Connect with us

HUKRIM

Korupsi Dana Desa, 2 Kades di Kabupaten Kupang Segera Disidangkan

Published

on

Kades Noelmina Rifan Letik dan Kades Kuimasi Daud Pandie.

Kupang, penatimor.com – Sebanyak tiga orang terdakwa perkara dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan anggaran dana desa (DD) di Kabupaten Kupang segera disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang.

Tiga orang terdakwa tersebut menjabat sebagai Kepala Desa dan Ketua Tim Pengelola Kegiatan (TPK), yakni Kepala Desa Kuimasi Kecamatan Fatuleu dan Kepala Desa Noelmina, Kecamatan Takari.

Ketiga terdakwa tersebut sebelumnya telah dilimpahkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Oelamasi ke Pengadilan Negeri Kelas 1A Kupang pada Selasa (19/3).

Berkas perkara Kepala Desa Kuimasi Daud Pandie dan TPK Desa Kuimasi, Stefanus Maakh sebelumnya telah dilimpahkan dan sudah dilakukan proses persidangan, namun dugaan korupsi tersebut dinyatakan tidak lengkap oleh majelis hakim dan telah dibebaskan.

Kepala Desa dan TPK tersebut tersangkut dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan dana desa terkait beberapa item pekerjaan yang sumber pembiayaan dari dana desa tahun anggaran 2017.

Pada tahun 2017, Pemerintah Desa Kuimasi Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang mendapat anggaran untuk menunjang kegiatan Pemerintah Desa Kuimasi sebesar Rp 1.213.266.000 dengan rincian Dana Desa sebesar Rp 779.739.000, Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar Rp 425.591.000, Pajak Daerah sebesar Rp 2.936.000 dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 5.000.000.

Terhadap anggaran tersebut, dilakukan pembiayaan sebanyak 4 item pekerjaan yakni Bidang Pemerintahan Desa dengan dana sebesar Rp 364.287.000, Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa dengan dana sebesar Rp 378.111.083, Bidang Pembinaan Kemasyarakatan dengan dana sebesar Rp 108.360.000 dan Bidang Pemberdayaan Masyarakat dengan dana sebesar Rp 283.476.000.

Item pekerjaan itu antara lain perkerasan jalan, pengadaan ternak babi, pengadaan pakan ternak babi, pembangunan posyandu dan balai serba guna di desa.

Selain itu khusus untuk pekerjaan fisik berupa perkerasan jalan, pembangunan posyandu dan pembangunan balai serba guna terdapat kekurangan volume pekerjaan, sementara administrasi sudah selesai 100 persen.

Pada item pengadaan ternak babi dan pakan ternak babi, jaksa menemukan bahwa bantuan yang diterima masyarakat tidak sesuai jumlah sebagaimana tercantum dalam RAPBDes.

Akibat perbuatan terdakwa Stefanus Maakh dan terdakwa Daud Pandi, telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 98.615.400 dengan rincian sesuai dengan Laporan Hasil Pemeriksaan Ahli Tim Teknis Politeknik Negeri Kupang Nomor: E.03/PL23.1.11/HK/2018 tanggal 31 Agustus 2018 sebesar Rp 17.537.000 dan sesuai dengan Laporan Hasil Perhitungan Kerugian Keuangan Negara/Daerah dari Tim Ahli Inspektorat Daerah Kabupaten Kupang tanggal 4 Oktober 2018 sebesar Rp 81.078.400.

Perbuatan para terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 Ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor: 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor: 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke 1 KUHP.

Sedangkan berkas perkara dugaan korupsi yang melibatkan Kepala Desa Noelmina Rifan Letik, S.S.TP., merupakan berkas baru yang mengakibatkan kerugian negara mencapai ratusan juta rupiah dari dana desa tahun 2016.

Panitera Muda Pengadilan Tipikor Kupang Daniel Sikky, S.H., kepada wartawan, Kamis (21/3), membenarkan adanya pelimpahan dua berkas perkara dugaan tindak pidana korupsi tersebut oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten Kupang.

Dikatakan, setelah menerima berkas perkara tersebut, pihaknya telah menetapkan majelis hakim untuk mengadili perkara dimaksud dan juga telah menetapkan jadwal persidangan perdana.

“Kamis sudah menetapkan hakim yang mengadili dan jadwalnya juga sudah ditetapkan,” katanya.

Kedua perkara yang akan disidangkan terpisah itu akan digelar pada Kamis 28 Maret 2019 dengan menetapkan Y. Teddy Windiartono, S.H.,M.Hum sebagai Ketua Majelis Hakim didampinggi Ali Muhtarom, S.H.,M.H., dan Drs. Gustap p. Marpaung, S.H., untuk mengadili kasus Desa Kuimasi.

Sedangkan kasus Desa Nielmina akan diadili Ketua Majelis Hakim Pransis Sinaga, S.H.,M.H., didampinggi Ali Muhtarom, S.H.,M.H dan Drs. Gustap P. Marpaung, S.H. (R1)

Advertisement
Loading...
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Bawa Lari Gadis 16 Tahun Lalu Setubuhi, Pemuda di Kupang Terancam 15 Tahun Penjara

Published

on

Ilustrasi (NET)

Kupang, penatimor.com – Seorang pemuda di Kupang dipolisikan atas dugaan pencabulan anak di bawah umur.

Terlapor bernama Jems M (19), sementara korban nya berinisial MB (16) yang berstatus pelajar di salah satu SMA swasta di Kota Kupang.

Kapolsek Oebobo Kompol I Ketut Saba  yang dikonfirmasi di ruangan kerjanya, membenarkan.

Menurut Kapolsek, kasus ini berawal saat korban pergi dari rumah pada (24/5), dan nginap di rumah temannya di belakang super market Dutalia, Kelurahan Oesapa.

Korban lalu mengirim pesan via messenger ke terlapor pada (28/5) untuk bertemu.

Keesokan hari nya terlapor membawa pergi MB ke kos yang beralamat Jl. Bhakti Karang, RT 37/RW 11, Kelurahan Oebobo.

“Selama tinggal bersama di tempat kos, korban dan pelaku berhubungan badan layak nya suami istri,” sebut Kapolsek.

Selanjutnya pada (4/6), korban pulang ke rumah untuk mengambil pakaiannya karena waktu keluar dari rumah dia tidak membawa pakaian.

Sesampai di rumah nya, korban juga menipu orangtua nya bahwa selama ini dia pergi mencari kerja sebagai sales.

Selanjutnya, pada (8/6), korban pergi lagi dari rumah untuk bertemu dengan terlapor di kost tersebut.

Atas kepergian korban, orangtua nya mencurigai terlapor yang membawa putri mereka, sehingga orangtua korban membawa foto korban untuk mencari di kost terlapor, dan mendapati korban berada di salah satu kamar kost.

Orangtua korban kemudian membuat laporan polisi Nomor:LP/B/85/VI/2019 tanggal 12 Juni 2019.

“Pelaku sudah ditangkap dan diamankan di Polsek Oebobo. Berkas perkara dalam minggu ini dikirim ke Kejaksaan,” terang Kapolsek.

Terlapor dikenakan Pasal 81 Ayat 1 Undang-Undang (UU) Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan dari UU Pasal 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Sub Pasal 64 Ayat 1 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara. (wil)

Continue Reading

HUKRIM

Lidik Kasus Tanah Jonas Salean, Jaksa Periksa 3 Notaris

Published

on

Mantan Wali Kota Kupang Jonas Salean saat mendatangi kantor Kejati NTT, pekan lalu.

Kupang, penatimor.com – Tim penyelidik Bidang Pidsus Kejati NTT terus mengembangkan penyelidikan perkara dugaan korupsi terkait lahan milik mantan Wali Kota Kupang Jonas Salean.

Dalam sepekan terakhir, tim penyidik terus melakukan pemeriksaan saksi.

Saksi yang diperiksa termasuk tiga orang notaris di Kota Kupang, masing-masing Zantje Tomasowa, Imanuel Mali dan Hengky Famdale.

Ketiga notaris ini diperiksa terpisah. Zantje diperiksa terlebih dahulu, kemudian disusul Imanuel Mali dan Hengky Famdale.

Zantje saat itu diperiksa dari pukul 15.00-18.00, selaku notaris yang membuat akta jual beli dengan Mourest Patty.

Saat ditanyakan, apakah ada maksud lain di antara Jonas Salean dan Mourest Patty dalam pembuatan akta jual beli tersebut, Zantje mengaku tidak tahu.

Zantje saat diwawancarai usai pemeriksaan, kepada wartawan, mengaku diperiksa terkait perkara dugaan penyerobotan tanah milik mantan Wali Kota Kupang.

“Saya dipanggil penyidik dan sudah berikan keterangan,” kata Zantje sambil berlalu meninggalkan gedung kantor Kejati NTT. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Jaksa Periksa Lee, Suami Linda Liudianto

Published

on

Amos Cadu Hina, SH. (kiri) bersama Lee di kantor Kejati NTT, Senin (24/6).

Kupang, penatimor.com – Penyidik Kejati NTT memeriksa Lee, suami tersangka Linda Liudianto yang terjerat perkara dugaan korupsi proyek NTT Fair.

Lee memenuhi panggilan penyidik dengan mendatangi kantor Kejati NTT di Jl. Adhyaksa No. 1, pukul 09.00.

Dia didampingi kuasa hukum istrinya, Amos Cadu Hina, SH.

Lee saat diwawancarai mengatakan dirinya siap memberikan keterangan ke penyidik.

“Ada panggilan jadi saya datang memberikan keterangan,” kata Lee.

Sementara, Amos Cadu Hina, menambahkan, suami kliennya tersebut sama sekali tidak terlibat dalam proyek NTT Fair.

“Dia hanya dampingi istri nya saat temui pak Hadmen waktu itu,” kata Amos.

Terpantau, penyidik Kejati NTT hari ini kembali memeriksa tambahan tiga orang tersangka perkara dugaan korupsi NTT Fair, masing-masing Yuli Afra, Dona Toh dan Ferry Jonson Pandie. Mereka diperiksa mulai pukul 13.00. (R1)

Continue Reading




Loading...

Trending

error: Content is protected !!