Connect with us

PENDIDIKAN

Miris, Siswa Tamatan SMP di Belu Tidak Bisa Lanjut Sekolah Karena Alasan Ini!

Published

on

Sekretaris Camat Reihat, Sidonio Da Silva

Kupang, Penatimor.com – Saat banyak orang meributkan terkait persoalan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi dan pembatasan Rombongan Belajar (Rombel), masyarakat di Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) justeru kebingungan dan kesulitan menyekolahkan anak-anak tamatan SMP, lantaran hingga saat ini belum ada satu pun SMA di daerah itu.

Akibatnya, banyak siswa tamatan sekolah menengah pertama (SMP) di daerah itu tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hal ini disampaikan Sekretaris Camat Raihat, Sidonio Da Silva saat mendatangi DPRD NTT, Jumat, (21/12/2018). Saat di DPRD NTT, Sidonio bertemu Anggota Komisi V DPRD NTT, Winston Neil Rondo.

Menurut Sidonio, di Kecamatan Raihat terdapat empat SMP dan hanya ada satu sekolah menengah kejuruan (SMK), sedangkan untuk SMA hingga saat ini belum ada. Sehingga, hal ini menjadi kebutuhan mendasar bagi warga di daerah itu. Pasalnya, hanya sebagian kecil  lulusan dari 4 SMP itu yang diakomodir di satu-satunya SMK itu.

“Di Raihat hanya ada satu SMK‎ saja, sementara tidak bisa akomodir lulusan dari empat SMP. Apalagi saat ini penerimaan siswa gunakan sistem zonasi,” kata Sidonio.

Sidonio menyebutkan, empat SMP yang ada di Raihat itu yakni SMPN 2 Tasifeto Timur, SMPN 2 Manuk, SMP Turiskain dan SMP Satu Atap Wetear.

“Setiap tahun empat sekolah ini luluskan hampir 300 siswa. Sementara lulusan yang diakomodir di SMK Raihat hanya sebagian kecil atau hanya sekitar 150 siswa saja,” sebutnya.

Kondisi ini, lanjut dia, menyebabkan banyak lulusan yang putus sekolah, karena selain penerimaan menggunakan sistem zonasi juga daya tampung di SMK Raihat yang terbatas.

“Karena itu, lulusan banyak yang tidak bisa lanjut. Kalaupun ada yang lanjut harus ke kecamatan tetangga seperti Kecamatan Lasiolat dan Lamaknen, itu pun kalau masih ada daya tampung,” ujarnya.

Sidonio menyatakan, selaku pemerintah kecamatan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Belu‎ untuk bisa mendukung rencana pembangunan SMA di Raihat. “Ini wilayah perbatasan, karena itu kita harapkan pemerintah bisa perhatikan supaya bisa dibangun satu SMA,” ujarnya.

Bahkan, Siddonio menambahkan, saat ini pihaknya sudah menyiapkan lahan untuk pembangunan SMA di dekat kompleks kantor camat setempat.

‎Anggota Komisi V DPRD NTT, Winston Neil Rondo mengatakan, persoalan yang dialami masyarakat khususnya di Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, perlu segera dicarikan solusi, agar tidak mengorbankan generasi muda bangsa dalam mengeyam pendidikan.

“Jangan biarkan anak-anak itu tidak melanjutkan pendidikan atau putus sekolah. Kami dorong agar dibuka satu SMA, namun keberadaan SMA tidak boleh merugikan SMK,” kata Winston.

Menurut Winston, beberapa waktu lalu, bersama Bupati Belu, Willybrodus Lay berkunjung dan melihat langsung kondisi di Kecamatan Raihat. “Kami langsung lihat kondisi di Raihat. Pemerintah kecamatan sangat antusias untuk mengurus pembangunan SMA di wilayah tersebut,” katanya.

Ketua Fraksi Demokrat DPRD NTT itu menyatakan, pemerintah harus hadir di Raihat untuk membantu anak-anak agar tidak putus sekolah. Diharapkan, UPT dan Dinas ‎harus mengkaji dan mempersiapkan agar SMA bisa hadir di Raihat.

“Saya salut kepada pimpinan kecamatan Raihat yang terus berjuang agar bisa bangun SMA di Raihat. Saya minta Dinas Pendidikan dan juga DPRD mari kita beri kado bagi Raihat.” ujarnya. (R2)

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PENDIDIKAN

PMDK PN, 16.666 Siswa Lolos ke Politeknik Negeri

Published

on

Mohamad Nasir

Semarang, penatimor.com – Pengumuman kelulusan hasil seleksi PMDK PN (Penelurusan Minat dan Kemampuan Politeknik Negeri) dirilis Selasa (16/4). Sebanyak 16.666 siswa dinyatakan lulus PMDK-PN.

Hasil yang langsung diumumkan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di Politeknik Negeri Semarang ini bisa dilihat melalui laman resmi http://pmdk.politeknik.or.id sejak Selasa (16/4) pukul 14.00 Wib.

“Tahun ini peserta yang dinyatakan lulus seleksi 41 politeknik negeri sebanyak 16.666 siswa dari 206.852 siswa yang mendaftar dari 8421 sekolah asal,” kata Menteri Nasir di Politeknik Negeri Semarang, Selasa (16/4).

Dia menyebutkan, jumlah pendaftar PMDK-PN 2019 naik 13 persen dari tahun lalu, yakni dari 183.827 siswa menjadi 206.852.

Hal ini menunjukkan siswa yang berminat untuk studi lanjut di politeknik naik secara signifikan. Bahkan di beberapa politeknik, ada kenaikan pendaftar mencapai hampir 30 persen.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Forum Direktur Politeknik Negeri Rachmad Imbang Tritjahjono menyampaikan, peserta bisa melihat hasil kelulusan di website. Caranya peserta memasukkan nomor pendaftaran.

“Begitu peserta memasukkan nomor pendaftaran, akan ada informasi bahwa yang bersangkutan diterima menjadi cadangan atau belum lolos,” ujar Rachmad.

Bagi peserta yang dinyatakan tidak lolos PMDK-PN bisa masuk ke Politeknik Negeri melalui ujian masuk politeknik nasional (UMPN). UNPN akan dibuka pada 20 Mei secara serentak di semua politeknik negeri, di luar jalur mandiri yang ditawarkan. (esy/jpnn/R1)

Continue Reading

PENDIDIKAN

UN SMP di Kota Kupang Diikuti 7.525 Siswa

Published

on

Filmon Lulupoy

Kupang, penatimor.com – Sebanyak 7.525 siswa SMP di Kota Kupang siap mengikuti Ujian Nasional (UN) pada pada 29 April mendatang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Kupang Filmon Lulupoy, mengatakan, jumlah sekolah penyelenggara sebanyak 58, terdiri dari 20 SMP Negeri dan 38 SMP Swasta di Kota Kupang.

“Jadi ujian nasional akan digelar setelah Pileg dan Pilpres juga masa perayaan Paskah. Diharapkan dengan waktu yang tersisa ini dapat dimaksimalkan untuk latihan soal dan kesiapan ujian lainnya,” kata Filmon saat diwawancarai di Balai Kota Kupang, Kamis (11/4).

Menurut dia, khusus untuk SMP tidak semua sekolah menggelar Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), karena keterbatasan sarana pendukung seperti komputer dan jaringan internet.

Sementara sekolah yang siap menggelar UNBK ada sebanyak 27 sekolah, seperti SMPN 1, SMP Santa Theresia, dan beberapa sekolah lainnya yang merupakan sekolah unggulan di Kota Kupang.

“Karena ada sekolah pinggiran yang jaringan internetnya tidak bagus, maka belum bisa dilaksanakan UNBK, maka mereka memilih untuk ujian nasional berbasis pensil kertas saja agar tidak mengambil risiko,” katanya.

Filmon mengaku, sebelum pelaksanaan Ujian Nasional, pihak sekolah juga sementara melaksanakan ujian sekolah.

Ujian yang dimulai sejak Senin (9/4) dimaksudkan untuk mengetahui persiapan siswa menghadapi Ujian Nasional.

Selain itu, ujian ini juga menjadi salah satu faktor penentu kelulusan bagi siswa selain hasil Ujian Nasional.

“Jadi sekolah juga melaksanakan ujian sekolah yang tentunya sangat berpengaruh karena menjadi salah satu penentu kelulusan siswa,” terangnya.

Dia berharap, Kota Kupang dapat lulus 100 persen dan mutu pendidikan semakin ditingkatkan dari waktu ke waktu, didukung dengan sarana prasaran yang memadai. (R1)

Continue Reading

PENDIDIKAN

UTBK Gelombang I Dimulai 13 April

Published

on

Ilustrasi (NET)

Jakarta, penatimor.com – Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) gelombang I akan dimulai pada 13 April 2019 mendatang.

Siswa pendaftar yang mengikuti tes tersebut akan menggunakan nilainya untuk Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) mengimbau para peserta agar melakukan pengecekan waktu pelaksanaan tes di kartu ujian yang diunduh melalui laman https://pendaftaran-utbk.ltmpt.ac.id. Di kartu juga tertera sesi tes, yakni pertama atau kedua.

Sebelum mengikuti ujian, siswa juga harus mengetahui lokasi ujian, sehingga dapat melakukan pengecekan lokasi terlebih dahulu.

Dengan demikian, peserta bisa memperkirakan waktu tempuh serta transportasi yang akan digunakan menuju lokasi.

Peserta diminta memperhatikan berbagai petunjuk yang tertera di kartu ujian. Misalnya barang apa saja yang boleh dan tidak boleh dibawa saat ujian.

Adapun UTBK akan dilaksanakan dalam dua gelombang. Pendaftaran UTBK untuk kedua gelombang telah ditutup pada 1 April 2019 lalu.

Ketua Pelaksana Eksekutif LTMPT Budi Prasetyo Widyobroto mengatakan, total peserta yang mendaftar UTBK 2019 kurang lebih 1,3 juta siswa.

Jumlah itu terdiri atas kelompok ujian Sains dan Teknologi (Saintek) serta Sosial dan Humaniora (Soshum).

“Jumlah peserta gelombang I sebanyak 698.317 siswa, gelombang II 597.099 siswa,” ujarnya saat dihubungi wartawan, Selasa (9/4).

Di antara jumlah tersebut, pendaftar reguler gelombang I sebanyak 523.956 siswa dan beasiswa Bidikmisi 174.361 siswa. Sementara gelombang II reguler tercatat 414.088 siswa, dan Bidikmisi 178.011 siswa.

Pelaksanaan tes untuk peserta UTBK gelombang I dilaksanakan pada 13 April-4 Mei 2019. Sedangkan, untuk gelombang II pada 11-26 Mei 2019.

Sebelumnya, peserta diperbolehkan mengikuti tes maksimal dua kali dengan syarat telah mendaftar di gelombang I dan gelombang II. Biaya pendaftaran ditanggung oleh peserta sebesar Rp 200.000 tiap tesnya. (R4)

Continue Reading

Trending

error: Content is protected !!