Connect with us

UTAMA

Jelang Sidang APBD 2019, Pemkot Sinkronkan RKA dan KUA PPAS

Published

on

Thomas Jansen Gah

Kupang, penatimor.com –  Bulan November 2018 merupakan jadwal sidang pembahasan Anggaran Perencanaan Belanja Daerah (APBD) tahun 2019.

Pemerintah Kota Kupang pun telah menyusun berbagai langkah dan proses untuk pelaksanaan pembahasan anggaran murni 2019.

Hal ini diungkapkan Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kupang, Thomas Jansen Ga, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (7/11).

Thomas menjelaskan, saat ini, masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sementara dalam proses penyesuaian Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) dengan Bappeda Kota Kupang.

“Kami sementara dalam proses untuk sinkronkan antara RKA dari masing-masing OPD dan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) tahun 2019 yang telah selesai dibahas beberapa waktu lalu,” kata Thomas.

Dia menjelaskan, masing-masing OPD telah merancangkan berbagai program kegiatannya, menindaklanjutinya, dan harus disinkronkan dengan KUA PPAS yang telah dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah dan DPRD Kota Kupang.

“Jadi rencana kegiatan dan anggaran yang dibuat oleh masing-masing OPD harus disinkronkan lagi dengan KUA PPAS yang telah disetujui dengan DPRD beberapa waktu lalu. Jangan sampai ada perbedaan. Harus ada penyesuaian dan sinkronisasi,” jelasnya.

Target Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD) Kota Kupang, kata Thomas, setelah KUA PPAS dan RKA sudah sinkron, dan setelah didapat hasil keputusan Undang-Undang APBN, berapa DAK dan DAU yang didapat Pemerintah Kota Kupang, dari itulah baru dibagikan ke semua OPD sesuai dengan kebutuhan dan rencana kerja yang telah diprogramkan.

“Kita akan lebih fokus pada infrastruktur kota, kebersihan penataan ruang dan lingkungan hidup, drainase, lampu jalan dan lampu taman. Itu merupakan kebutuhan-kebutuhan publik yang harus dipenuhi,” kata Thomas.

Menurutnya, berkaitan dengan pelayanan publik, ada OPD-OPD yang berkaitan atau menangani masalah administrasi, fasilitas publik dan lainnya, sehingga tidak bisa dikatakan ada yang prioritas dan lainnya, karena semua pelayanan itu merupakan kebutuhan masyarakat.

“Contohnya, kebutuhan publik untuk pelayanan administrasi, seperti pelayanan di Dinas Kependudukan dan Pencacatan Sipil, kebutuhan masyarakat akan infrastruktur dan kebutuhan masyarakat yang lain. Jadi semua OPD memiliki peran dan fungsinya masing-masing,” terangnya.

Thomas mengaku, untuk kesehatan, pendidikan dan layanan sosial juga menjadi perhatian. Pasalnya tiga pelayanan ini yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, sehingga perlu ditingkatkan, baik dari segi anggaran maupun dari segi SDM untuk memperbaiki sistem pelayanan.

“Prinsipnya semua pelayanan harus dibenahi. Dalam APBD 2019 ini juga, harus sesuai dengan visi misi kepala daerah, sehingga semua program yang telah direncanakan bisa dijalankan dengan baik,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Kupang Hermanus Man, mengatakan, masa sidang anggaran murni 2019 akan segera dimulai, yaitu pada minggu kedua atau ketiga November, dan harus bisa selesai pada 30 November.

“Kami berupaya agar semua proses sampai pada pembahasan dan pengetukan palu tidak terlambat. Semuanya harus berjalan sesuai dengan aturan dan mekanisme yang berlaku,” kata Wawali. (R1)

POLKAM

2.734 Pemilih di Sumba Timur Dikeluarkan dari DPTHP

Published

on

Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan tahap 2 Pemilihan Umum Tahun 2019 Tingkat Provinsi NTT, di aula KPU NTT, Rabu (14/11/2018)

Kupang, Penatimor.com – Sebanyak 2.734 pemilih di Kabupaten Sumba Timur dikeluarkan dari Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan tahap 2 (DPTHP2) karena pelaksanaan penetapannya tidak sesuai dengan Surat KPU Nomor 1351.

Ketua KPU NTT, Maryanti Luturmas Adoe sampaikan ini dalam Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan tahap 2 Pemilihan Umum Tahun 2019 Tingkat Provinsi NTT, di aula KPU NTT, Rabu (14/11/2018).

Maryanti menyatakan hal itu setelah mendengar penjelasan dari Komisioner KPU Kabupaten Sumba Timur yang menyampaikan bahwa penetapan DPTHP2 itu dilakukan setelah berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) setempat yang menjamin untuk segera memberikan e-KTP kepada para pemilih dimaksud.

Menurut Maryanti, hal tersebut sebenarnya belum pasti, namun pihak KPU Sumba Timur telah mengambil sikap dan keputusan untuk memasukkannya ke dalam DPT. Karena itu, KPU Sumba Timur harus mengeluarkan 2.734 pemilih tersebut dari DPTHP2.

“Karena kalau tetap diakomodir maka hal itu melanggar perintah dari KPU. Jadi kita bukan ikut rekomendasi dari pihak lain, karena lembaga ini menganut hirarki,” ujar Maryanti.

Dia menegaskan, apabila para pemilih telah melakukan perekaman e-KTP maka hal itu dimungkinkan untuk diakomodir, namun jika sama sekali belum melakukan perekaman dan hanya sekadar dijanjikan oleh Disdukcapil, tentu para pemilih tidak dapat diakomodir ke dalam DPTHP2.

“Jadi kalau belum ada perekaman dan baru dijanjikan saja maka kita jangan sekali kali berani mengakomodir. Karena itu kita juga harus berani mengakui hal ini, dan juga siap untuk mengubah. Artinya, ada pekerjaan rumah bagi KPU Sumba Timur untuk mengeluarkan by name 2.734 pemilih dari DPTHP2,” tegasnya.

Ketua Bawaslu NTT, Thomas Mauritius Djawa, sependapat dengan KPU NTT agar sebanyak 2.734 pemilih tidak dimasukkan ke dalam kategori DPTHP2, dengan catatan nama-nama pemilih yang dikeluarkan tersebut tetap diinput agar tidak mempengaruhi pemilih-pemilih lainnya.

“Catatannya adalah agar dipastikan ketersebaran dari 2.734 ini, karena ini tidak hanya di satu lokasi saja, tetapi tersebar di sekian TPS, sekian desa dan kecamatan. Kita tidak hanya mengejar angka tetapi substansi dari nama-nama yang sebanyak 2.734 ini,” tandasnya.

Pleno tersebut berhasil menyelesaikan DPTHP2 untuk 12 dari 22 kabupaten/kota yang ada di Provinsi NTT, sedangkan sisanya ditunda. Pleno diskors dan akan dilanjutkan pada Kamis (15/11/2018). (R2)

Continue Reading

SOSBUD

Forum Pencagahan HIV/AIDS Kota Kupang Kritik Rencana Penutupan Lokalisasi

Published

on

Ilustrasi/ foto: net

Kupang, Penatimor.com – Rencana penutupan lokalisasi Karang Dempel (KD) oleh Pemerintah Kota Kupang banyak menuai kritikan oleh berbagai pihak. Sebab kebijakan ini dinilai tidak berdasarkan kajian yang jelas dan tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Salah satu kekhawatiran yang muncul sebagai dampak dari penutupan lokalisasi adalah pekerja seks yang selama ini berkerja pada satu lokasi kemudian tersebar untuk tetap melakukan aktivitas ini.

“Hal ini kemudian akan mempersulit pemerintah untuk mengidentifikasi potensi penyebaran HIV/AIDS,” kata Koordinator Forum Pencagahan HIV/AIDS Kota Kupang, Inosentus Natio dalam keterangan tertulisnya yang diterima media ini di Kupang, Rabu (14/11/2018).

Menurut Natio, kebijakan ini dinilai telah mengabaikan hak ekonomi dan sosial pekerja seks yang kemudian akan menimbulkan masalah baru karena ada sekian banyak anak yang putus pendidikannya sebab biaya pendidikan anak-anak itu didapatkan dengan bekerja sebagai pekerja seks. Hal ini bukan sebagai pembenaran khusus untuk pekerja seks namun inilah realitas yang terjadi di Karang Dempel.

“Akibat tidak adanya pendidikan, tidak memiliki keterampilan kerja, lapangan pekerjaan yang sangat sulit dan kehilangan akses terhadap sumber daya alam mengharuskan mereka mengambil pilihan terburuk dalam hidupnya yaitu menjadi pekerja seks,” katanya.

Dia menyebutkan, salah satu alasan penutupan KD adalah untuk mengatasi masalah penyebaran HIV AIDS. Berdasarkan data KPA Provinsi NTT dan catatan OPSI NTT, Jumlah ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) di Kota Kupang sebanyak 1.353 orang. Dari jumlah tersebut Wiraswasta menyumbang sebesar 20%, diikuti IRT sebesar 13%, pekerja seks sebesar 10% dan PNS sebesar 8%. Dari 10% pekerja sex ODHA, Karang dempel menyumbang 12 orang dari 126 pekerja seksnya.

“Dari data ini kita dapat melihat bahwa potensi penyebaran HIV AIDS lebih besar berada diluar KD karena KD hanya menyumbang 12 orang dan diluar Karang Dempel yaitu Swasta, IRT, PS, PNS, TNI POLRI dan lain sebagainya menyumbang 1.353 orang. Yang menjadi pertanyaan apakah dengan menutup KD maka masalah penyebaran HIV AIDS dapat diselesaikan,” ujarnya.

Natio menjelaskan, penanganan HIV AIDS di KD sudah dilakukan oleh KPA (Komisi Penagulangan HIV AIDS) Kota Kupang sampai dengan saat ini. Tiga target besar KPA Kota Kupang adalah Zero New Infection (tidak ada lagi virus HIV baru), Zero related AIDS (tidak ada lagi yang meninggal karena AIDS) dan Zero stigma dan diskriminasi (tidak ada lagi stigma dan diskriminasi).

Bentuk kongkrit dari tiga program besar ini adalah dengan membagikan kondom, melakukan penyuluhan, monitoring dan lain sebagainya. Dengan adanya KD telah memudahkan pemerintah untuk mengintervensi program kesehatan khususnya penangulangan HIV AIDS. Sasaran programnya akan jelas dan pasti.

“Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Atma Jaya bahwa penutupan lokalisasi tidak mengurangi praktik prostitusi dan pemerintah akan mengalami kesulitan untuk mendeteksi jumlah pekerja seks dan sebarannya sebab praktik ini terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain,” jelasnya. (R2)

Continue Reading

POLKAM

Wagub NTT Minta KY Lakukan Edukasi dan Advokasi Hukum

Published

on

Foto: IST

Kupang, Penatimor.com – Kantor Penghubung Komisi Yudisial (KY) RI Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam tugasnya selain menerima laporan dan pemantauan sidang pengadilan, juga diharapkan dapat melakukan edukasi dan advokasi kepada masyarakat terkait penegakan hukum di daerah itu.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi sampaikan ini dalam sambutannya pada acara Public Expose Peresmian Kantor Baru Penghubung KY RI Wilayah NTT di halaman Kantor Penghubung KY NTT, Jl. Thamrin Oepoi, Kupang,Rabu (14/11/2018).

Wagub Nae Soi menaruh harapan besar terhadap keberadaan Kantor Penghubung KY Wilayah NTT. Sebagai miniatur KY, kantor penghubung hendaknya dapat melaksanakan tugasnya untuk menjaga pelaksanaan hukum yang bermartabat dan memenuhi rasa keadilan masyarakat.

“Pemerintah Provinsi mengapresiasi dan menaruh harapan besar terhadap kehadiran kantor ini. Kiranya dapat menjalankan fungsi utama KY yakni check and balance secara bertanggung jawab di wilayah NTT. Masyarakat luas juga diharapkan semakin mendapatkan informasi tentang keberadaan KY,” ungkapnya.

Menurut Nae Soi, keberadaan penghubung KY di daerah sangat strategis. Terutama untuk mendekatkan pelayanan terhadap masyarakat terkait persoalan hukum, serta dapat menjawabi rasa keadilan masyarakat NTT.

“Saya berharap kehadiran kantor baru penghubung ini dapat bermanfaat secara optimal. Khususnya dalam mengangkat kehormatan dan wibawa hukum di NTT,” kata Nae Soi.

Sementara itu, Ketua KY RI, Jaja Ahmad Jayus memberikan penghargaan yang besar terhadap Pemerintah Provinsi NTT yang telah memberikan hak pinjam pakai gedung untuk kantor penghubung KY NTT.

“Waktu awal saya lihat gedung ini, keadaanya masih memprihatinkan. Tapi kemudian dipoles  sehingga tampak megah begini. Terima kasih pak wagub dan pemerintah provinsi. Dibandingkan daerah lain, bangunan gedung penghubung KY NTT relatif cukup besar dan lengkap,” ujar Jaja.

Jaja menjelaskan, pembentukan kantor penghubung daerah didasarkan pada banyaknya laporan dan mewakili wilayah di Indonesia. NTT merupakakan salah satu representasi wilayah Indonesia Timur. Kehadiran kantor penghubung diharapkan dapat memberiman layanan publik yang memuaskan masyarakat pencari keadilan.

“Untuk wilayah Timur, yang paling banyak jumlah laporannya adalah Makasar. Kemudian disusul Kupang. Jumlahnya memang dibawah Makasar. Kehadirannya bertujuan untuk ciptakan proses peradilan yang independen dan akuntabel di NTT,” tandasnya.

Ketua Pengadilan Tinggi Kupang, Andreas Don Rade menyambut gembira kehadiran gedung baru kantor penghubung KY tersebut. Karena dapat membawa dampak positif bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri.

“Dengan adanya kantor baru ini, klarifikasi pengaduan masyarakat dapat dilaksanakan di Kupang, tak perlu lagi tunggu dari Jakarta. Hal ini memudahkan pihak pelapor, terlapor dan pihak terkait lainnya,” ujar Andreas.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Koordinator KY NTT, Hendrikus Ara dalam laporannya menyatakan, keberadaan Kantor Penghubung Daerah sesuai dengan amanat Pasal 3 ayat 2 Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2011 tentang KY. Sejak tahun 2013, sudah ada 12 penghubung pada seluruh provinsi di Indonesia.

“NTT dipandang perlu untuk dibentuk kantor penghubung karena probeblematika hukum dan peradilannya,” kata Hendrik. (R2)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor