Connect with us

HUKRIM

Polisi Gagalkan Keberangkatkan 11 Calon Naker ke Malaysia, Ada 2 Anak, Polda Tahan 1 Tersangka

Published

on

Iptu Johanes Suhardi (kiri) sedang memaparkan kasus TPPO yang berhasil diungkap dalam jumpa pers di Kantor Ditreskrimum Polda NTT, Kamis (11/10).

Kupang, penatimor.com – Satu lagi tersangka perkara dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau human trafficking ditahan penyidik Unit Trafficking Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTT.

Sebelumnya, korban sebanyak 11 orang digagalkan keberangkatannya oleh polisi di KP3 Laut Pelabuhan Tanjung Lontar, Tenau, Kupang.

Polisi saat mengidentifikasi para korban yang berasal dari Kabupaten Kupang dan Malaka itu, mengetahui dua orang di antaranya masih tergolong anak di bawah umur.

Kedua orang anak di bawah umur, masing-masing berinisial AAU (16) dan JT (14) yang direkrut tersangka Benyamin Bria (BB) di wilayah Kabupaten Kupang.

Para korban tertarik dan bersedia berangkat bekerja ke Malaysia, karena biaya tranportasi ditangung oleh BB dan gaji yang diceritakan berkisar Rp 3.000.000/bulan.

Panit I Trafficking Iptu Johanes Suhardi kepada wartawan di kantornya, mengatakan, penangkapan oleh pihak KP3 Laut Tenau setelah mencurigai 11 korban yang mengaku hendak berangkat ke Lembata dengan alasannya mau menjeguk keluarga.

Karena merasa janggal, pihak KP3 Laut memeriksa identitas 11 orang itu, dan diketahui ternyata mereka hendak ke Malaysia melalui Pangkal Pinang, untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit Kiara Jubli.

“Keberangkatan 11 calon tenaga kerja ini dibawa oleh saudara BB, yang sudah pernah bekerja di perkebunan kelapa sawit tersebut,” kata Johanes.

Dia melanjutkan, sesuai hasil pemeriksaan juga diketahui semua biaya keberangkatan para korban ditanggung oleh tersangka BB, dimana BB menghubungi R yang berada di Malaysia agar mengirim uang senilai Rp 6.000.000 untuk biaya tranportasi dari Malaka dan Kabupaten Kupang ke Tanjung Pinang, kemudian menggunakan transportasi laut ke Johor Baru, Malaysia.

Iptu Johanes melanjutkan, barang bukti yang diamankan dalam perkara ini, masing-masing dua buku paspor atas nama Benyamin Bria, dua tiket atas nama Benyamin Bria (BB) tujuan Lewoleba, tiket atas nama Jeni Rahima Tob, Abraham Utan, Jasmin Tapatab, dan Budi Utami Dewi, satu lembar kartu identitas milik Abraham Utan, dan satu buah HP Xiomi Redmi 5.

Tersangka BB (36) alias MIN asal Besikama, Kabupaten Malaka, dijerat dengan Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

“Tersangka BB ditangkap pada 13 Oktober 2018, kemudian ditahan pada 14 Oktober. Kami juga sudah mengirim Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejati NTT dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada saksi-saksi dan tersangka,” pungkas Johanes Suhardi yang didampingi Ipda Viktor Nenotek dari Bidang Humas Polda NTT. (R3)

HUKRIM

Polisi Periksa Nurlinda, Mahasiswi yang Bunuh Bayinya Sendiri

Published

on

Bobby Jacob Mooynafi

Kupang, penatimor.com – Penyidik Unit Pidum Satreskrim Polres Kupang Kota terus mendalami kasus dugaan pembunuhan bayi baru lahir oleh ibunya sendiri di wilayah Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Mendalami kasus yang menggegerkan warga Kelurahan Kayu Putih pada 7 November 2018 sekira pukul 08.00 pagi itu, polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap dua orang saksi, yakni salah satu tetangga kos dan Halima yang merupakan bibi dari pelaku Nurlinda Ibi.

Selain itu, berdasarkan hasil pemeriksaan dari dokter RSUD S.K. Lerik, terkait luka yang terdapat pada tubuh bayi malang tersebut, penyidik melakukan otopsi terhadap jazad bayi untuk memastikan kematian bayi tersebut di RS Bhayangkara Titus Uly Kupang, namun hasil belum diperoleh penyidik.

“Setelah kami memastikan kondisi Nurlinda Ibi, ibu dari bayi yang baru lahir sudah sembuh, setelah ditangani tim medis RS S.K. Lerik Kupang, akibat proses persalinannya. Penyidik langsung melakukan pemeriksaan terhadap Nurlinda Ibi di ruang pemeriksaan Reskrim Polres Kupang Kota,” ujar Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi, kepada wartawan di Mapolres Kupang, Senin (12/11).

Ditambahkan, pemeriksaan tidak hanya dilakukan terhadap ibu dari bayi malang tersebut, namun turut dimintai keterangan ayah dari Nurlinda Ibi.

“Sesuai informasi yang kami peroleh, hasil otopsi sudah keluar namun tim kami belum mengambilnya. Untuk menanti kepastian hasil otopsi, kami melakukan pemeriksaan terhadap Nurlinda dan ayahnya,” sebut Kasat Bobby yang juga mantan Kasat Reskrim Polres Sikka. (R3)

Continue Reading

HUKRIM

Mahkamah Agung Tolak Peninjauan Kembali Sega Fransiskus

Published

on

Sega Fransiskus (NET)

Kupang, penatimor.com – Mahkamah Agung (MA) RI menolak Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan terpidana korupsi di Kanwil Kemenag Provinsi NTT, Sega Fransiskus.

Informasi penolakan atas upaya PK tersebut telah disampaikan pihak Pengadilan Tipikor Kupang kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Emerensiana Jehamat dalam bentuk akta pemberitahuan putusan MA Nomor: 4/Akta. Pid.Sus-TPK/2018/PN Kupang yang memberitahukan putusan MA Nomor: 166/PK/Pid. Sus/2016 tanggal 17 Oktober 2016 atas terdakwa Sega Fransiskus.

Putusan tersebut menetapkan bahwa putusan yang dimohonkan Peninjauan Kembali tersebut tetap berlaku.

MA juga membebankan kepada terpidana sebagai pemohon biaya perkara sebesar Rp 2.500.

Sega Fransiskus yang juga mantan Kepala Kanwil Kemenag NTT menjadi terpidana perkara korupsi anggaran perjalanan dinas senilai Rp 1,2 miliar.

Berdasarkan putusan kasasi MA dengan nomor perkara: 835 K/Pid.Sus/2015 yang menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dengan memperkaya diri sendiri, orang lain
atau suatu korporasi dengan merugikan
keuangan negara.

Putusan MA menguatkan
putusan Pengadilan Tinggi (PT) Kupang, dimana sesuai putusan Kasasi, Sega divonis hukuman 7 tahun penjara dan didenda sebesar Rp 200 juta.

Dan apabila terpidana tidak membayar denda, maka dia akan menjalani kurungan tambahan selama 6 bulan.

Sega juga diwajibkan membayar uang penganti kerugian negara sebesar Rp 600 juta lebih.

Apabila terpidana tidak mengembalikan kerugian negara itu, maka terpidana akan menjalani hukuman kurungan tambahan selama satu tahun. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Pembunuhan Bayi, Polisi Tunggu Hasil Outopsi

Published

on

Kamar kos pelaku tampak dipolice line oleh penyidik Satreskrim Polres Kupang Kota. Diabadikan, Kamis (8/11) Foto: Wiliam

Kupang, penatimor.com – Penyidik Unit Pidum Satreskrim Polres Kupang Kota terus mendalami kasus dugaan pembunuhan bayi baru lahir oleh ibunya sendiri di wilayah Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang diwawancara di ruang kerjanya, Kamis (8/11), mengatakan, jenazah bayi malang berjenis kelamin perempuan itu telah dioutopsi dokter forensik di Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Titus Uly.

“Sudah dioutopsi tadi malam. Kami masih menunggu hasilnya dari dokter,” kata Bobby.

Mantan Kasat Reskrim Polres Sikka itu, melanjutkan, ibu bayi bernama Nurlinda (18), adalah mahasiswi semester 1 Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK).

Pelaku diketahui indekost di wilayah RT 14/RW 04, Jl. Ahmad Dahlan, Kelurahan Kayu Putih, atau depan kampus UMK.

Di sebuah kamar kos berlantai 2 dengan tembok warna hijau tersebut, pelaku tinggal bersama dua temannya, Endang dan Sumiata.

Kedua teman pelaku ini juga belum dimintai keterangan oleh polisi.

Kasat melanjutkan, sebelumnya, pelaku masih ke kampus, namun karena perut nya sakit dia pulang ke kos.

“Karena ibu Neneng melihat pelaku N muka pucat maka dibantu untuk membukan pintu kamar kos. Setelah itu datanglah bibi dari N bernama Halima (48), guru di salah satu SD di Kupang,” jelas Kasat.

Selanjutnya, Halima membawa bayi yang sudah meninggal dunia dan sudah dimasukan dalam kantung plastik itu ke RSUD S.K. Lerik.

“Karena merasa janggal pihak dokter yang menangani pelaku menghubungi pihak kepolisian. Saat olah TKP di kamar kos N, hanya terdapat bercak darah sedikit,” imbuh Kasat.

Terpisah, Syafrudin (30) selaku paman dari pelaku N, saat ditemui di TKP, mengatakan pelaku sudah masuk kuliah sekira 4 bulan.

“Karena saya yang membantu mendaftarnya kuliah,” sebut Syafrudin.

Dia juga mengaku heran karena selama ini pelaku tidak terlihat seperti orang yang sedang mengandung.

Hal senada juga disampaikan Samsudin (27).

“Pelaku tidak seperti orang yang lagi mengandung. Biasa pulang kampus hanya di dalam kamar kos,” ungkap Samsudin.

Sementara, Kaur Bin Ops (KBO) Satreskrim I Wayan Pasek Sujana, mengatakan, sampai saat ini pelaku belum bisa diambil keterangan, karena kondisinya masih lemah dan belum memungkinkan menjalani pemeriksaan.

“Kami masih menunggu hasil otoupsi dari dokter forensik RSB, dan juga menunggu kondisi pelaku pulih,” sebut Wayan. (R3)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor