Connect with us

HUKRIM

Yovita Mitak Saksikan Sidang Putranya yang jadi Terdakwa Narkoba

Published

on

Terdakwa Diony Constantyn Porsiana didampingi dr. Yovita Mitak saat keluar dari ruang sidang Pengayoman PN Kelas 1A Kupang, Rabu (13/3).

Kupang, penatimor.com – Sidang perkara dugaan penyalahgunaan narkoba jenis ganja dengan terdakwa Diony Constantyn Porsiana kembali dilanjutkan di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Kupang, Rabu (13/3).

Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi yang dipimpin oleh ketua majelis hakim Nuril Huda, S.H.,M.Hum., didampingi anggota majelis hakim Wempy William James Duka, S.H.,M.H., dan Ari Prabowo, S.H., berlangsung aman dan lancar di ruang Pengayoman, serta dikawal ketat aparat kepolisian yang sedang bertugas mengamankan jalannya persidangan.

Sidang yang disaksikan secara langsung oleh ibu kandung korban, dr. Yovita Mitak dan keluarga tersebut terkuak fakta baru dari para saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Kupung.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Kupang Anton Londa, S.H., MH., dan Sisca Marpaung, SH., yang mengawal proses sidang perbuatan melawan hukum tersebut menghadirkan sebanyak 4 orang saksi, yakni 2 orang anggota polisi yang saat itu melakukan penggerebekan terhadap terdakwa Diony dan Ketua RT serta satu orang warga RT 001/RW 001, Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang yang saat itu menyaksikan proses penggeledahan.

Saksi yang diperiksa terpisah yakni Maksi Napa (36) dan Roni Putra Radja (36) yang berstatus sebagai anggota polisi Sat Narkoba Polda NTT.

Saat memberikan keterangan, kedua saksi mengaku bahwa proses penangkapan terhadap terdakwa Diony merupakan pengembangan dari keterangan terdakwa Niko Whatford yang ditangkap sebelumnya di lokasi kuliner Kelurahan Pasir Panjang.

Kedua anggota polisi yang diperiksa bersamaan itu menjelaskan proses penangkapan terhadap terdakwa Diony dilakukan pada tanggal 30 September 2018 Pukul 14.00 Wita, karena menurut pengakuan dari Niko Whatford yang ditangkap sebelumnya, bahwa ia memperoleh barang haram itu dari terdakwa Diony.

Setelah mendapat keterangan tersebut, kemudian polisi meminta kepada terdakwa Niko Whatford untuk menghubunggi Diony dan berpura-pura meminta ganja karena miliknya sudah habis.

“Kami langsung melakukan penangkapan terhadap terdakwa Diony di rumahnya yang beralamat di Jalan Melati, Kelurahan Naikolan Kecamatan Maulafa. Saat penangkapan kami juga melakukan penggeledahan dan menemukan satu paket ganja di saku celannya,” jelas saksi.

Setelah mendapat barang bukti, kemudian pihak kepolisian yang beranggotakan kurang lebih sekitar sepuluh orang itu langsung menunjukan surat perintah tugas (sprint) kepada orangtua terdakwa lalu meminta Ketua RT 001/RW 001 serta salah satu warga Kelurahan Naikolan untuk menyaksikan penggeledahan.

“Setelah mendapat bukti tersebut, lalu kami melakukan penggeledahan di kamar terdakwa dan mobil terdakwa disaksikan Ketua RT dan warga sekitar. Terdakwa juga saat itu koperatif lalu menunjukan narkotika jenis ganja itu di tas kecil miliknya. Kami juga menemukan sisa puntung rokok yang sudah digunakan terdakwa di kamarnya,” katanya.

Ditambahkan, sesuai dengan keterangan dari para terdakwa, barang haram tersebut di pesan melalui media sosial instagram kemudian dikirim via salah satu perusahaan jasa pengiriman sebanyak 8 kali transaksi.

Terdakwa juga mengaku sudah mengkomsumsi narkotika jenis ganja tersebut sejak tahun 2016. Saat itu terdakwa masih sekolah di Surabaya.

Menjawab pertanyaan dari penasihat hukum terdakwa Aloisius Luis Balun, SH., tentang sikap yang dilakukan terdakwa saat ditangkap bahwa anggota polisi menangkap dan disuruh berlutut.

“Saat itu terdakwa sempat menangis namun sempat dikuatkan oleh ayahnya bahwa terdakwa pasti mampu melewati proses yang ada. Terdakwa juga mengaku bahwa proses penggunaan tersebut tidak diketahui oleh orangtuanya,” ungkap saksi.

Kepada majelis hakim, saksi mengaku pihaknya terus mengembangkan kasus tersebut untuk mengetahui siapa pengirimnya kepada pihak Telkomsel, namun sampai dengan sekarang belum bisa dipastikan karena untuk melacak pengguna melalui instagram sangat sulit.

Usai pemeriksaan kedua anggota polisi tersebut, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan Ayub Jamilele (61), Ketua RT 001/RW 001 dan Zadrach Benediktus Ria (34).

Dalam proses pemeriksaan yang diawali dengan pengambilan sumpah menurut agama dan kepercayaa Kristen itu, diakui bahwa ada proses penangkapan terhadap salah satu warganya sekitar pukul 14.00.

Keduanya pun tidak menduga bahwa ada warganya yang terlibat mengomsumsi narkoba, karena terdakwa dalam kesehariannya tampak sopan dan sedikit pendiam.

“Saya sangat kenal dengan terdakwa karena terdakwa merupakan warga saya dan dia selalu berikap sopan di lingkungan,” tutur Ayub Jamilele.

Sementara, Zadrach Benediktus Ria juga membenarkan bahwa dirinya diminta untuk menyaksikan proses penggeledahan dan menemukan sejumlah barang bukti yang diduga merupakan narkotika yang disimpan di saku celana, kamar dan mobil terdakwa.

“Polisi melakukan penggeledahan di luar rumah, kemudian dilakukan lagi di dalam kamar dan menemukan sebanyak satu bungkus ganja, sementara di kamar ditemukan sisa-sisa daripada puntung rokok,” ungkapnya.

Menanggapi keterangan para saksi, terdakwa Diony Constantyn Pirsiana mengakui semua kesaksian yang disampaikan benar adanya.

Sebelumnya, terdakwa dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 dan Pasal 112 serta Pasal 1 dan 7 huruf (a) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 dengan ancaman 12 tahun penjara.

Sidang kemudian dinyatakan ditunda oleh majelis hakim dan akan dilanjutkan pada Rabu (20/3), dengan agenda pemeriksaan lanjutan saksi dalam perkara tersebut.

Terpantau, usai sidang, tampak dr. Yovita Mitak langsung menjemput terdakwa di pintu ruang sidang lalu memberikan penguatan dengan mencium terdakwa. (R3)

HUKRIM

OTT BUMN, KPK Tangkap Direktur Krakatau Steel

Published

on

Gedung Merah Putih Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta (NET).

Jakarta, penatimor.com – Tim Satgas Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT).

Kali ini, operasi senyap itu menyasar pejabat Badan Usaha Milik Pemerintah (BUMN) yang merupakan seorang direktur Krakatau Steel. Informasi ini dibenarkan oleh Wakil Ketua KPK Basaria Panjaidtan.

“Ya benar (direktur Krakatau Steel), tadi sore sekitar pukul 18.30 WIB. Tim KPK memang menemukan adanya dugaan transaksi pemberian uang pada salah satu Direktur BUMN dari pihak swasta,” ucapnya saat dikonfirmasi, Jumat malam (22/3).

Namun, dia tak merinci siapa direktur krakatau yang dimaksud. Padahal, Krakatau Steel memiliki beberapa orang yang menjabat sebagai direktur.

Adanya transaksi ini, diakui Basaria, setelah timnya mendapatkan informasi dari masyarakat. Transaksi itu ialah rencana pemberian uang dari pihak swasta yang pernah atau berkepentingan dengan proyek di salah satu BUMN.

“Diduga sebagian uang telah diberikan secara cash dan yang lainnya menggunakan sarana perbankan,” tukasnya.

Lebih lanjut, dia memaparkan uang yang ditemukan saat transaksi itu sedang dihitung atau didalami tim lembaga antirasuah ini.

“Iya, sedang didalami transaksi menggunakan rupiah ataupun dollar,” ujarnya.

Kemudian, total ada sekitar 4 orang yang diamankan dalam operasi ini. Namun, dia tak merinci pihak siapa saja yang dimaksud.

“Mereka sudah berada di gedung KPK untuk klarifikasi lebih lanjut. Informasi lebih lengkap akan disampaikan besok sore melalui konferensi pers di kantor KPK,” tuturnya.

“KPK memiliki waktu maksimal 24 jam untuk menentukan status hukum dari pihak yang diamankan tersebut,” pungkasnya.

KPK mengamankan empat orang, termasuk direktur Krakatau Steel, dalam operasi tangkap tangan (OTT). Diduga suap diberikan secara tunai dan juga transfer melalui bank.

Komisaris Utama PT Krakatau Steel TBk, I Gusti Putu Suryawirawan mengaku sedang berkomunikasi dengan Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim usai kejadian tersebut.

“Pak Silmy barusan komunikasi sama saya. Ini siapa nih. Dia (Silmy) bilang nggak tahu siapa (yang diciduk),” ujar Putu kepada JawaPos.com, Jumat (22/3).

“Ini barusan saya Whatsapp dia. Ini bener (ada OTT), cuman nggak tahu siapa,” ungkapnya.

Saat ini, Putu mengaku tengah berkomunikasi dengan Silmy dan direksi lainnya untuk mencari tahu siapa yang diciduk KPK.

“Pak Silmy malah bilang nggak tahu siapa. Coba kita cari tahu dulu,” pungkasnya. (JawaPos.com/R4)

Continue Reading

HUKRIM

Setelah 6 Tahun, Polresta Kupang Akhirnya Ungkap Kematian Linda Brand, Suaminya Tersangka

Published

on

Ilustrasi (NET)

Kupang, penatimor.com – Setelah berproses hukum sejak tahun 2013, penyidik Unit Pidum Satreskrim Polres Kupang Kota akhirnya menetapkan tersangka dalam kasus kematian Linda Brand.

Mengejutkan memang, karena tersangka nya adalah Eric Mella yang tak lain adalah suami korban sendiri.

Informasi yang dihimpun di Mapolres Kupang Kota menyebutkan, penetapan tersangka dilakukan penyidik pada pekan lalu.

Tersangka juga sesuai rencana telah dipanggil oleh penyidik Subnit 1 Unit Pidum untuk diperiksa pada hari ini, Sabtu (23/3).

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang dikonfirmasi wartawan, belum lama ini, membenarkan.

“Ya, kita sudah tetapkan suami korban sebagai tersangka,” singkat Kasat Bobby.

Sekadar tahu, kasus ini sudah sangat lama mangkrak di Polres Kupang Kota.

Sebelumnya, pihak keluarga korban, untuk kedua kalinya meminta penyidik Polda NTT untuk melakukan outopsi terhadap jenazah korban.

Outopsi kedua kali dilakukan di lokasi makam korban, TPU Liliba pada Jumat, 20 September 2013.

Outopsi dilakukan setelah dalam gelar perkara yang dilakukan penyidik Polda NTT, terdapat berbagai kejanggalan yang tidak terungkap dalam proses hukum kasus yang menimpa korban.

Ricky Brand, selaku kuasa hukum keluarga korban, kepada wartawan saat itu mengaku, outopsi ulang janazah korban terpaksa dilakukan, mengingat hasil autopsi sebelumnya tidak mampu mengungkap kejanggalan yang ada pada tubuh korban.

Dia juga menilai, dokter polisi dari Mabes Polri, dr. Theresia Lindawati yang sebelumnya melakukan outopsi, tidak teliti sehingga bekas benturan pada leher korban tidak terungkap.

“Kami hanya ingin tahu penyebab kematian adik kami dengan berbagai kejanggalan yang sudah kami ajukan kepada polisi,” sebut Ricky.

Menurutnya, saat gelar perkara di Mapolda NTT, Senin (26/8/2013), terindikasi kuat korban meninggal akibat mengalami tindak kekerasan.

Hal ini, diperkuat dengan pengakuan dokter yang melakukan visum terhadap jenazah korban, dimana mendapati tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Dokter Irmantoyo menyatakan pada tubuh adik kami terdapat tanda-tanda kekerasan. Karena itu, kami meminta agar kasus yang sebelumnya ditangani oleh Polres Kupang Kota diambil alih oleh Polda NTT, sekaligus melakukan autopsi ulang dengan mendatangkan dokter forensik dari Bali,” ujar Ricky.

Sekadar tahu, korban yang tinggal di Jalan Hati Mulia Nomor 10, Kelurahan Oebobo, ditemukan tewas oleh suaminya, Eric Mella dalam kamar mandi rumahnya, sekitar pukul 12.30 Wita, Jumat (26/4/2013).

Kasus ini pun dilaporkan ke polisi di Polres Kupang Kota oleh saudara korban, John Brand (42), warga Jalan R Suprapto No. 19 RT 07/RW 03 Kelurahan Oebobo, Minggu (28/4/2013) sekitar pukul 22.30 Wita dengan dugaan korban meninggal tidak wajar.

Dalam penyelidikan polisi, akhirnya jenazah korban diautopsi Jumat (14/6/2013) lalu atas permintaan keluarga, dan hasilnya terungkap banyak kejanggalan yang perlu diusut tuntas. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Polisi Kembangkan Penyelidikan Kasus Dana BOS SMKN 5 Kupang

Published

on

Ilustrasi (NET)

Kupang, penatimor.com – Penyelidik Unit Tipidkor Sat Reskrim Polres Kupang Kota terus mengembangkan penyelidikan kasus dugaan korupsi dana Bantuan Operasinal Sekolah (BOS) pada SMK Negeri 5 Kupang.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, belum lama ini, mengatakan, dalam pengembangan penyelidikan perkara dimaksud, tim penyelidik yang dipercayakan menangani perkara dimaksud, kembali memeriksa sejumlah saksi tambahan.

Sebelumnya kata Bobby, telah diperiksa lima orang saksi, masing-masing berinisial NN, AL, JA, SS, dan AM.

Pemeriksaan saksi berlangsung tertutup dari pukul 09.00-11.00, atau selama 2 jam.

Para saksi yang diperiksa ini berkapasitas sebagai tim pemeriksa dalam pengelolaan dana BOS pada SMK Negeri 5 Kupang.

Pemeriksaan yang dilakukan terhadap para saksi masih sebatas materi tentang pengelolaan dana BOS di SMK Negeri 5 Kupang.

Sebelumnya, penyelidik juga telah memeriksa dua orang saksi yang ada pengelola dana BOS pada SMK Negeri 5 Kupang, yaitu Ketua Panitia Pengelola Dana BOS SMK Negeri 5 Kupang Adrianus Banoet dan Bendahara BOS merangkap Bendahara Komite Semar Raja Kota.

Menurut Kasat Reskrim, penyelidikan terus dilakukan dengan memeriksa para pihak terkait dan mengumpulkan barang bukti.

“Kami juga terus melidik alur penggunaan dana BOS pada sekolah tersebut dengan melakukan pulbaket,” kata Bobby.

Perwira dengan pangkat dua balok di pundak itu, melanjutkan, selain melakukan pulbaket penggunaan dana BOS, penyelidik Unit Tipidkor Satreskrim juga fokus melidik penggunaan dana hibah langsung yang telah diterima oleh SMK Negeri 5 Kota Kupang.

“Para saksi yang sudah diperiksa merupakan pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan penggunaan dana BOS,” kata Bobby.

“Kami akan jadwalkan pemeriksaan lanjutan terhadap para saksi jika dibutuhkan keterangan tambahan,” lanjut dia.

Mantan Kasat Reskrim Polres Sikka ini, menambahkan, pihaknya belum dapat menentukan besaran kerugian dalam perkara dimaksud.

Namun, berdasarkan laporan pengaduan masyarakat, Unit Tipidkor langsung bergerak melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan korupsi tersebut.

Menurut Bobby, pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat terkait adanya dugaan penyimpangan terhadap pengelolaan dana BOS pada SMKN 5 Kupang.

“Atas dasar informasi masyarakat tersebut, kami melakukan telaah, pulbaket dan penyelidikan, sesuai dengan tahapan dan prosedur serta tahapan proses penyelidikan,” sebut Bobby. (R1)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor

error: Content is protected !!