Connect with us

HUKRIM

Polisi Ungkap Sindikat Pencuri Perhiasan Emas di Kupang, Tiga Pelaku Berstatus Pelajar

Published

on

Inilah sebagian barang bukti perhiasan emas yang berhasil diamankan polisi dari kedua pelaku (IST)

Kupang, penatimor.com – Aparat Polsek Kelapa Lima, Polres Kupang Kota, berhasil mengungkap kelompok pelaku pencurian perhiasan emas.

Kapolsek Kelapa Lima AKP Didik Kurnianto kepada wartawan di Kupang, Kamis (22/11), membenarkan.

Menurut Kapolsek, pada Rabu (21/11), sekira pukul 18.00, pihaknya telah melakukan penangkapan terhadap pelaku kasus pencurian barang emas.

“Penangkapan oleh anggota Polsek Kelapa Lima yang terjadi pada Rabu, 21 November 2018 sekitar pukul 12.30 bertempat di RT 011/RW 04, Kelurahan Nefonaek, Kecamatan Kota Lama,Kota Kupang, berdasarkan laporan polisi di Polsek Kelapa Lima tanggal 21 November 2018,” kata Kapolsek.

Didik yang juga mantan Kasat Reskrim Polres Kupang Kota itu juga mengurai kronologi kasus tersebut.

Dijelaskan, sekitar pukul 12.30, korban melaporkan kejadian ke Polsek Kelapa Lima.

Selanjutnya, sekitar pukul 13.30, Panit Reskrim Ipda Stef Siga bersama Kanit Buser Bripka Pius Riwu dan anggota Buser melakukan penyelidikan di sekitar TKP.

Dan sekitar pukul 14.30, dipimpin Kapolsek Kelapa Lima AKP Didik Kurnianto, dilakukan interogasi terhadap saksi RF (14), seorang pelajar di RT 011/RW 004, Kelurahan Nefonaek, Kecamatan Kota Lama, Kota kupang.

“Dalam keterangan saksi tersebut, dia mengatakan bahwa pada saat kejadian dirinya berada disekitar TKP, dan melihat para pelaku masuk ke dalam rumah korban,” sebut Kapolsek.

Sehingga, lanjut dia, pada saat itu saksi langsung lari meninggalkan TKP karena merasa takut terlibat dalam kasus tersebut.

Namun saksi RF mengaku tidak mengenal nama para pelaku, tetapi menurut saksi yang kenal para pelaku tersebut adalah temannya RH alias A (15), pelajar yang tinggal di Jl. Wairinding IV No.2 Kelurahan Nefonaek, Kecamatan Kelapa Lima.

Selanjutnya, sekitar pukul 15.00, berdasarkan informasi dari saksi R, anggota Polsek Kelapa Lima langsung menuju ke rumah A, dan mendapati saksi A.

Dalam keterangannya, saksi A mengatakan bahwa pelaku kasus pencurian tersebut adalah teman sekolahnya berinisial DR, dimana sekitar pukul 14. 30, pada saat pulang sekolah saksi A bertemu dengan DR di depan Rumah Sakit Mamami dan mereka sempat melakukan percakapan.

Dalam percakapan tersebut pelaku sempat menceritakan kepada saksi A bahwa dirinya sementara dicari oleh polisi karena telah melakukan pencurian bersama dengan dua orang temannya DR dan RW.

Setelah menceritakan kejadian tersebut pelaku DR dengan terburu-buru langsung meninggalkan saksi A.

Selanjutnya, sekira pukul 16.00, setelah mendapat informasi dari saksi A, tim Buser Polsek Kelapa Lima bersama dengan anggota Intelkam Polsek Kelapa Lima langsung melakukan penangkapan pelaku RW.

Dalam hasil interogasinya, RW mengakui perbuatannya bahwa dirinya bersama dengan dua orang temannya DR dan DH telah melakukan pencurian dan dirinya mendapat bagian dari DR berupa 1 buah jam tangan emas merek Eigner dan 3 buah cincin emas.

Kemudian dilakukan penggeledahan di rumah pelaku RW yang beralamat di belakang TMP Dharma Loka, Kelurahan Pasir Panjang dan ditemukan barang-barang emas tersebut disimpan di dalam laci lemari plastik.

Selain di rumah, pelaku juga menyembunyikan sebagian barang perhiasan tersebut di sekitaran Rumah Sakit Mamami Kupang, sehingga anggota Polsek Kelapa Lima kembali melakukan pencarian.

Dari hasil pencarian tersebut, beberapa perhiasan berhasil ditemukan di dekat tempat pembuangan sampah di sekitar pemukiman warga di seputaran Rumah Sakit Mamami.

Kapolsek Didik melanjutkan, sekitar pukul 20.00, kembali dilakukan penangkapan terhadap pelaku DH dari hasil pengembangan pelaku berhasil diamankan di kediamannya di Kelurahan Oepura.

Dan dari pengakuannya, pelaku DH mengaku dirinya mendapat bagian berupa 1 buah handpone merek BlackBerry Bold warna putih, namun barang tersebut dia buang di sekitar TKP.

Kemudian kembali dilakukan pencarian barang bukti dan berhasil menemukan handpone tersebut di dekat TK, di bawah sebuah pohon dalam keadaan layar pecah.

“Berdasarkan keterangan dari pelaku mengatakan bahwa mereka masuk ke dalam rumah tersebut dengan cara mengambil sebatang pohon kayu yang berada di sekitar TKP dan menyandarkan batang pohon tersebut ke dinding rumah kemudian dijadikan pijakan untuk masuk melalui ventilasi udara dan pada saat keluar para pelaku kembali keluar lewat ventilasi udara tersebut,” urai Kapolsek.

Dari hasil pengembangan tersebut diamankan barang bukti berupa, 1 buah jam tangan emas, 1 buah ring giok emas 1 buah cincin giok, 1 buah cincin emas mata merah, 1 buah cincin emas mata putih, 1 pasang anting daun, 1 buah cincin bulat, 1 buah cincin mata putih hilang dua,1 buah gelang tangan emas anak Hello Kitty, 1 buah cincin emas anak Hello Kitty, 1 buah kalung rantai emas yang berbentuk anggur, 1 buah kalung rantai emas mainan, 1 pasang anting emas anak-anak, 1 buah anting salip emas, 1 buah anting emas Hello Kitty, 1 buah anting anak, 12 potongan emas yang sudah patah-patah, uang koin pecahan Rp 1000 sebanyak Rp 43.000, uang koin pecahan Rp 500 sebanyak Rp 23.000, uang koin pecahan Rp 50 sebanyak Rp 450, 1 lembar uang kertas pecahan Rp 5000, 1 lembar uang kertas Rp 20.000, 2 lembar uang kertas pecahan Rp 1000, 1 lembar uang kertas pecahan Rp 2000 dan 1 buah HP BB warna putih yang sudah dalam keadaan rusak.

“Para pelaku pencurian tersebut merupakan pelajar, masing-masing berinisial RW dan DH sudah diamankan di Polsek Kelapa Lima. Sedangkan pelaku DR masih dalam pencarian dan belum diketahui keberadaannya,” pungkas Kapolsek Didik Kurnianto. (R3)

HUKRIM

Cabuli Gadis 15 Tahun di Jl. Nangka, Oknum Pelajar Terancam 15 Tahun Penjara

Published

on

Bobby Jacob Mooynafi (Foto: Wiliam)

Kupang, penatimor.com – Kasus asusila terhadap anak di bawah umur terus saja terjadi di Kota Kupang.

Kali ini korbannya adalah gadis remaja berusia 15 tahun. Dia dicabuli oleh YL (17), oknum pelajar pada salah satu sekolah menengah atas di Kupang, yang sedang dalam kondisi mabuk minuman keras di Jl. Nangka, Kelurahan Lasikode, pada Selasa (8/1).

Kasus ini telah dilaporkan ke polisi di Polres Kupang Kota, Selasa (15/1).

Pelapornya adalah Heri Batileo SH.,MH., selaku kuasa hukum korban.

Heri dalam laporannya, menguraikan kronologi kasus tersebut sesuai keterangan korban.

“Pada waktu korban ke rumah teman nya karena lagi kumpul dan ngobrol, tapi ada anak-anak di Jalan Nangka lagi minum minuman keras di depan situ,” kata Heri.

Melihat pesta miras itu, korban dan temannya lalu masuk ke rumah dan duduk, namun tiba-tiba datang pelaku YL yang sedang dalam kondisi mabuk.

YL diduga mencabuli korban dengan menusukkan jarinya ke kemaluan korban.

“Perbuatan YL tersebut mengakibatkan korban mengalami sakit di kemaluan nya,” ungkap Heri.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, membenarkan adanya laporan tersebut.

“Benar ada laporan pencabulan dan korban datang melapor didampingi oleh Lembaga Hukum Surya NTT. Korban masih diambil keterangan,” kata Kasat Reskrim.

Menurut perwira yang juga mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu, pelaku dijerat dengan Pasal 82 Ayat 1 Undang-Undang Perlindungan Anak tahun 2016 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (R3)

Continue Reading

HUKRIM

Mahasiswa Politani Desak Dosen Laurensius Lehar Dipecat

Published

on

Alfonsus Wolla

Kupang, penatimor.com – Kasus dugaan perzinahan oknum dosen dan mahasiswi Politani Kupang, Dr. Laurensius Lehar (LL) dan Gratia Tania Magdalena Ngefak (GTMN) dinilai sangat memalukan serta mencoreng nama baik lembaga perguruan tinggi negeri (PTN) ini.

Terhadap ulah kedua oknum tersebut, mahasiswa Politani Kupang menuntut agar keduanya diberkan sanksi berat berupa pemecatan.

Pernyataan keras tersebut disampaikan Ketua BEM Politani Kupang, Alfonsus Wolla yang juga adalah mahasiswa Jurusan MPLK, Prodi MPLK, kepada wartawan di kampus Politani Kupang, Senin (14/1).

Menurut Alfonsus, kedua oknum ini telah mencoreng nama lembaga sehingga dosen harus diberikan sanksi yang berat, agar menjadi efek jera dan kepada mahasiswa di-drop out, karena sekarang masalah tersebut tidak lagi membawa nama pribadi namun melibatkan nama lembaga.

Lanjutnya, selama ini mahasiswa sangat menjaga nama baik lembaga tersebut dan dengan ulah kedua oknum tersebut, diberbagai media sosial, media cetak dan elektronik menjadi viral dan sudah tercoreng nama baik lembaganya itu.

“Apalagi mahasiswa yang terlibat baru semester satu. Dosen sebaiknya dipecat karena bergelar S3 dengan wawasan yang luas namun melecehkan sendiri lembaganya,” katanya.

Dikatakan, para dosen di Politani dianggap oleh mahasiswa sebagai orangtuanya sendiri, karena mahasiswa dititipkan oleh orangtua kepada para dosen agar bisa membimbing ke arah yang lebih baik, namun malah oknum dosen melakukan pelecehan lagi terhadap mahasiswa.

“Kami menganggap dosen sebagai orangtua kami sendiri, malah oknum dosen melakukan hal yang tidak diinginkan. Kami menganggap orangtua kami melakukan pelecehan terhadap anaknya sendiri,” tegasnya.

Terkait kesehariannya GTMN, Alfonsus mengungkapkan bahwa GTMN merupakan mahasiswa yang pendiam dan rajin mengikuti kegiatan akademik di kampusnya itu.

“Sesuai dengan pengamatan saya terhadap GTMN selama ini merupakan mahasiswa baru yang pediam dan penurut. Mungkin karena mahasiswa baru jadi pendiam namun tidak disangka kalau ada kejadian yang mencoreng nama lembaga seperti yang terjadi sekarang ini,” ungkap Alfonsus.

Terpisah, Direktur Politani Kupang Thomas Lapenangga, yang dikonfirmasi terkait tanggapan mahasiswa tersebut, mengatakan, sangat mendukung aspirasi dari mahasiswa atau pemikiran para pemuda untuk meningkatkan mutu pendidikan di lembaga PTN yang ia nahkodainya itu.

Namun harus harus melihat latar belakang sebuah persoalan secara cermat mulai dari akar masalahnya, sehingga setiap keputusan yang diambil tidak merugikan atau membuat suasana semakin ricuh.

“Kami menghargai apa yang disampaikan mahasiswa, karena selama ini mereka menjaga nama baik lembaga ini. Namun pemikiran anak muda ini kita juga memberikan mereka pemahaman yang baik tentang mekanisme dan sistem pengambilan keputusan,” ungkapnya.

Terhadap masalah ini, pihaknya tidak tinggal diam dan sementara mengambil langkah-langkah seperti pemanggilan terhadap kedua oknum tersebut untuk dimintai keterangan, serta melakukan rapat pengambilan keputusan secara bersama-sama oleh para pimpinan.

“Saya sudah rapat koordinasi untuk melihat persoalan ini untuk diambil langkah-langkah dengan teman-teman pimpinan lain, karena hal-hal tertentu saya selaku pimpinan mengambil keputusan, namun masalah seperti ini butuh pemikiran dan sumbangsi teman-teman pimpinan yang lain,” katanya.

Thomas Lapenangga mengaku oknum dosen LL dipanggil untuk dimintai keterangannya terkait masalah yang dilakukannya, namun sesuai dengan pengakuan LL pada saat kejadian dirinya tidak berada di lokasi, setelah ada keributan barulah ia datang dan kasus ini juga sudah disepakati untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

“Sudah ada upaya perdamaian dan langkah tersebut merupakan langkah yang diharapkan oleh pihak kampus. Proses perdamaian juga dituangkan dalam surat pernyataan,” paparnya.

Sementara langkah yang diambil pihak kampus sampai saat ini setelah berkoordinasi dengan para pimpinan belum ada kejelasan terkait sanksi.

Dikatakan hal ini disebabkan karena tidak ada aturan yang mengatur soal masalah seperti ini.

“Kami juga tidak ingin hal ini terjadi karena dengan pemberitaan di media massa dan tersebar di media sosial, nama baik lembaga ini tercoreng, namun sanksi ringan, sedang dan berat ini belum bisa di pastikan. Ini kembali kepada akar masalah. Sementara aturan yang ada apabila ada hukum tetap dari Pengadilan barulah diberikan sanksi,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Thomas mengatakan LL memiliki potensi yang baik kedepannya untuk diberikan tanggung jawab menjabati jabatan tertentu di Politani.

“Setelah dia pulang selesaikan studinya, saya melihat dia memiliki potensi, sehingga saya mau memberikan dia jabatan di bidang promosi. Namun tidak berselang lama kena masalah,” tandasnya.

Untuk nasib dari GTMN, lanjut Thomas, akan diberikan pembinaan khusus karena persoalan ini kembali ke akar persoalan yang terjadi.

Pihak pimpinan Politani yang dilibatkan dalam rapat koordinasi untuk membahas persoalan yang menimpa LL yakni Wakil Direktur I, Wakil Direktur II dan Wakil Direktur IV. Sementara Wakil Direktur III yang membidangi Kemahasiswaan tidak hadir karena sedang berhalangan.

Sementara itu, dosen LL yang dikonfirmasi koran ini mengaku tetap pada keterangan sebelumnya, bahwa saat penggerebekan itu dirinya tidak berada di kos-kosan mahasiswi tersebut. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Plt. Kadis Nakertrans Bakal Digugat Perdata, Dilaporkan ke Komnas HAM dan Ombudsman

Published

on

Kuasa Hukum, Dedy Jahapay dan keluarga mendampingi Selfina Marsia Etidena usai melaporkan Plt. Kadis Nakertrans Cs di depan SPKT Polda NTT, Senin (14/1).

Kupang, penatimor.com – Selain melaporkan secara pidana Plt. Kadis Nakertrans NTT Sisilia Sona dan Satgas TPPO ke Polda NTT, kuasa hukum korban Selfia Marsia Etidena, Dedy Jahapay juga segera melakukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Kupang.

“Selain pidana, kami juga tempuh upaya hukum secara perdata, karena korban mengalami kerugian secara materi,” kata Dedy.

Menurut pengacara muda di Kupang asal Alor itu, langkah hukum secara perdata dilakukan karena korban menuntut ganti rugi.

“Karena korban adalah mahasiswa, sehingga pencegahan keberangkatan ini telah membuat korban rugi waktu kuliah dan lain-lain,” kata Dedy.

Ditambahkan, kasus tersebut juga dilaporkan ke Ombudsman dan Komnas HAM. (R1)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor