Connect with us

HUKRIM

Datangi Polresta, Pendeta Ini Mengaku Difitnah Pemilik Wedding Shop Kupang

Published

on

Hengki Go dan Pdt. Alfred Luase saat membuat laporan di SPKT Mapolres Kupang Kota, belum lama ini.

Kupang, penatimor.com – Pdt. (Emr) Alfred Luase mengaku difitnah dan nama baiknya dicemarkan.

Saat diwawancarai di Mapolres Kupang Kota, belum lama ini, dia juga mengaku dikecewakan pihak Wedding Shop Kupang milik Dessy Caroline Chandra Jaya.

Alfred menguraikan, persoalan tersebut bermula saat dia memakai jasa Wedding Shop Kupang untuk melayani acara pernikahan anaknya.

Menurut dia, semua awalnya baik-baik saja dan berjalan sesuai kesepakatan dengan nilai kontrak Rp 60 juta untuk acara wedding, dari awal hingga selesai.

“Namun ketika proses berlangsung, jelang proses peminangan itu kan kita harus memakai dulang antaran dan asesoris kain dan lainnya. Semua itu kan dari mereka sesuai item-item dalam kontrak. Tapi jelang hari peminangan, harusnya dua hari sebelumnya, tapi dia tunda-tunda sampai H-1, jam 7 malam baru dia kirim pakai ojek datang dulang antaran dan asesoris lain. Ternyata kita tidak bisa gunakan, karena dari segi bentuk itu sudah ketinggalan zaman. Karena dari kaca mata kami, kalau suatu usaha yang profesional seperti dia pasti banyak pilihan. Jadi kami yang pakai jasa dia tinggal pilih-pilih saja. Tapi ternyata tidak demikian dan jauh dari harapan,” kata Alfred yang sebelumnya melayani Jemaat GMIT Kota Baru, Kupang.

Alfred melanjutkan, barang-barang yang dinilai tidak sesuai itu terpaksa dikirim kembali.

“Kami juga sempat bertengkar di telepon dan akhirnya terjadi pertengkaran interen antara ibu-ibu dong dengan dia. Karena tidak pakai dia punya barang, malam itu kami keliling Kota Kupang cari dan dapat yang sesuai keinginan, dan barang punya dia kami suruh ojek antar pulang. Sementara pembayaran untuk item-item itu tetap seperti biasa,” ungkap Alfred.

Tidak hanya itu, menjelang hari pernikahan, sesuai kesepakatan, menggunakan M Hotel untuk kamar pengantin selama dua hari.

Tetapi ketika pelaksanaanya, tiba-tiba pihaknya mendapat informasi perubahan tempat tanpa alasan yang jelas, lalu seenaknya dipindahkan ke Amaris Hotel.

“Waktu itu kami tidak persoalkan, yang penting semua unsur dalam perjanjian itu harus dilaksanakan termasuk kamar pengantin. Nanti ketika acara nikah selesai, dan keluarga mengantar pengantin ke hotel, ternyata kamarnya amburadul. Ini buat kami keluarga laki-laki sangat malu di depan keluarga perempuan. Keluarga protes dan marah, tapi demi anak-anak kami coba tenang dan juga tidak komplain. Anggap saja selesai,” tandas dia.

Alfred juga mengelukan pelayanan rias pengantin dan orangtua, dimana karena sebelumnya sudah timbul konflik dengan istrinya, sehingga untuk orangtua tidak dirias di Wedding Shop, tetapi mereka memanggil penata rias lainnya ke rumah.

“Jadi sebenarnya mereka untung, karena semua yang sudah dibayar, kita tidak gunakan dia punya jasa. Jadi dalam hal ini kami dirugikan. Tapi kami tidak persoalkan dan menganggap semua telah selesai,” imbuhnya.

Namun ketika Hengki Go menjalin hubungan kerja dengan Dessy, dan dalam sebuah kesempatan yang bersangkutan mengeluarkan pernyataan yang tidak menyenangkan.

“Dia bilang basong pendeta ni sama saja, jangan seperti pendeta Kota Baru yang tidak benar. Ini pak Hengky yang dengar dan datang cari saya sampaikan. Saya dengan pak Hengky tidak berkenalan dan tiba-tiba beliau datang cari dengan sampaikan hal ini. Saya merasa nama baik saya dicemarkan, karena kami sudah beritikad baik terhadap yang bersangkutan dengan tidak mengungkit-ungkit masalah pelayanan yang banyak kekurangan itu. Tetapi dia bisanya berpretensi buruk terhadap kami. Sampai saat ini saya juga belum ketemu dengan dia untuk minta klarifikasi, dan saya datang ke Polres ini untuk memberikan keterangan, karena menurut yang kami dengar, ada banyak pihak yang ternyata juga dirugikan dan menjadi korban dari Wedding Shop, bahkan lebih parah dari kami. Dia pakai modus jelang hari H baru dia merubah sepihak, sehingga karena sudah kepepet, orang terpaksa pasrah dengan keadaan,” tandas Alfred.

Sementara, Hengki Go yang juga bersama Alfred di SPKT Mapolres Kupang Kota, membenarkan pernyataan Dessy.

“Dia bilang, basong ni pendeta ang. Beta juga pernah urus dengan pendeta Kota Baru itu, jadi basong pendeta ni harus bicara yang benar. Jadi konotasinya, seolah-olah katong ni bicara deng dia sonde benar,” ungkap Hengky.

Hengky melanjutkan, dirinya juga sudah melaporkan pemilik Wedding Shop Kupang kepada polisi sehubungan dengan dirinya diminta terlapor untuk merenovasi rumah Wedding Shop yang berada di Jl. Prof. Dr. W.Z. Yohanes Kupang No. 20 B-C.

Namun, lanjut Hengky, pada saat pekerjaan hampir selesai, yang bersangkutan memberhentikan pelapor secara sepihak dengan alasan yang menurutnya tidak masuk akal.

Pelapor mengatakan bahwa sisa uang pekerjaan masih cukup banyak yaitu sebesar Rp 153.750.000, sedangkan pekerjaan tinggal sedikit. Oleh karena itu pelapor merasa ditipu oleh yang bersangkutan.

“Saya juga pernah mengajak Ketua RT 07 Kelurahan Oetete, untuk memediasi masalah tersebut, tapi pada saat pertemuan yang bersangkutan tetap tidak mau,” ungkap Hengky.

“Saya sudah mencoba mediasi dengan dia ulang-ulang. Saya tidak pernah berniat melaporkan atau memperkarakan dia. Jadi kalau kami hari ini bisa datang di kepolisian, hanya karena kami ingin pembelaan atas kebenaran, karena saya juga korban,” lanjut dia.

Ketua RT 07 Oetete, Nelson Fanggidae, yang turut bersama-sama Hengky, mengatakan, semenjak membeli rumah di wilayahnya empat tahun terakhir, Dessy tidak pernah melapor diri sampai saat ini.

“Justru pak Hengky yang datang lapor ke kami, meminta izin untuk merenovasi rumah yang bersangkutan. Kalau ibu Dessy sampai sekarang belum pernah lapor diri ke kami sebagai RT. Pernah bapaknya datang dan kami minta agar anaknya lapor diri, jangan saat butuh pelayanan RT baru datang. Tapi tetap juga dia tidak datang sampai ada kasus ini,” ungkap Nelson.

Sebelumnya, pemilik Wedding Shop Kupang Dessy Caroline Chandra Jaya diadukan ke polisi di Mapolres Kupang Kota.

Perempuan 34 tahun yang juga warga Jl. Timor Raya, Kelurahan Kelapa Lima, sekitar depan Hotel On The Rock itu, dipolisikan dengan sangkaan melakukan dugaan tindak pidana penghinaan dan atau pencemaran nama baik.

Pelapor kasus ini adalah Hengki Go (49), warga Jl. H.R. Koroh, RT 012/RW 005, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Laporan kasus tersebut berdasarkan Surat Tanda Terima Laporan Polisi Nomor: LP/B/1041/XI/2018/SPKT Resor Kupang Kota yang diterima Kanit II SPKT Aiptu Mungsidin Lazula pada Senin (19/11).

Hengki dalam laporannya, mengatakan, kasus tersebut terjadi pada 4 November 2018 bertempat di gereja GKPKN, Jl. Pemuda, Kota Kupang.

“Dia (Terlapor), mengatakan saya pernah menelponnya dan ada yang memakinya. Dia juga menyatakan mempunyai bukti percakapan. Padahal saya tidak pernah menelponnya, dan tidak ada yang memaki dia,” tandas Hengki.

Sosok yang juga seorang pendeta itu, mengaku terlapor telah mencermarkan nama baiknya.

Sementara, Dessy Caroline Chandra Jaya yang dikonfirmasi via aplikasi WhatsApp, mengatakan dirinya belum mendapatkan pemberitahuan dalam bentuk apapun dari polisi.

“Bisa ikuti saja perkembangan kasus dimaksud di Polresta, karena saya belum mendapat surat dalam bentuk apapun. Bisa langsung dengan pengacara saya ya,” singkat Dessy.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi kepada wartawan, membenarkan adanya laporan tersebut.

“Kita masih meminta keterangan para pihak terkait dalam laporan tersebut,” singkat Bobby yang juga mantan Kasat Reskrim Polres Sikka. (R1)

HUKRIM

Cabuli Gadis 15 Tahun di Jl. Nangka, Oknum Pelajar Terancam 15 Tahun Penjara

Published

on

Bobby Jacob Mooynafi (Foto: Wiliam)

Kupang, penatimor.com – Kasus asusila terhadap anak di bawah umur terus saja terjadi di Kota Kupang.

Kali ini korbannya adalah gadis remaja berusia 15 tahun. Dia dicabuli oleh YL (17), oknum pelajar pada salah satu sekolah menengah atas di Kupang, yang sedang dalam kondisi mabuk minuman keras di Jl. Nangka, Kelurahan Lasikode, pada Selasa (8/1).

Kasus ini telah dilaporkan ke polisi di Polres Kupang Kota, Selasa (15/1).

Pelapornya adalah Heri Batileo SH.,MH., selaku kuasa hukum korban.

Heri dalam laporannya, menguraikan kronologi kasus tersebut sesuai keterangan korban.

“Pada waktu korban ke rumah teman nya karena lagi kumpul dan ngobrol, tapi ada anak-anak di Jalan Nangka lagi minum minuman keras di depan situ,” kata Heri.

Melihat pesta miras itu, korban dan temannya lalu masuk ke rumah dan duduk, namun tiba-tiba datang pelaku YL yang sedang dalam kondisi mabuk.

YL diduga mencabuli korban dengan menusukkan jarinya ke kemaluan korban.

“Perbuatan YL tersebut mengakibatkan korban mengalami sakit di kemaluan nya,” ungkap Heri.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, membenarkan adanya laporan tersebut.

“Benar ada laporan pencabulan dan korban datang melapor didampingi oleh Lembaga Hukum Surya NTT. Korban masih diambil keterangan,” kata Kasat Reskrim.

Menurut perwira yang juga mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu, pelaku dijerat dengan Pasal 82 Ayat 1 Undang-Undang Perlindungan Anak tahun 2016 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (R3)

Continue Reading

HUKRIM

Mahasiswa Politani Desak Dosen Laurensius Lehar Dipecat

Published

on

Alfonsus Wolla

Kupang, penatimor.com – Kasus dugaan perzinahan oknum dosen dan mahasiswi Politani Kupang, Dr. Laurensius Lehar (LL) dan Gratia Tania Magdalena Ngefak (GTMN) dinilai sangat memalukan serta mencoreng nama baik lembaga perguruan tinggi negeri (PTN) ini.

Terhadap ulah kedua oknum tersebut, mahasiswa Politani Kupang menuntut agar keduanya diberkan sanksi berat berupa pemecatan.

Pernyataan keras tersebut disampaikan Ketua BEM Politani Kupang, Alfonsus Wolla yang juga adalah mahasiswa Jurusan MPLK, Prodi MPLK, kepada wartawan di kampus Politani Kupang, Senin (14/1).

Menurut Alfonsus, kedua oknum ini telah mencoreng nama lembaga sehingga dosen harus diberikan sanksi yang berat, agar menjadi efek jera dan kepada mahasiswa di-drop out, karena sekarang masalah tersebut tidak lagi membawa nama pribadi namun melibatkan nama lembaga.

Lanjutnya, selama ini mahasiswa sangat menjaga nama baik lembaga tersebut dan dengan ulah kedua oknum tersebut, diberbagai media sosial, media cetak dan elektronik menjadi viral dan sudah tercoreng nama baik lembaganya itu.

“Apalagi mahasiswa yang terlibat baru semester satu. Dosen sebaiknya dipecat karena bergelar S3 dengan wawasan yang luas namun melecehkan sendiri lembaganya,” katanya.

Dikatakan, para dosen di Politani dianggap oleh mahasiswa sebagai orangtuanya sendiri, karena mahasiswa dititipkan oleh orangtua kepada para dosen agar bisa membimbing ke arah yang lebih baik, namun malah oknum dosen melakukan pelecehan lagi terhadap mahasiswa.

“Kami menganggap dosen sebagai orangtua kami sendiri, malah oknum dosen melakukan hal yang tidak diinginkan. Kami menganggap orangtua kami melakukan pelecehan terhadap anaknya sendiri,” tegasnya.

Terkait kesehariannya GTMN, Alfonsus mengungkapkan bahwa GTMN merupakan mahasiswa yang pendiam dan rajin mengikuti kegiatan akademik di kampusnya itu.

“Sesuai dengan pengamatan saya terhadap GTMN selama ini merupakan mahasiswa baru yang pediam dan penurut. Mungkin karena mahasiswa baru jadi pendiam namun tidak disangka kalau ada kejadian yang mencoreng nama lembaga seperti yang terjadi sekarang ini,” ungkap Alfonsus.

Terpisah, Direktur Politani Kupang Thomas Lapenangga, yang dikonfirmasi terkait tanggapan mahasiswa tersebut, mengatakan, sangat mendukung aspirasi dari mahasiswa atau pemikiran para pemuda untuk meningkatkan mutu pendidikan di lembaga PTN yang ia nahkodainya itu.

Namun harus harus melihat latar belakang sebuah persoalan secara cermat mulai dari akar masalahnya, sehingga setiap keputusan yang diambil tidak merugikan atau membuat suasana semakin ricuh.

“Kami menghargai apa yang disampaikan mahasiswa, karena selama ini mereka menjaga nama baik lembaga ini. Namun pemikiran anak muda ini kita juga memberikan mereka pemahaman yang baik tentang mekanisme dan sistem pengambilan keputusan,” ungkapnya.

Terhadap masalah ini, pihaknya tidak tinggal diam dan sementara mengambil langkah-langkah seperti pemanggilan terhadap kedua oknum tersebut untuk dimintai keterangan, serta melakukan rapat pengambilan keputusan secara bersama-sama oleh para pimpinan.

“Saya sudah rapat koordinasi untuk melihat persoalan ini untuk diambil langkah-langkah dengan teman-teman pimpinan lain, karena hal-hal tertentu saya selaku pimpinan mengambil keputusan, namun masalah seperti ini butuh pemikiran dan sumbangsi teman-teman pimpinan yang lain,” katanya.

Thomas Lapenangga mengaku oknum dosen LL dipanggil untuk dimintai keterangannya terkait masalah yang dilakukannya, namun sesuai dengan pengakuan LL pada saat kejadian dirinya tidak berada di lokasi, setelah ada keributan barulah ia datang dan kasus ini juga sudah disepakati untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

“Sudah ada upaya perdamaian dan langkah tersebut merupakan langkah yang diharapkan oleh pihak kampus. Proses perdamaian juga dituangkan dalam surat pernyataan,” paparnya.

Sementara langkah yang diambil pihak kampus sampai saat ini setelah berkoordinasi dengan para pimpinan belum ada kejelasan terkait sanksi.

Dikatakan hal ini disebabkan karena tidak ada aturan yang mengatur soal masalah seperti ini.

“Kami juga tidak ingin hal ini terjadi karena dengan pemberitaan di media massa dan tersebar di media sosial, nama baik lembaga ini tercoreng, namun sanksi ringan, sedang dan berat ini belum bisa di pastikan. Ini kembali kepada akar masalah. Sementara aturan yang ada apabila ada hukum tetap dari Pengadilan barulah diberikan sanksi,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Thomas mengatakan LL memiliki potensi yang baik kedepannya untuk diberikan tanggung jawab menjabati jabatan tertentu di Politani.

“Setelah dia pulang selesaikan studinya, saya melihat dia memiliki potensi, sehingga saya mau memberikan dia jabatan di bidang promosi. Namun tidak berselang lama kena masalah,” tandasnya.

Untuk nasib dari GTMN, lanjut Thomas, akan diberikan pembinaan khusus karena persoalan ini kembali ke akar persoalan yang terjadi.

Pihak pimpinan Politani yang dilibatkan dalam rapat koordinasi untuk membahas persoalan yang menimpa LL yakni Wakil Direktur I, Wakil Direktur II dan Wakil Direktur IV. Sementara Wakil Direktur III yang membidangi Kemahasiswaan tidak hadir karena sedang berhalangan.

Sementara itu, dosen LL yang dikonfirmasi koran ini mengaku tetap pada keterangan sebelumnya, bahwa saat penggerebekan itu dirinya tidak berada di kos-kosan mahasiswi tersebut. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Plt. Kadis Nakertrans Bakal Digugat Perdata, Dilaporkan ke Komnas HAM dan Ombudsman

Published

on

Kuasa Hukum, Dedy Jahapay dan keluarga mendampingi Selfina Marsia Etidena usai melaporkan Plt. Kadis Nakertrans Cs di depan SPKT Polda NTT, Senin (14/1).

Kupang, penatimor.com – Selain melaporkan secara pidana Plt. Kadis Nakertrans NTT Sisilia Sona dan Satgas TPPO ke Polda NTT, kuasa hukum korban Selfia Marsia Etidena, Dedy Jahapay juga segera melakukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Kupang.

“Selain pidana, kami juga tempuh upaya hukum secara perdata, karena korban mengalami kerugian secara materi,” kata Dedy.

Menurut pengacara muda di Kupang asal Alor itu, langkah hukum secara perdata dilakukan karena korban menuntut ganti rugi.

“Karena korban adalah mahasiswa, sehingga pencegahan keberangkatan ini telah membuat korban rugi waktu kuliah dan lain-lain,” kata Dedy.

Ditambahkan, kasus tersebut juga dilaporkan ke Ombudsman dan Komnas HAM. (R1)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor