,” tandas Kasat Lantas. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Berkas P-21, Tiga Pengebom Ikan di Kupang Segera Diadili

Published

on

Tiga nelayan asal Kabupaten Kupang diamankan petugas di Kantor Stasiun PSDKP Kupang, belum lama ini.

Kupang, penatimor.com – Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kupang telah melengkapi berkas perkara tiga orang nelayan asal Kabupaten Kupang, yang diduga melakukan pengeboman ikan di perairan Tanjung Batu Lelan, Kabupaten Kupang.

Berkas perkara telah lengkap (P-21) dan rencananya akan dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi NTT setelah pemilihan serentak Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Legislatif.

Kepala Stasiun PSDKP Kupang Mubarak, S.St.Pi., kepada wartawan, Selasa (16/4), mengemukakan bahwa setelah melakukan penangkapan ketiga nelayan tersebut pihaknya telah merampungkan berkas perkara ketiga tersangka.

“Direncanakan pelimpahan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan setelah Pemilu. Jadi sekitar tanggal 23 Aprli 2019 kami akan melakukan pelimpahan tahap dua,” ujarnya.

Terhadap para tersangka yakni tersangka Princes Batuk Yusuf Tanakh dan Yepson Tari, dikenakan Pasal 86 ayat (1) jo Pasal 12 ayat (1), Pasal 84 ayat (1) jo Pasal 8 ayat (1), Pasal 85 jo Pasal 9, UU RI No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-Undang RI No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

“Jadi ketiga tersangka, kami jerat dengan Undang-Undang Perikanan dengan ancaman hukuman maksimal 10 dan denda 2 miliar,” jelasnya.

Ketiga nelayan tersebut merupakan nelayan asal Kabupaten Kupang. “Mereka menangkap ikan dengan menggunakan bom yang dikemas dalam botol kratingdaeng,” katanya.

Sebelumnya, Mubarak menjelaskan, kejadian bermula ketika tim operasi PSDKP Kupang menggunakan kapal patroli Napoleon-054 sedang melakukan penyelaman untuk memantau kondisi karang di perairan Pulau Kambing.

Selanjutnya, tim melihat sebuah kapal motor nelayan dilengkapi dengan sampan yang membawa alat tangkap gill net dandan monofilamen yang dicurigai melakukan penangkapan ikan di Tanjung Batu Lelan, sekitar 1 km dari Pulau Kambing.

“Mereka terus melaju dan berusaha melarikan diri. Namun, saat kami menghampiri, mereka pun berhenti, setelah diberikan tembakan peringatan sebanyak tiga kali pada titik koordinat 10°17. 960′ S dan 123° 25.199′ E,” ungkap Mubarak.

Setelah ditahan, petugas melakukan pemeriksaan, ditemukan sejumlah ikan yang diisi dalam sebuah kulbok yakni ikan hiu, ketamba, ikan kakak tua, serta ikan teri sebanyak satu kantong jaring dengan ciri-ciri mata pecah, dan badan memar.

“Setelah ikan dibedah, ditemukan bercak darah yang diduga terkena serangan bom. Kami berusaha mencari barang bukti, namun tidak menemukan,” paparnya.

Dari hasil interogasi awal, lanjut Mubarak, dua nelayan tersebut mengaku menggunakan bom saat menangkap ikan.

Bom yang dikemas dalam bentuk botol minuman berenergi itu dilempar juragan kapal berinisial PM asal Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat.

Mubarak menambahkan, dengan dua alat bukti yang didapatkan tersebut, ketiga nelayan masing-masing Princes Batuk, Yusuf Tanakh dan Yepson Tari tersebut diamankan di Pelabuhan Perikanan Tenau Kupang untuk pemeriksaan lanjutan. (R1)

Continue Reading

Trending

error: Content is protected !!