Connect with us

HUKRIM

Kapolres Manggarai Dinilai Kangkangi Promoter Kapolri

Published

on

Petrus Salestinus (NET)

Jakarta, penatimor.com – Kapolres Manggarai harus kedepankan profesionalisme penyidiknya dalam memproses laporan polisi dari masyarakat, termasuk laporan Herman Mbawa, seorang warga Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur.

Demikian penegasan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Salestinus kepada wartawan di Jakarta, Senin (11/2).

Menurut Petrus Salestinus, Herman Mbawa merupakan korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh Bripka Lalu Sukiman, Kapospol Elar di Kabupaten Manggarai Timur.

Padahal laporan polisi sudah dibuat pada tanggal 30 November 2018, sehari setelah kejadian perkara penganiayaan yang terjadi di Elar.

Akan tetapi hingga saat ini, jelas Petrus, pelapor Herman Mbawa tidak pernah mendapat Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) sebagaimana layaknya SOP penyidik Polri di seluruh Indonesia dalam memberikan pelayanan publik bagi masyarakat bahkan program Promoter dari Kapolri.

Dia menilai buruknya pelayanan keadilan dan penegakan hukum oleh Polri termasuknya tidak fairnya penyelidik dan penyidik dalam melayani proses penegakan hukum dan ketertiban, disamping tidak adanya keberpihakan Polres Manggarai terhadap laporan masyarakat kecil, yang sering dipertontonkan oleh Polres Mangarai di hadapan publik.

Hal tersebut, lanjut Petrus, dapat disaksikan dalam kasus laporan polisi Herman Mbawa.

Kasus ini menjadi pergunjingan di tengah masyarakat Manggarai karena Kapolri mencanangkan Polri yang Promoter tetapi praktik dan orientasi oknum anggota polisi di Manggarai justru membangkangi program Promoter Kapolri melalui aksi penegakan hukum hanya berpihak kepada mereka yang kuat dan memiliki banyak uang.

“Praktik penegakan hukum yang hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, telah merusak citra Polri selama bertahun-tahun tidak mengalami perbaikan dan menghalang-halangi program Promoter Kapolri,” tandas Petrus Salestinus.

Sebagai contoh kasus laporan polisi Herman Mbawa yang melaporkan dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh Bripka Lalu Sukiman, Kapospol Elar yang sudah dua bulan lebih berjalan, namun hingga saat ini tidak ada kemajuan penyelidikan atau peyidikan yang diinformasikan kepada pelapor Herman Mbawa selaku korban.

Polres Manggarai juga dinilai malah lebih bersemangat memproses laporan Bripka Lalu Sukiman bahwa Herman Mbawa telah menghinanya dengan laporan tentang dugaan penganiayaan itu.

“Jika setiap rakyat kecil yang melaporkan perilaku melanggar hukum yang sering dilakukan oleh oknum Polri, lantas masyarakat dihadang dengan laporan polisi dari oknum Polri sebagai tindak pidana penghinaan, maka ini sama dengan Polri tidak mau bermitra dengan masyarakat, Polri tidak mau dikritik oleh masyarakat dan Polri tidak mau menjadikan masyarakat sebagai sumber informasi,” kritik Petrus.

Oleh karena itu advokat senior asal NTT di Jakarta itu meminta Kapori harus menghentikan praktik-praktik intimidasi rakyat kecil yang dilkukan oleh oknum-oknum Polri terhadap rakyat kecil di Manggarai, termasuk dengan cara rekayasa laporan balik sebagaimana dalam laporan polisi Bripka Lalu Sukiman, Kapospol Kecamatan Elar, Polres Manggarai bahwa Herman Mbawa, korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh Bripka Lalu Sukiman, pada tanggal 29 November 2018, sebagai perbuatan fitnah terhadap dirinya (Bripka Lalu Sukiman).

Laporan Polisi Lalu Sukirman dimaksud adalah laporan Nomor: LP/235/XII/2018/NTT/Res. Manggarai Tanggal 7 Desember 2018 untuk mengcounter Laporan Polisi Herman Mbawa Nomor : LP/230/XI/2018/NTT/Res. Manggarai, tertanggal 30 November 2018, sebagai daya tawar membujuk Herman Mbawa mencabut laporan polisi penganiayaan atas dirinya.

Oleh karena itu Kapolri dan Kapolda NTT harus menindak dan mengakhiri perilaku sewenang-wenang oknum Polres Manggarai terhadap masyarakat kecil.

“Polri harus bersikap profesional, menghormati hak-hak warga masyarakat, tidak boleh memihak apalagi untuk menghentikan penyelidikan atas laporan polisi Herman Mbawa, selaku korban penganiayaan,” tegas Petrus.

“Sikap melindungi kepentingan korps secara berlebihan pada gilirannya hanya melahirkan sikap tidak simpatik yang meluas dari masyarakat terhadap polisi, karena Kapolres Manggarai dianggap bersikap tidak adil dalam proses penyidikan dan tidak mendidik anggotanya yang sering bertindak main hakim sendiri terhadap rakyat kecil,” sambung dia.

Petrus Salestinus menilai hal ini jelas akan merusak profesionalisme polisi bahkan mencoreng program Kapolri yang terkenal dengan singkatan Promoter, dalam menjalankan tugas penegakan hukum dan ketertiban sebagai realisasi dari program Promoter Kapolri dalam bentuk aksi nyata di tengah masyarakat yaitu polisi yang profesional, moderen dan terpercaya.

“Namun yang terjadi di Manggarai, program Promoter Kapolri ini dikangkangi oleh Kapolres dan jajarannya. Terhadap isu-isu ini kita akan audiensi dengan Kapolri dan juga Kapolda NTT agar menjadi perhatian bersama. (R1)

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Berkas P-21, Tiga Pengebom Ikan di Kupang Segera Diadili

Published

on

Tiga nelayan asal Kabupaten Kupang diamankan petugas di Kantor Stasiun PSDKP Kupang, belum lama ini.

Kupang, penatimor.com – Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kupang telah melengkapi berkas perkara tiga orang nelayan asal Kabupaten Kupang, yang diduga melakukan pengeboman ikan di perairan Tanjung Batu Lelan, Kabupaten Kupang.

Berkas perkara telah lengkap (P-21) dan rencananya akan dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi NTT setelah pemilihan serentak Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Legislatif.

Kepala Stasiun PSDKP Kupang Mubarak, S.St.Pi., kepada wartawan, Selasa (16/4), mengemukakan bahwa setelah melakukan penangkapan ketiga nelayan tersebut pihaknya telah merampungkan berkas perkara ketiga tersangka.

“Direncanakan pelimpahan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan setelah Pemilu. Jadi sekitar tanggal 23 Aprli 2019 kami akan melakukan pelimpahan tahap dua,” ujarnya.

Terhadap para tersangka yakni tersangka Princes Batuk Yusuf Tanakh dan Yepson Tari, dikenakan Pasal 86 ayat (1) jo Pasal 12 ayat (1), Pasal 84 ayat (1) jo Pasal 8 ayat (1), Pasal 85 jo Pasal 9, UU RI No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-Undang RI No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

“Jadi ketiga tersangka, kami jerat dengan Undang-Undang Perikanan dengan ancaman hukuman maksimal 10 dan denda 2 miliar,” jelasnya.

Ketiga nelayan tersebut merupakan nelayan asal Kabupaten Kupang. “Mereka menangkap ikan dengan menggunakan bom yang dikemas dalam botol kratingdaeng,” katanya.

Sebelumnya, Mubarak menjelaskan, kejadian bermula ketika tim operasi PSDKP Kupang menggunakan kapal patroli Napoleon-054 sedang melakukan penyelaman untuk memantau kondisi karang di perairan Pulau Kambing.

Selanjutnya, tim melihat sebuah kapal motor nelayan dilengkapi dengan sampan yang membawa alat tangkap gill net dandan monofilamen yang dicurigai melakukan penangkapan ikan di Tanjung Batu Lelan, sekitar 1 km dari Pulau Kambing.

“Mereka terus melaju dan berusaha melarikan diri. Namun, saat kami menghampiri, mereka pun berhenti, setelah diberikan tembakan peringatan sebanyak tiga kali pada titik koordinat 10°17. 960′ S dan 123° 25.199′ E,” ungkap Mubarak.

Setelah ditahan, petugas melakukan pemeriksaan, ditemukan sejumlah ikan yang diisi dalam sebuah kulbok yakni ikan hiu, ketamba, ikan kakak tua, serta ikan teri sebanyak satu kantong jaring dengan ciri-ciri mata pecah, dan badan memar.

“Setelah ikan dibedah, ditemukan bercak darah yang diduga terkena serangan bom. Kami berusaha mencari barang bukti, namun tidak menemukan,” paparnya.

Dari hasil interogasi awal, lanjut Mubarak, dua nelayan tersebut mengaku menggunakan bom saat menangkap ikan.

Bom yang dikemas dalam bentuk botol minuman berenergi itu dilempar juragan kapal berinisial PM asal Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat.

Mubarak menambahkan, dengan dua alat bukti yang didapatkan tersebut, ketiga nelayan masing-masing Princes Batuk, Yusuf Tanakh dan Yepson Tari tersebut diamankan di Pelabuhan Perikanan Tenau Kupang untuk pemeriksaan lanjutan. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Gara-gara Kunci Kotak Suara, Linmas TPS Tusuk Ketua KPPS

Published

on

Foto Istimewa (sripoku.com)

Kupang, Penatimor.com – Seorang Ketua Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS), Rio Habibi ditusuk anggota Linmas TPS berinisial FB. Penyebabnya diduga hanya karena anak kunci gembok kotak suara.

Sebagaimana dilansir merdeka.com, peristiwa itu terjadi di depan TPS 8, Kelurahan Selangit, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Rabu (17/4) pukul 07.00 WIB. Tiba-tiba korban dan pelaku terlibat cekcok mulut.

Adu mulut berakhir penusukan. Korban mengalami luka tusuk ringan di dada dan langsung dievakuasi ke puskesmas terdekat. Sementara pelaku yang tak lain adalah anak ketua RT setempat langsung kabur.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara membenarkan kejadian itu. Meski sempat terjadi aksi penusukan yang dialami Ketua KPPS, TPS tersebut masih bisa dilangsungkan pencoblosan.

“Ya ada penusukan Ketua KPPS di Musi Rawas di bagian dada. Diduga karena masalah anak kunci,” ungkap Zulkarnain.

Sementara itu, Kapolsek Terawas, Musi Rawas, Iptu Arfan mengatakan, saat ini korban sedang melapor ke polsek setelah menjalani perawatan medis. Sementara pelaku masih dalam pemburuan.

“Korban masih melapor, untuk pelakunya masih lari. Korban itu Ketua KPPS dan pelaku Linmas,” kata Arfan.

Dari laporan yang diterimanya, kejadian itu diduga dipicu karena anak kunci kotak suara yang semestinya berjumlah tiga unit, tetapi hanya ada dua. Pelaku pun menuduh korban memegang satu anak kunci yang hilang.

“Ya soal anak kunci kotak suara, tapi lebih jelasnya belum tahu. Nanti kita sampaikan laporan selanjutnya,” pungkasnya. (merdeka.com/R2)

Continue Reading

HUKRIM

Polsek Alak Kejar Tiga Pemerkosa Mahasiswi

Published

on

Kapolsek Alak Kompol I Gede Sucitra didampingi penyidik pembantu PPA Polsek Alak Bripka Threena Labuh saat memberikan keterangan kepada wartawan di Mapolsek Alak, Rabu (10/4).

Kupang, penatimor.com – Polsek Alak terus mengejar tiga pelaku pemerkosaan terhadap korban KCBP (19), salah satu mahasiswi di lokasi Jalan Baru, Kelurahan Penkase, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Kasus kejahatan seksual tersebut terus didalami penyidik PPA Unit Reskrim Polsek Alak.

Kapolsek Alak Kompol I Gede Sucitra, SH., saat dikonfirmasi wartawan, menjelaskan pihaknya terus menyidik kasus pemerkosaan yang terjadi sekitar pukul 20.30 di kebun warga samping Jalan Baru Kelurahan Penkase Oeleta menuju Kelurahan Manutapen, Minggu (24/3) lalu.

“Kita masih mencari tahu para pelaku sesuai dengan keterangan korban dan mudah-mudahan bisa diungkap,” kata mantan Kapolsek Maulafa itu.

Kasus tersebut berawal saat korban KCBP dan pacarnya yang berinisial IS sementara asyik berpacaran sambil menikmati pemandangan di lokasi kejadian.

Tiba-tiba datang tiga orang pemuda dan langsung menodong korban dan pacarnya.

“Tiga pelaku tersebut menodong korban menggunakan barang tajam (parang) dan memaksa untuk menyerahkan barang milik kedua korban,” kata Kapolsek.

Saat ditodong pelaku, korban terpaksa menyerahkan dompet serta handphone nya.

Pacar korban lalu berusaha melarikan diri dan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Alak.

Saat IS melarikan diri, pacarnya jadi sasaran pelampiasan napsu dari para pelaku. Korban dipegang dan diperkosa secara bergiliran.

Polisi yang menerima laporan tersebut lalu mendatangi TKP. Namun pelaku mengetahui kedatangan polisi, langsung melarikan diri ke semak belukar.

“Dari pengakuan korban, dua orang pelaku sudah melakukan hubungan badan dengannya. Polisi cepat tiba di TKP jadi satunya tidak dapat giliran,” jelasnya.

Para korban lalu diarahkan ke Polsek dan dimintai keterangan. Korban tidak mengenal para pelaku, namun ciri-ciri pelaku sudah disampaikan kepada polisi.

Ketiga pelaku yang melarikan diri tidak sempat membawa barang-barang milik korban yang sebelumnya sudah dirampas.

“Polisi telah mendapat keterangan dari korban. Saat ini tengah dilakukan upaya penggungkapan dan penangkapan terhadap para pelaku,” sebut Kapolsek.

Perwira dengan pangkat satu melati di pundak tersebut mengimbau kepada masyarakat yang hendak melintas di jalan tersebut pada malam hari agar lebih berhati-hari karena kejadian kekerasan sudah berulang kali terjadi.

Pemerintah juga diharapkan dapat memasangkan lampu jalan di area tersebut.

Pasalnya ketiadaan lampu penerangan jalan di lokasi tersebut menyebabkan para pelaku mudah beraksi.

“Para orangtua juga kami imbau agar lebih menertibkan anak-anak agar pada malam hari tidak menggunakan tempat tersebut untuk berpacaran, meski pemandangan di situ bagus pada malam hari,” tutup Kapolsek. (R1)

Continue Reading

Trending

error: Content is protected !!