Connect with us

HUKRIM

Penyidik Polresta Kupang Bakal Panggil Paksa Kang Asep

Published

on

Bobby Jacob Mooynafi

Kupang, penatimor.com – Kasus dugaan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik bermuatan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh pemilik akun facebook atas nama Asep Jeff terus didalami penyidik Satreskrim Polres Kupang Kota

Polisi telah melayangkan surat panggilan kepada terlapor.

Upaya pemanggilan secara paksa juga bakal dilakukan penyelidik, karena terlapor yakni pemilik akun facebook atas nama Asep Jeff sesuai dengan Laporan Polisi Nomor: LP/B/1154/XII/2018/SPKT Resor Kupang Kota, tanggal 19 Desember 2018 tidak mengindahkan upaya penyidik.

Laporan Polisi Nomor: LP/B/1154/XII/2018/SPKT Resor Kupang Kota, tersebut diadukan oleh Ir. Andreas W. Koreh, M.T., yang saat itu masih menjabat sebagai Kadis PU dan Ketua KONI NTT, termasuk Drs. Umbu Saga Anakaka selaku Sekretaris KONI NTT sebagai korban atas dugaan pemfitnaan tersebut.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Mooynafi, SH.,MH., saat di konfirmasi wartawan, Senin (11/3), menjelaskan, proses hukum terhadap laporan dugaan tindak pidana ini sedang ditindak lanjuti sesuai aturan yang berlaku.

Untuk sementara ini pihaknya telah melakukan pemeriksaan kepada para korban dan saksi ahli dalam perkara tersebut.

“Kami sudah periksa saksi ahli dari Kantor Bahasa NTT dan hasilnya sudah ada,” kata Kasat Bobby.

Selain saksi ahli, penyidik sudah melayangkan surat permintaan klarifikasi kepada terlapor atas nama Stefanus Jefons, ST., alias Asep Jeff alias Kang Asep dengan jadwal klarifikasi pada 15 Maret 2019 mendatang.

“Kita sudah buatkan surat panggilan dan sudah dikirim. Proses ini kami tetap mengutamakan profesional dan aturan hukum yang berlaku,” tandasnya.

Sementara, Fransisco Bernando Bessi, S.H.,M.H., selaku kuasa hukum korban, memberikan apresiasi kepada para penyidik khususnya penyidik Tipiter karena sangat profesional dalam menangani kasus tersebut, dimana penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap pelapor, para saksi serta ahli sesuai dengan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP).

Sebagai kuasa hukum, Fransisco juga mempertanyakan proses pemeriksaan terhadap terlapor, karena selesai pemeriksaan kepada beberapa pihak yang terkait, terkesan terlapor dibiarkan.

“Kami berharap proses hukum ini ditindak lanjuti agar bisa mendapat kepastian hukum. Apakah kasus ini sudah dinaikan statusnya atau belum,” ungkapnya. (R1)

HUKRIM

OTT BUMN, KPK Tangkap Direktur Krakatau Steel

Published

on

Gedung Merah Putih Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi di Jakarta (NET).

Jakarta, penatimor.com – Tim Satgas Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikabarkan kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT).

Kali ini, operasi senyap itu menyasar pejabat Badan Usaha Milik Pemerintah (BUMN) yang merupakan seorang direktur Krakatau Steel. Informasi ini dibenarkan oleh Wakil Ketua KPK Basaria Panjaidtan.

“Ya benar (direktur Krakatau Steel), tadi sore sekitar pukul 18.30 WIB. Tim KPK memang menemukan adanya dugaan transaksi pemberian uang pada salah satu Direktur BUMN dari pihak swasta,” ucapnya saat dikonfirmasi, Jumat malam (22/3).

Namun, dia tak merinci siapa direktur krakatau yang dimaksud. Padahal, Krakatau Steel memiliki beberapa orang yang menjabat sebagai direktur.

Adanya transaksi ini, diakui Basaria, setelah timnya mendapatkan informasi dari masyarakat. Transaksi itu ialah rencana pemberian uang dari pihak swasta yang pernah atau berkepentingan dengan proyek di salah satu BUMN.

“Diduga sebagian uang telah diberikan secara cash dan yang lainnya menggunakan sarana perbankan,” tukasnya.

Lebih lanjut, dia memaparkan uang yang ditemukan saat transaksi itu sedang dihitung atau didalami tim lembaga antirasuah ini.

“Iya, sedang didalami transaksi menggunakan rupiah ataupun dollar,” ujarnya.

Kemudian, total ada sekitar 4 orang yang diamankan dalam operasi ini. Namun, dia tak merinci pihak siapa saja yang dimaksud.

“Mereka sudah berada di gedung KPK untuk klarifikasi lebih lanjut. Informasi lebih lengkap akan disampaikan besok sore melalui konferensi pers di kantor KPK,” tuturnya.

“KPK memiliki waktu maksimal 24 jam untuk menentukan status hukum dari pihak yang diamankan tersebut,” pungkasnya.

KPK mengamankan empat orang, termasuk direktur Krakatau Steel, dalam operasi tangkap tangan (OTT). Diduga suap diberikan secara tunai dan juga transfer melalui bank.

Komisaris Utama PT Krakatau Steel TBk, I Gusti Putu Suryawirawan mengaku sedang berkomunikasi dengan Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim usai kejadian tersebut.

“Pak Silmy barusan komunikasi sama saya. Ini siapa nih. Dia (Silmy) bilang nggak tahu siapa (yang diciduk),” ujar Putu kepada JawaPos.com, Jumat (22/3).

“Ini barusan saya Whatsapp dia. Ini bener (ada OTT), cuman nggak tahu siapa,” ungkapnya.

Saat ini, Putu mengaku tengah berkomunikasi dengan Silmy dan direksi lainnya untuk mencari tahu siapa yang diciduk KPK.

“Pak Silmy malah bilang nggak tahu siapa. Coba kita cari tahu dulu,” pungkasnya. (JawaPos.com/R4)

Continue Reading

HUKRIM

Setelah 6 Tahun, Polresta Kupang Akhirnya Ungkap Kematian Linda Brand, Suaminya Tersangka

Published

on

Ilustrasi (NET)

Kupang, penatimor.com – Setelah berproses hukum sejak tahun 2013, penyidik Unit Pidum Satreskrim Polres Kupang Kota akhirnya menetapkan tersangka dalam kasus kematian Linda Brand.

Mengejutkan memang, karena tersangka nya adalah Eric Mella yang tak lain adalah suami korban sendiri.

Informasi yang dihimpun di Mapolres Kupang Kota menyebutkan, penetapan tersangka dilakukan penyidik pada pekan lalu.

Tersangka juga sesuai rencana telah dipanggil oleh penyidik Subnit 1 Unit Pidum untuk diperiksa pada hari ini, Sabtu (23/3).

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang dikonfirmasi wartawan, belum lama ini, membenarkan.

“Ya, kita sudah tetapkan suami korban sebagai tersangka,” singkat Kasat Bobby.

Sekadar tahu, kasus ini sudah sangat lama mangkrak di Polres Kupang Kota.

Sebelumnya, pihak keluarga korban, untuk kedua kalinya meminta penyidik Polda NTT untuk melakukan outopsi terhadap jenazah korban.

Outopsi kedua kali dilakukan di lokasi makam korban, TPU Liliba pada Jumat, 20 September 2013.

Outopsi dilakukan setelah dalam gelar perkara yang dilakukan penyidik Polda NTT, terdapat berbagai kejanggalan yang tidak terungkap dalam proses hukum kasus yang menimpa korban.

Ricky Brand, selaku kuasa hukum keluarga korban, kepada wartawan saat itu mengaku, outopsi ulang janazah korban terpaksa dilakukan, mengingat hasil autopsi sebelumnya tidak mampu mengungkap kejanggalan yang ada pada tubuh korban.

Dia juga menilai, dokter polisi dari Mabes Polri, dr. Theresia Lindawati yang sebelumnya melakukan outopsi, tidak teliti sehingga bekas benturan pada leher korban tidak terungkap.

“Kami hanya ingin tahu penyebab kematian adik kami dengan berbagai kejanggalan yang sudah kami ajukan kepada polisi,” sebut Ricky.

Menurutnya, saat gelar perkara di Mapolda NTT, Senin (26/8/2013), terindikasi kuat korban meninggal akibat mengalami tindak kekerasan.

Hal ini, diperkuat dengan pengakuan dokter yang melakukan visum terhadap jenazah korban, dimana mendapati tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Dokter Irmantoyo menyatakan pada tubuh adik kami terdapat tanda-tanda kekerasan. Karena itu, kami meminta agar kasus yang sebelumnya ditangani oleh Polres Kupang Kota diambil alih oleh Polda NTT, sekaligus melakukan autopsi ulang dengan mendatangkan dokter forensik dari Bali,” ujar Ricky.

Sekadar tahu, korban yang tinggal di Jalan Hati Mulia Nomor 10, Kelurahan Oebobo, ditemukan tewas oleh suaminya, Eric Mella dalam kamar mandi rumahnya, sekitar pukul 12.30 Wita, Jumat (26/4/2013).

Kasus ini pun dilaporkan ke polisi di Polres Kupang Kota oleh saudara korban, John Brand (42), warga Jalan R Suprapto No. 19 RT 07/RW 03 Kelurahan Oebobo, Minggu (28/4/2013) sekitar pukul 22.30 Wita dengan dugaan korban meninggal tidak wajar.

Dalam penyelidikan polisi, akhirnya jenazah korban diautopsi Jumat (14/6/2013) lalu atas permintaan keluarga, dan hasilnya terungkap banyak kejanggalan yang perlu diusut tuntas. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Polisi Kembangkan Penyelidikan Kasus Dana BOS SMKN 5 Kupang

Published

on

Ilustrasi (NET)

Kupang, penatimor.com – Penyelidik Unit Tipidkor Sat Reskrim Polres Kupang Kota terus mengembangkan penyelidikan kasus dugaan korupsi dana Bantuan Operasinal Sekolah (BOS) pada SMK Negeri 5 Kupang.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, belum lama ini, mengatakan, dalam pengembangan penyelidikan perkara dimaksud, tim penyelidik yang dipercayakan menangani perkara dimaksud, kembali memeriksa sejumlah saksi tambahan.

Sebelumnya kata Bobby, telah diperiksa lima orang saksi, masing-masing berinisial NN, AL, JA, SS, dan AM.

Pemeriksaan saksi berlangsung tertutup dari pukul 09.00-11.00, atau selama 2 jam.

Para saksi yang diperiksa ini berkapasitas sebagai tim pemeriksa dalam pengelolaan dana BOS pada SMK Negeri 5 Kupang.

Pemeriksaan yang dilakukan terhadap para saksi masih sebatas materi tentang pengelolaan dana BOS di SMK Negeri 5 Kupang.

Sebelumnya, penyelidik juga telah memeriksa dua orang saksi yang ada pengelola dana BOS pada SMK Negeri 5 Kupang, yaitu Ketua Panitia Pengelola Dana BOS SMK Negeri 5 Kupang Adrianus Banoet dan Bendahara BOS merangkap Bendahara Komite Semar Raja Kota.

Menurut Kasat Reskrim, penyelidikan terus dilakukan dengan memeriksa para pihak terkait dan mengumpulkan barang bukti.

“Kami juga terus melidik alur penggunaan dana BOS pada sekolah tersebut dengan melakukan pulbaket,” kata Bobby.

Perwira dengan pangkat dua balok di pundak itu, melanjutkan, selain melakukan pulbaket penggunaan dana BOS, penyelidik Unit Tipidkor Satreskrim juga fokus melidik penggunaan dana hibah langsung yang telah diterima oleh SMK Negeri 5 Kota Kupang.

“Para saksi yang sudah diperiksa merupakan pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan penggunaan dana BOS,” kata Bobby.

“Kami akan jadwalkan pemeriksaan lanjutan terhadap para saksi jika dibutuhkan keterangan tambahan,” lanjut dia.

Mantan Kasat Reskrim Polres Sikka ini, menambahkan, pihaknya belum dapat menentukan besaran kerugian dalam perkara dimaksud.

Namun, berdasarkan laporan pengaduan masyarakat, Unit Tipidkor langsung bergerak melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan korupsi tersebut.

Menurut Bobby, pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat terkait adanya dugaan penyimpangan terhadap pengelolaan dana BOS pada SMKN 5 Kupang.

“Atas dasar informasi masyarakat tersebut, kami melakukan telaah, pulbaket dan penyelidikan, sesuai dengan tahapan dan prosedur serta tahapan proses penyelidikan,” sebut Bobby. (R1)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor

error: Content is protected !!