Connect with us

SELEBRITI

Buka Debat Capres, Judika Kenakan Baju Berbahan Tenun NTT

Published

on

Judika Sihotang saat tampil membuka debat Capres di Gedung Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (17/1). Dia mengenakan baju berbahan tenun ikat khas NTT.

Jakarta, penatimor.com – Debat calon presiden (capres) perdana di Pemilu Presiden 2019 diadakan malam tadi, Kamis (17/1).

Debat capres perdana tersebut berlangsung di Gedung Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan.

Penampilan penyanyi Judika Sihotang membuka debat capres perdana tersebut.

Jebolan Indonesian Idol itu tampil membawakan lagu ‘Zamrud Khatulistiwa’.

Dengan mengenakan baju berwarna hitam berbahan tenun ikat asal Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi NTT, suami presenter Duma Riris ini tampil di hadapan para penonton yang ada di tempat berlangsungnya debat tersebut tepat pukul 20.00 WIB.

‘Zamrud Khatulistiwa’ merupakan lagu yang diciptakan oleh Guruh Soekarno Putra. Lagu tersebut juga pernah dinyanyikan oleh Chrisye.

Debat tersebut berlangsung antara pasangan calon nomor urut satu yakni Joko Widodo dan Ma’ruf Amin dengan pasang calon nomor urut dua yakni Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Ira Koesno dan Imam Priyono menjadi moderator yang memandu jalannya debat pertama tersebut, dengan mengetengahkan Hukum, HAM, Korupsi dan Terorisme. (R4)

SELEBRITI

Penyanyi Pop Daerah NTT Ipu Naisanu Dikabarkan Meninggal Dunia

Published

on

Almarhum Ipu Naisanu (Dok.Ist)

Kupang, Penatimor.com – Ipu Naisanu, penyanyi pop daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kerap menyanyikan lagu daerah khusunya Amarasi dikabarkan meninggal dunia pada Rabu (20/2/2019).

Kabar meninggalnya Ipu Naisanu tersiar luas di media sosial (Medsos) Facebook. Sebagaimana dikabarkan akun Rita Naisanu dalam postingannya pada pukul 20.03 Wita, Rabu (20/2/2019).

Dalam postingannya, Rita Naisanu menuliskan “Selamat jalan ka2qu, “Ipu Naisanu” Damai bersama BAPA DI SURGA”, menyertakan foto almarhum yang sedang merangkul seorang wanita berpakaian kebaya berwarna kuning di sampingnya.

Postingan tersebut langsung diserbu ratusan komentar dan juga disertai emoticon like, super, dan sedih. Hingga berita ini diturunkan, terpantau sudah sebanyak 504 respon emoticon dan sebanyak 366 komentar.

Salah satu akun bernama Eman Koroh berkomentar, “Selamat jln salah satu seniman terbaik Amarasi, lebih khusus lagi Merbaun, Amarasi Barat. Semua yg terbaik telah kau berikan dan tetap terkenang sepanjang masa. Keluarga yg ditinggalkan diberikan kekuatan dan penghiburan oleh DIA sang pemilik kehidupan ini. Amin” tulisnya.

Pada postingan akun Facebook Rita Naisanu berikutnya, yaitu pada pukul 21.04 Wita, dia menuliskan “Cobaan apa nie TUHAN. Belum seminggu k2 sulung meninggal n nie hari laki2 bungsu nyusul.😭😭,” tulisnya dibubuhi emoticon menangis.

Ipu Naisanu diketahui berasal dari Desa Merbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT.

Sejumlah lagu daerah yang dinyanyikan almarhum Ipu Naisanu, seolah menjadi lagu wajib yang diputarkan pada acara pernikahan orang Amarasi. Salah satu lagu yang paling terkenal yaitu berjudul “Sea Nono”.

Selain itu, beberapa judul lagu yang dinyanyikan dan merupakan ciptaan Ipu Naisanu, yakni Koa Kiku, Tua Neno, Aijo Mama, Ai Kasian, dan Paling Sayang.

Hingga saat ini belum diketahui, apa penyebab atau sakit apa yang diderita penyanyi bersuara khas dan merdu ini. Selamat jalan Ipu Naisanu, semoga Tuhan menyediakan tempat yang layak bagimu. (R2)

Continue Reading

SELEBRITI

Mengenal Ria Maukafeli, Gadis Alor Bersuara Merdu, Viral di Medsos

Published

on

Ria Erawati Maukafeli

Kupang, penatimor.com – Ria Erawati Maukafeli (26), mahasiswa semester VI, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang sontak viral di media sosial karena kemampuan bernyanyi yang sangat baik.

Perempuan kelahiran Alor tersebut dalam video yang beredar luas, tampak capek namun ia tetap berusaha menghibur temannya agar mendapat pinjaman handpone untuk bisa menghubungi jemputannya.

Perempuan kelahiran Alor, 19 Oktober 1996 ini mengeluarkan semua bakat bernyanyinya karena ingin memenuhi permintaan temannya, Dian Mahatu Hasiza.

“Waktu itu saya sudah capek karena aktivitas latihan untuk ujian semester V hingga pukul 22.00, kemudian pas mau pulang tidak ada angkutan umum lagi jadi saya berniat untuk meminjam handpone milik teman karena untuk menghubungi adik untuk jemput, tapi teman saya Dian Maratu Hasiza bilang ada syaratnya. Syaratnya harus bernyanyi jadi saya bernyanyi sambil direkam teman saya,” jelasnya.

Dan pada akun facebook atas nama Dheea Mahsyaal lalu mengupload video. Dikatakan Dheea Mahsyaal merupakan teman dari Dian Mahatu Hasiza.

Ria Erawati Maukafeli baru mengetahui video dirinya saat bernyanyi itu viral saat dihubungi salah satu keluarganya bahwa ia sudah viral di media sosial.

“HP saya Nokia biasa jadi saya tidak tahu, padahal teman saya setelah saya bernyanyi ia langsung upload ke media sosial facebook,” katanya.

Akun facebook Dheea Mahsyaal mengungah video tersebut di grup facebook Viktor Lerik (veki lerik) Bebas Bicara Bicara Bebas, dan mendapat tanggapan positif dari netizen.

Anak ke 6 dari 10 bersaudara dari pasangan suami istri Max Maukafeli dan Hamuwelinda Maukafeli ini mengaku hobi bernyanyi, sehingga dalam melanjutkan pendidikannya di bangku perguruan tinggi pun, kedua orang tuanya menyarankan untuk memilih jurusan sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

“Memang saya hobinya bernyanyi tapi selama ini saya hanya bernyanyi biasa saja. Namun saat itu karena sudah terdesak dan sangat membutuhkan sehingga saya keluarkan semua kemampuan bernyanyi,” katanya sambil tertawa.

Lebih lanjut gadis yang sering disapa Ria ini juga memiliki cita-cita menjadi seorang guru ini mengaku akan terus mengasah kemampuannya dalam bernyanyi.

“Setelah videonya viral saya merasa lebih percaya diri lagi,” paparnya.

Setelah viral, Ria mengaku mendapat tawaran dari para kerabatnya di Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya di Jakarta dan dibiayaia oleh para donatur sehingga terus melatih vokalnya.

Menanggapi hal tersebut ia mengatakan jika memang ada donatur yang ingin membantunya ia harus berkoordinasi dengan kedua orang tuanya.

“Saya sekarang fokus menyelesaikan studi saya agar bisa membantu kedua orang tua yang selama ini sudah membesarkan saya hingga saat ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Pdt. Yusuf Panggo memberikan apresiasi terhadap Ria. Dia bahkan membuat postingan di laman akun facebook nya.

“Bernyayi itu karunia, Tuhan yang ciptakan ini pita suara… Ini anak nona Alor pung suara beta dengar merinding…Kalau Tuhan izinkan dia bisa jadi Diva dari NTT, Asli Pitchnya stabil dan ketika ambil nada tinggi napas panjang dan pitch tidak goyang…. Padahal tanpa Mic, hanya reverb dari ruangan saja, sudah mantap begini,” tulis Pdt. Yusuf.

“Tetap rendah hati adik dengan talenta atau bakat yang Tuhan berikan…. NTT nih ternyata masih talalu banyak suara bagus yang belum dieksplor saja,” sambung dia. (R3)

Continue Reading

SELEBRITI

Dua Anak Pantar Bersaing di The Voice Indonesia

Published

on

Ronald Bramantyo Magang dan Jaqlien Elsy Maukaling.

Jakarta, penatimor.com – Di ajang pencarian bakat nyanyi level nasional The Voice Indonesia 2018, ada dua kontestan berdarah Pantar, Kabupaten Alor.

Mereka adalah Ronald Bramantyo Magang yang tampil dengan kota asal Atambua dan Jaqlien Elsy Maukaling dari Makassar.

Keduanya mengikuti jejak Mona Magang yang sebelumnya lolos menjadi finalis Indonesian Idol 2017.

Ronald Magang awalnya mencoba keberutungannya di babak Blind Audition The Voice Indonesia 2018.

Dia membawakan lagu Damai Bersamamu dari penyanyi legendaris Chrisye dan berhasil dipilih masuk dalam team Anggun.

Di babak knockout, Ronald tampil menyanyikan salah satu lagu hits Kla Project berjudul “Tak Bisa Ke Lain Hati”.

Dia berhasil menunjukan kapasitasnya sebagai penyanyi berbakat, sekaligus mampu memberikan rasa yang unik kedalam lagu sehingga terdengar begitu bernyawa.

Tak heran, Coach Titi tak melewatkan kesempatan untuk men-steal Ronald dari Coach Anggun, sehingga membuatnya berhasil masuk ke Battle Round bersama TeamTiti.

Kisah hidup kontestan The Voice Indonesia ini sangat mengharukan. Ronald telah ditinggal oleh kedua orangtuanya yang meninggal saat berusia dua tahun dan tinggal di panti asuhan sebuah gereja di Atambua.

Namun, dia memiliki kemauan yang besar untuk mengejar mimpinya dengan mengikuti The Voice Indonesia.

Pada penampilan pertamanya, suasana terasa tegang karena hampir di akhir lagu belum ada coach yang menekan tombol. Padahal, suara Ronald sangatlah bagus dengan penempatan nada dan emosi yang tertata.

Di ujung lagu, Coach Titi DJ dan Anggun akhirnya menekan tombol. Linangan air mata berjatuhan dari Ronald karena terharu ada coach yang memilihnya.

Coach Anggun pun memuji penampilan Ronald yang dinilai sangat bagus. Dia terkesan dengan gaya bernyanyinya yang penuh penghayatan.

“Kamu nyanyinya enteng dan tenang, tapi fokus sama isi. Itu lebih syahdu. Cara kamu bernyanyi seperti lagunya punya kamu,” ujarnya di panggung The Voice Indonesia, GTV, MNC Studios, Jakarta, Kamis (22/11/2018) lalu.

“Kontrol nada dan emosi bagus banget, persis kayak Vidi Aldiano kalau nyanyi. Saya sempat lupa, ini lagu siapa saking enaknya kamu bernyanyi,” ujar Coach Titi DJ memuji.

Ronald pun memilih di antara kedua coach yang menekan tombolnya. Dia diminta untuk menduduki kursi coach yang memilih dan menekan tombolnya. Dan, Ronald pun menekan tombol dari kursi Coach Anggun.

Sementara itu, Jaqlien Elsy Maukaling tak sekedar membius audience dengan suaranya yang merdu, Jaqlien juga berhasil menyuguhkan alunan gitar yang begitu apik di panggung Blind Auditions.

Suaranya begitu indah didengar walau Jaqlien tidak banyak melakukan improvisasi vokal. Tak heran, para coaches langsung berbalik untuknya.

Pada penampilan kedua, Jaqlin tampil membawakan lagu berbahasa Korea dan berhasil maju ke babak Knock Out bersama Team VidiNino.

Jaqlien Elsy Maukaling tidak pernah menyangka, impiannya menjadi seorang penyanyi terkenal kini telah didepan mata.

Meski harus melalui perjalanan dan rintangan, dia akan tetap semangat demi mewujudukan cita-citanya tersebut.

Jaqlien menceritakan perjalanan musiknya hingga mencapai titik ini.

Lahir dari keluarga musisi, Jaqlien mulai menyukai nada sejak usia belia.

“Papa ku suka nyanyi dan bisa bermain musik, mama ku juga suaranya indah, saya sayang mereka,” tuturnya.

Berbeda dengan sang kakak, Ronald Carlos Maukaling, yang hanya bisa memainkan semua alat musik namun, tidak pandai bernyanyi.

“Dia gak bisa nyanyi tapi bermain semua alat musik bisa. Kebalikannya, saya bisa nyanyi tapi hanya bisa gitar,” katanya.

Sesekali waktu, ia sering berkolaborasi bersama kakak meski hanya sekedar latihan.

Awal mulai melantunkan ada, Jaqline mengikuti lomba nyanyi di gereja saat duduk kelas enam SD.

Saat itulah, ia mulai menyadari memiliki bakat dan mengembangkan potensinya melalui latihan-latihan ringan.

“Dulu pertama kali nyanyi itu, pas lomba nyanyi di gereja saya juara 2. Mulai ada passion dan sudah tau bisa nyanyi itu pas SMA sampai sekarang,” jelasnya.

Masa kecil Jaqlien, tak bebas berekspresi dikarenakan, sang papa yang begitu tegas dan sangat kepada anak perempuan satu-satunya ini.

“Kecil itu sulit, sulit ngapa-ngapain. karena papaku orangnya tegas dan sangat protect,” katanya.

Meski seperti, Jaqlien mengatakan apa yang telah dilalukan sang papa karena bentuk sayang dan cintanya kepada sang anak.

“Cara orang tua mendidik itu berbagai macam cara. Itu karena mereka sayang dan ingin melihat kita jadi manusia nantinya,” tuturnya.

Berkat didikan sang papa lah, Jaqlien bisa sekuat papa nya.

Baginya musik, sudah menjadi bagian dari hidup dan seperti keluarga, dari musiklah Jaqlien bisa mandiri.

“Dari musik saya bisa kuliah dan kehidupan sehari-hari bisa terpenuhi,” katanya.

Beberapa kali Jaqlien perform dievent-event besar Makassar bersama para musisi.

Tidak hanya itu ia juga sempat membentuk band, namun baginya sulit menyatukan ide dan pemahaman.

Selain suara yang khas, karakter lain dari penyanyi wanita kelahiran Pare-Pare, 01 Juni 1998 ini adalah selalu membawa boneka yang digantungnya sambil memainkan gitarnya.

“Jadi Louie itu bonekanya sama dengan ponakan saya, kembar,” tuturnya.

Hadirnya boneka tersebut setiap kali bernyanyi diatas panggung, bisa mengingatkan Jaqlin kepada kemenakan tercintanya.

Ia juga mengatakan musik dapat menyatukan keluarga dan mempertemukannya dengan banyak orang hebat.

Salah satunya bisa berkolaborasi dengan musisi besar Indonesia, Superman Is Dead disalah satu acara merupakan pencapaian Jaqlien menjadi penyanyi.

Momen yang tak pernah dilupakan, penyanyi wanita yang mewakili Makassar dalam ajang pencarian bakat tersebut adalah saat makan malam bersama keluarga lengkapnya.

“Makan malam bersama keluarga lengkap dan berdoa bersama kakak di backstage The Voice, pertama kali seumur hidup saya berdoa bersama kakak,” katanya.

Ia yang menyukai Glenn Fredly dan John Mayer ini, mengatakan menjaga konsistennya dunia musik dengan cara menikmati.

Bukan hanya tentang musik, bagi Jaqlien semua hal yang dikerjakan perlu merasa nyaman agar tidak mengeluh ketika dijalankan.

“Menikmati. Bukan hanya bermusik, setiap kerjaan apapun itu harus dinikmati, jangan lupa bersyukur, tidak mengeluh karna kalau mengeluh kita malah tidak memotivasi diri sendiri,” jelasnya.

Banyak keinginan Jaqlien yang ingin digapainya melalui musik.

Salah satunya, bisa menjadi juara The Voice Indonesia dan memiliki album dicintai para penikmat musik.

Selain itu, ia juga ingin bersenandung dan sepanggung bersama idolanya Glenn Fredly.

Sosok yang paling berjasa dalam perjalanan karier Jaqlien adalah sang ibu, Ferderika Elodea Maukaling.

“Mama, selalu ada buat saya, selalu support, tempat curhat terbaik,” katanya.

Baginya, Ferderika Elodea Maukaling bisa memposisikan diri sebagai teman dan sahabat terbaik untuk Jaqlien. (R4)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor