Connect with us

EKONOMI

Robert Sianipar Pimpin OJK NTT, Tingkatkan Edukasi Literasi Keuangan

Published

on

Sertijab Kepala OJK Provinsi NTT dari pejabat lama Winter Marbun kepada Robert Sianipar berlangsung di Hotel Aston Kupang, Rabu (5/12).

Kupang, penatimor.com – Pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT kembali berganti.

Pejabat lama Winter Marbun diganti oleh Robert H.P. Sianipar.

Acara pelantikan dan serah terima jabatan digelar di Hotel Aston Kupang, Rabu (5/12).

Sertijab ini dihadiri Heru Kristiyana selaku anggota Dewan Komisioner OJK RI dan Gubernur NTT Vicktor Bungtilu Laiskodat.

Gubernur dalam sambutannya, mengucapkan terima kasih kepada pejabat lama Winter Marbun.

“Terima kasih pak Winter karena sudah mau menjaga NTT selama 4 tahun. Selamat datang juga Kepala OJK yang baru, pak Robert H.P. Sianipar dan ibu Amelia Sianipar,” kata Gubernur.

“Saya bahagia karena mendapat partner baru dalam membangun Nusa Tenggara Timur. Dengan kehadiran Kepala OJK yang baru, semoga memberikan semangat baru dalam mengelola NTT,” lanjut mantan anggota DPR RI dua periode itu.

Sementara, Winter Marbun juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar OJK NTT, mitra kerja OJK, dan seluruh masyarakat NTT.

“Terima kasih semuanya, karena sudah membantu kami, khususnya saya pribadi dan secara umum OJK Provinsi NTT sampai saat ini melaksanakan tugas dengan baik,” ungkap Winter.

Harapannya, semua yang telah dilakukan itu memberikan kepuasan kepada masyarakat di NTT.

“Mungkin banyak hal yang belum bisa kami kerjakan, dan nanti akan diteruskan oleh pak Robert yang menggantikan saya,” lanjut dia.

Sedangkan, pejabat baru, Robert H.P. Sianipar, mengatakan, pihaknya akan meningkatkan edukasi literasi keuangan melalui sosialisasi bagi masyarakat.

Menurut dia, dalam berinvestasi harus mengenal 2L, legal dan logis.

“Legal artinya mempunyai izin atau tidak, sedangkan logis itu hasil investasi yang ditawarkan harus masuk akal,” ungkap Robert. (R3)

EKONOMI

Perkembangan Ekonomi Berbasis Digital di NTT Masih Tertinggal

Published

on

Ketua Wantimpres Sri Adiningsih bersama Wagub NTT Josef Nae Soi

Kupang, Penatimor.com – Perkembangan ekonomi berbasis digital di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih tertinggal dibandingkan dengan daerah lain seperti Makasar dan wilayah barat Indonesia pada umumnya.

Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Sri Adiningsih sampaikan ini saat berkunjung ke NTT dan bertemu dengan Wakil Gubernur, Josef A. Nae Soi di Ruang Rapat Gubernur, Selasa (19/3/2019).

Menurut Adiningsih, kesulitan yang sering ditemui adalah masih minimnya infrastruktur untuk jaringan internet, daya dukung listrik dan sumber daya manusia yang masih terbatas.

“Dengan semboyan membangun dari pinggiran, pemerintah menargetkan ratio elektrifikasi tahun 2019 mencapai 99,9 persen, serta pemasangan proyek palapa ring yang sudah mencapai 90 persen untuk wilayah timur Indonesia dan Juni ini ditargetkan sudah 100 persen,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Adiningsih menjelaskan terkait perkembangan ekonomi Indonesia di era digital. Dia mendorong pengembangan ekonomi digital karena mampu meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat NTT secara lebih cepat.

“NTT punya potensi besar dan sudah mulai berkembang menuju ekosistem ekonomi baru berbasis digital. Ekosistem start-up juga sudah mulai berkembang. Politeknik Negeri Kupang sudah mulai menggarap itu. Kalau sistem ekonomi baru ini dapat dioptimalkan, NTT akan lebih cepat bangkit menuju sejahtera,” jelasnya.

Masyarakat NTT, menurut dia, sudah familiar dengan ekonomi digital. “Bila kita membuka aplikasi start-up nasional yang sudah beken, ternyata ada beberapa produk dari NTT di dalamnya. Kaum milenial NTT tampaknya sudah mulai menggarap dan memanfaatkan peluang ini,” ujar Adiningsih.

Dia menyampaikan, pemerintah juga melakukan peningkatan program jaringan internet masuk desa. Melalui Sistem Informasi Desa dan Kawasan (SIDEKA), sudah ada 6.028 desa terkoneksi internet dan masih akan terus diperluas.

“Ada juga pelatihan gratis untuk peningkatan sumber daya manusia dari berbagai kementerian dan lembaga. Tahun 2020, ditargetkan akan muncul 1.000 technopreneur baru,” paparnya.

Alamanda Shantika, salah seorang pendiri aplikasi Gojek dalam sharing pengalamannya mengungkapkan, secara umum anak-anak NTT punya kemampuan nalar yang baik.

Kesan ini diperolehnya setelah pada tahun 2018, Binar Academy, lembaga yang didirikannya untuk melatih anak-anak muda membuat aplikasi bernilai ekonomis, mengadakan pelatihan di Kupang bekerja sama dengan Telkomsel.

Dari 180 peserta yang mendaftar melalui tes, ada 60 orang yang lulus. Pelatihan berlangsung selama sebulan di hotel secara gratis.

“Dari pelatihan yang sudah kami lakukan sejak dua tahun lalu, ini merupakan jumlah persentasi kelulusan tertinggi untuk Indonesia. Sebelumnya tingkat kelulusan hanya mencapai 4 sampai dengan 6 persen. Di Kupang, kita sangat surprised bisa mencapai 33 persen. Malahan ada 20 dari 60 peserta yang mendapat nilai 100 untuk logic test ini,” sebut Alamanda.

Tantangan yang dialami dalam pelatihan ini, lanjut dia, adalah soal perangkat. Ada sekitar 12 dari 16 orang anak yang tidak punya perangkat atau laptop sendiri saat mengikuti pelatihan. Juga tidak ada fasilitas untuk pembelajaran programming di luar universitas.

“Di kupang sini juga tidak ada tenaga ahli atau mentor yang dapat membagikan pembelajaran tentang programming sehingga harus kami datangkan dari Yogyakarta. Layanan internet di Kupang juga masih sangat minim dan sulit,” tandasnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Gubernur NTT menegaskan, dalam semangat NTT Bangkit menuju Sejahtera, Pemerintah Provinsi terus berupaya untuk meningkatkan ratio elektrifikasi di NTT dan juga memperluas daya jangkauan internet.

“Kami tidak akan sungkan-sungkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah pusat khususnya ibu ketua Wantimpres menyangkut kedua hal ini. Minggu lalu, saya baru menghadap Menteri Kominfo, Bapak Rusdiantara meminta bantuan perluasan jaringan internet,” ungkap Nae Soi.

“Bulan depan, Pak Rusdiantara kasih 439 BTS (Base Transceiver Station) untuk NTT. Kami juga sedang mengupayakan Sertifikasi Indikasi Geografis untuk kain tenun kami demi meningkatkan nilai ekonomisnya,” imbuhnya. (R2)

Continue Reading

EKONOMI

Transaksi Traveling via Kartu Kredit Semakin Melonjak

Published

on

Ilustrasi kartu kredit (NET)

Jakarta, penatimor.com – Senior Vice President Consumer and Transaction Bank Mandiri Region VIII Susatyo Anto Budiyono mengatakan, traveling menempati posisi ketiga dalam peringkat transaksi kartu kredit.

Urutan pertama dan kedua ialah transaksi pembelian alat elektronik serta gawai dan belanja di department store. Dua tahun lalu transaksi traveling berada di urutan kelima.

’’Tren transaksi kartu kredit untuk liburan terus meningkat dua tahun terakhir,’’ jelas Susatyo, Kamis (14/3).

Untuk meningkatkan tren itu, Mandiri bekerja sama dengan maskapai penerbangan dan biro perjalanan wisata (BPW) alias travel agent menggelar travel fair. Kali ini Mandiri menggandeng China Airlines dan 28 BPW.

Pameran itu berlangsung empat hari mulai Kamis (14/3). Target transaksinya mencapai Rp 4 miliar. Susatyo optimistis target tersebut akan tercapai.

Sebab, sangat tinggi minat wisatawan Jawa Timur (Jatim) bepergian dengan paket wisata.

’’Yang banyak paket wisata ke Jepang, Korea, dan Tiongkok,’’ kata Susatyo.

Tahun ini Mandiri menargetkan pertumbuhan nasabah baru kartu kredit sebesar 35 ribu. Sejauh ini jumlah kartu kredit yang sudah terbit sekitar 500 ribu.

’Mudah-mudahan (target) Oktober nanti bisa tercapai,’’ tutur Susatyo.

Sementara itu, Bank Mega bekerja sama dengan Transmart dan Visa meluncurkan kartu kredit baru. Namanya, Transmart Mega Card.

Direktur Consumer Banking Bank Mega Diza Larentie menuturkan bahwa produk rebranding (semula Mega Card) tersebut dilengkapi dengan teknologi nirsentuh atau contactless.

’’Untuk bertransaksi dengan nilai hingga Rp 1 juta, pemegang kartu cukup melakukan tap pada mesin EDC,’’ kata Diza.

Dia menegaskan bahwa kartu kredit nirsentuh cocok untuk masyarakat modern yang menginginkan apa-apa serbacepat, nyaman, dan gampang.

Tahun ini nilai transaksi Transmart Mega Card diharapkan mencapai Rp 8 triliun. Target tersebut meningkat dari sekitar Rp 6,8 triliun tahun lalu.

Diza juga berharap, kartu canggih itu mampu menambah jumlah nasabah baru hingga 50 ribu orang. (res/ken/R4)

Continue Reading

EKONOMI

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 5.463 Triliun

Published

on

Ilustrasi rupiah dan dolar.

Jakarta, penatimor.com – Jumlah utang luar negeri Indonesia pada akhir Januari 2019 mencapai USD 383,3 miliar atau sekitar sekitar Rp 5.463 triliun.

Angka itu terdiri dari utang luar negeri pemerintah dan bank sentral sebesar USD 190,2 miliar atau setara Rp 2.711 triliun serta utang swasta, termasuk BUMN, yang mencapai USD 193,1 miliar atau sekitar Rp 2.752 triliun.

Nominal utang luar negeri Indonesia naik 7,2 persen secara year on year (yoy) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

’’Secara tahunan, ULN Indonesia pada Januari 2019 tumbuh relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya,’’ kata Direktur Eksekutif-Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko, Jumat (15/3).

Peningkatan utang tersebut disebabkan adanya neto transaksi penarikan utang luar negeri dan pengaruh penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD.

Dengan demikian, utang investor asing dalam rupiah, nilainya lebih tinggi dalam denominasi USD.

Kenaikan posisi utang luar negeri memberikan kesempatan lebih besar bagi pemerintah untuk membiayai belanja negara dan berinvestasi.

Terutama pada sektor-sektor prioritas yang dibiayai pemerintah dengan dana utang luar negeri tersebut.

Di antaranya, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, konstruksi, jasa pendidikan, administrasi pemerintah, dan jasa keuangan plus asuransi.

Onny menegaskan, utang luar negeri berjangka panjang tetap mendominasi. Pangsa pasarnya mencapai 86,2 persen dari jumlah total.

’’Bank Indonesia dan pemerintah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan ULN dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan,” kata Onny.

Pengamat Indef Bhima Yudhistira mengatakan, front loading utang untuk membiayai belanja rutin, khususnya persiapan gaji ke-13 dan 14, menjadi pemicu meningkatnya utang luar negeri.

Selain itu, pemerintah manfaatkan inflow capital dari investor asing yang begitu deras masuk ke negara berkembang.

Hal senada disampaikan Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah.

Dia mengatakan, penyebab meningkatnya ULN adalah penerbitan surat-surat utang global sejak Desember lalu.

Utang itu digunakan untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 secara front loading.

Penerbitan surat-surat utang global tersebut, menurut Piter, memicu kenaikan cadangan devisa.

Namun, semua itu sudah menjadi bagian dari rencana pemerintah dalam APBN tahun ini yang totalnya mencapai Rp 359,3 triliun.

’’Utang ini memang dibutuhkan pemerintah,” kata Piter. (ken/nis/c7/hep/R4)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor

error: Content is protected !!