Connect with us

HUKRIM

Gratifikasi di Dukcapil Ngada, Kadis dan Kasi Segera Diadili

Published

on

Pihak Kejari Kabupaten Ngada bersama penyidik Polres Ngada hendak melakukan pelimpahan tahap dua perkara dugaan korupsi gratifikasi pada Disdukcapil Ngada di kantor Kejati NTT, Rabu (24/10).

Kupang, penatimor.com – Pihak Kejati NTT menerima pelimpahan tersangka dan barang bukti atau pelimpahan tahap kedua, atas perkara dugaan korupsi gratifikasi hasil operasi tangkap tangan (OTT) oleh Satgas Saber Pungli Kabupaten Ngada di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Ngada.

Dua tersangka yang dilimpahkan adalah Fitalis Fole, SH., selaku Kepala Dinas Dukcapil Ngada dan Maria Antonia Gelang, S.K.M., sebagai Kepala Seksi Sinkronisasi Data Disdukcapil Ngada.

Pelimpahan tahap kedua tersebut dilakukan pada Rabu (24/10) siang, di ruang Bidang Tipidsus Kejati NTT.

Kasi Penkum dan Humas Kejati NTT Iwan Kurniawan, yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, mengatakan, pelimpahan tahap kedua tersebut dilakukan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Ngada.

“Jadi pada Rabu, 24 Oktober 2018, Kejaksaan Negeri Ngada melakukan agenda tahap dua dari penyidik Polres Ngada, serta pelimpahan perkara pada Pengadilan Tipikor Kupang,” kata Iwan.

Dia sampaikan, pelimpahan tahap kedua tersebut dipimpin oleh Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Tipidsus) Kejari Kabupaten Ngada Edi Sulistio Utomo, SH., serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gede Eka Sumahendra, SH.

“Tersangka Fitalis Fole dan Maria Antonia Gelang, diduga melanggar Pasal 12 huruf e Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1),” sebut Iwan Kurniawan.

Dengan pelimpahan tahap dua tersebut, maka kedua tersangka tidak lama lagi akan menjadi terdakwa dan menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Kupang.

Tersangka Fitalis Fole menjalani penahanan di Rutan Kelas 2B Kupang, semenatara tersangka Maria Antonia Gelang ditahan di Lapas Wanita Kelas 3 Kupang.

Sekadar tahu, kasus OTT itu dilakukan oleh Unit Tindakan Satgas Saber Pungli Kabupaten Ngada dipimpin Kasat Reskrim Polres Ngada saat itu Andre Simamora.

OTT dugaan gratifikasi di Dinas Dukcapil Kabupaten Ngada itu terjadi Rabu (18/4), sekitar pukul 15.30, di Kantor Dinas Dukcapil Ngada yang berlokasi di Kelurahan Faobata, Kecamatan Bajawa.

Barang bukti yang diamankan berupa 1 lembar Rekap SPJ Posyandu, 2 lembar Rincian Penyaluran Dana BOKB bulan Januari-Maret 2018, 3 jepit Daftar Bayar Transport PLKB bulan Januari – April 2018, 1 map Kuitansi Pembayaran bulan Februari – April, Uang Tunai sebesar Rp 58.400.000 juga 1 buah laptop yang digunakan oleh Kepala Seksi Sinkronisasi Data.

Selain itu, penyidik juga melakukan sterilisasi TKP dengan memasang police line di meja kerja Kepala Seksi Sinkronisasi Data Maria Antonia Gelang.

Pihak Polres Ngada juga mengisyaratkan ada tersangka lain dari kasus tersebut, dimana dugaan gratifikasi yakni honor yang harus diterima THL sebesar Rp 1.65.000.000 dipotong sebesar Rp 350.000 sejak bulan Januari untuk 60 orang PLKB. (R1)

HUKRIM

Kasus Selfina, Satgas Trafficking Dipolisikan

Published

on

Permenas Arkalaus Manilapalai dan Dedy Jahapay saat berada di Mapolda NTT, Jumat (18/1) malam tadi.

Kupang, penatimor.com – Kasus dugaan pencekalan yang dilakukan Satgas Anti Trafficking Dinas Nakertrans Provinsi NTT di Bandara El Tari Kupang terhadap mahasiswa STT Yogyakarta asal Kabupaten Alor, Selfina Marsia Etidena, berbuntut panjang.

Aliansi Mahasiswa Peduli Kemanusiaan bersama kuasa hukum korban, Dedy Jahapay, SH., kembali mempolisikan Satgas Trafficking di Polda NTT, Jumat (18/1).

Hal ini berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/B/21/1/2019/SPKT dengan pelapor Permenas Arkalaus Manilapalai.

Satgas Trafficking dipolisikan dengan sangkaan melakukan tindak pidana pemfitnaan sebagaimana telah diatur dalam Pasal 317 KUHP.

Menurut Permenas, terlapor adalah Satgas Trafficking Nakertrans NTT yang bertugas di Bandara El Tari Kupang pada 4 Januari 2019 dan berjumlah lima orang.

Sementara, Dedy Jahapay, menambahkan, sampai saat ini pihaknya belum mengetahui Satgas yang bertugas pada saat itu.

“Kami belum tahu Satgas itu anggotanya siapa-siapa. Nanti pihak kepolisian yang menelusuri,” kata Dedy.

Laporan tersebut, lanjut dia, dikarenakan ada pengaduan atau laporan dari Satgas ke Ketua Tim Satgas yaitu Plt. Kadis Nakertrans NTT Sisilia Sona.

Ditambahkan, setelah rapat dengar pendapat dengan DPRD NTT, barulah diketahui bahwa laporan atau pengaduan yang disampaikan oleh tim yang berada di lapangan adalah laporan palsu.

“Kenapa demikian, karena yang kita dampingi teman-teman aliansi dan Selfina. Kami sudah memberikan data-data yang membuktikan Selfina benar mahasiswa dan bukan calon TKW,” sebut dia.

Masih menurut Dedy, sebagai pejabat publik, Plt. Kadis Nakertrans NTT harus mampu mempertanggung jawabkan apa yang selama ini dia sampaikan ke media massa.

“Sebagai kuasa hukum saya sangat sayangkan atas pernyataan yang disampaikan Plt. Kadis Nakertrans. Saya punya data-data yang valid untuk membuktikan bahwa korban adalah mahasiswa,” pungkas Dedy Jahapay. (R3)

Continue Reading

HUKRIM

Rekonstruksi Pembunuhan Boisala, Nimrot Lau Peragakan 18 Adegan

Published

on

Salah satu adegan diperankan tersangka Nimrot Lau dalam rekonstruksi di TKP wilayah Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Jumat (18/1).

Kupang, penatimor.com – Penyidik Unit Reskrim Polsek Alak melakukan rekonstruksi kasus dugaan pembunuhan terhadap korban Stefanus Boisala oleh tersangka Nimrot Lau.

Reka ulang dilakukan langsung di tempat kejadian perkara (TKP) di wilayah RT 10/RW 04, Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak sekira pukul 09.30, Jumat (18/1).

Tersangka dan tiga saksi dilibatkan dalam rekonstruksi tersebut dengan memeragakan 18 adegan.

Kapolsek Alak Kompol I Gede Sucitra kepada wartawan di sela-sela kegiatan itu, mengatakan, rekonstruksi dilakukan di dua tempat, yaitu di rumah korban Stefanus Boisala dan rumah Nimrot Lau.

Warga setempat tampak memadati lokasi sekitar TKP untuk menyaksikan secara langsung jalannya rekonstruksi.

Semua adegan diperankan oleh tersangka dan ketiga orang saksi sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP).

Adegan yang diperagakan, dimulai dari sebelum kejadian, saat kejadian dan sampai pelaku melakukan pembunuhan, korban terjatuh dan meninggal dunia.

Kapolsek katakan, motif kasus pembunuhan ini, sesuai hasil pemeriksaan tersangka dan saksi-saksi, adalah tersangka cemburu dan menaruh dendam terhadap korban yang diduga berselingkuh dengan istrinya.

“Karena sebelumnya ada peristiwa perzinahan dari korban dan istri tersangka,” ungkap Kapolsek.

Tersangka Nimrot Lau dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (R3)

Continue Reading

HUKRIM

Satlantas Polres Kupang Amankan 200 Motor, Segera Diputihkan

Published

on

Kasat Lantas Polres Kupang Iptu Andry Andriansyah, SIK., sedang menunjukan barang bukti kendaraan roda dua yang akan diputihkan, Rabu (16/1).

Kupang, penatimor.com – Ratusan barang bukti sepeda motor baik yang terlibat kasus kecelakaan lalu lintas maupun melakukan pelanggaran lalu lintas hasil sitaan sejak tahun 1999 hingga 2002 segera diputihkan.

Hal ini dilakukan jika pemilik kendaraan yang kendaraannya masih diamankan di kantor Satuan Lantas Polres Kupang, belum juga diambil pemiliknya.

Pihak Satuan Lantas Polres Kupang memberi kesempatan satu bulan kepada pemilik kendaraan untuk mengambil kendaraannya.

Syaratnya, harus membawa STNK dan BPKB kendaraan serta dilakukan cek fisik. Jika hingga satu bulan kedepan belum juga diambil maka dilakukan pemutihan barang bukti atau pemusnahan barang bukti.

Kasat Lantas Polres Kupang Iptu. Andry Andriansyah, SIK., saat di konfirmasi, Rabu (16/1), mengatakan, saat ini terdata total keseluruhan kendaraan roda dua yang berhasil diamankan sebanyak 200 unit dari berbagai merk.

“Ini sepeda motor barang bukti kecelakaan lalu lintas dan pelanggaran yang kita amankan dan belum diambil pemilik sejak tahun 1999 hingga 2002,” ujar Andry.

Ditambahkan, polisi tidak mengetahui pemilik sepeda motor karena selama belasan tahun sepeda motor tersebut tidak diambil pemiliknya.

“Masyarakat yang merasa memiliki kendaraan yang masih diamankan Polres Kupang di Babau sejak 1999, silahkan ke kantor kami dengan membawa STNK dan BPKB guna mengambil kembali sepeda motornya,” kata mantan Kasat Lantas Polres Rote Ndao itu.

Lebih lanjut dikatakan, pihak Sat Lantas Polres Kupang sudah mempublikasikan melalui berbagai media termasuk media sosial untuk mengimbau kepada masyarakat agar segera mengambil kendaraannya dengan membawa bukti kepemilikan yang sah.

Pihaknya juga memberikan deadline waktu satu bulan hingga pertengahan bulan Februari 2019 untuk pengambilan sepeda motor oleh pemilik.

“Kami berikan peringatan, bila dalam jangka waktu satu bulan tidak ada pemilik maka diputihkan, karena tidak bagus ditampung. Kami bukan menyimpan barang-barang tanpa pemilik, kami hanya amankan barang bukti yang ada pemiliknya,” tegas perwira pertama dengan pangkat dua balok di pundak itu.

Diakuinya kalau keberadaan ratusan sepeda motor tanpa kepastian pemilik dan ditampung bertahun-tahun di kantor Sat Lantas Polres Kupang bisa menimbulkan masalah.

“Bisa saja sepeda motor terbakar dan keberadaan nya menjadi beban bagi kita. Lahan penampungan yang seharusnya kita pakai untuk kegiatan lain ternyata saat ini diisi dengan menampung barang bukti selama belasan tahun,” tambahnya.

Ia menduga, sepeda motor tidak pernah diambil pemiliknya karena banyak sepeda motor yang tidak ada surat-surat seperti BPKB dan STNK.

Apabila ada warga yang bisa membuktikan kepemilikan kendaraan maka pihaknya siap mengeluarkan dan mengembalikan sepeda motor tersebut.

Namun sebelum diserahkan, polisi akan melakukan pengecekan fisik kendaraan untuk memastikan kepemilikan sepeda motor.

Ditegaskan kembali bahwa Sat Lantas Polres Kupang memberikan waktu sebulan sejak saat ini bagi masyarakat untuk mengkonfirmasi kendaraan jika memang miliknya.

“Jika ada STNK dan BPKB maka akan cek fisik, jika tidak maka akan kita bersihkan,” tegas Andry.

Kendaraan tersebut menumpuk di belakang kantor Sat Lantas Polres Kupang. Ratusan kendaraan berbagai merk dan tipe bahkan sudah berkarat.

Mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan, polisi mengosongkan tanki minyak kendaraan sehingga tersisa rangka kendaraan.

Kendaraan tersebut merupakan barang bukti kecelakaan dan sitaan polisi sejak tahun 1999 lalu. Hingga saat ini belum ada warga yang mengambil kembali kendaraan-kendaraan tersebut. (R3)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor