Connect with us

PENDIDIKAN

Sekolah Swasta Butuh Intervensi Pemerintah

Published

on

Seminar pendidikan dalam rangkaian kegiatan gebyar SMA/ SMK Se-NTT di gedung DPD RI, Senin (22/10/2018)

Penatimor.com – Peran sekolah swasta di Indonesia khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam membangun pendidikan bangsa sudah tak bisa diragukan lagi. Banyak sekolah swasta yang sudah mapan dan mandiri, namun masih banyak pula yang perlu mendapat perhatian pemerintah.

Hal ini mengemuka dalam Seminar Pendidikan dengan tema “Peran Sekolah Swasta dalam Membangun Pendidikan di NTT” yang digelar dalam rangkaian kegiatan Gebyar SMA/SMK Se-NTT di Kupang, Senin (22/10/2018) dalam rangka menyongsong HUT Sumpah Pemuda ke-90 tahun 2018.

Seminar itu dibuka Asisten III Setda Provinsi NTT Stefanus Ratoe Oedjoe dan dipandu Pius Rangka dengan menghadirkan empat narasumber masing-masing Ketua Komisi V DPRD NTT Jimmi Sianto, Ketua Umum Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) NTT Winston Neil Rondo, Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi NTT Alo Min, Ketua Dewan Pendidikan NTT Simon Riwu Kaho.

Ketua Komisi V DPRD NTT, Jimmi Sianto mengatakan, peran sekolah swasta dalam membangun pendidikan sesungguhnya tidak perlu didiskusikan karena sejak dahulu hingga kini sekolah swasta tetap menunjukkan komitmen dan eksistensinya pada bidang pendidikan.

“Keliru kalau kita bahas peran sekolah swasta, karena kesannya kita meragukannya, justeru yang perlu dibahas sebenarnya adalah bagaimana peran pemerintah dalam mendukung sekolah swasta biar bisa sejajar dengan sekolah-sekolah negeri yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah,” ungkapnya.

Jimmi menegaskan, Komisi V DPRD NTT yang membidangi kesejahteraan rakyat (Kesra) itu tidak melihat adanya perbedaan antara sekolah swasta dengan sekolah negeri, karena itu bersama mitra komisi dalam hal ini Dinas Pendidikan, dalam rapat-rapat selalu berkomitmen dan mengevaluasi agar pemerintah perlu melakukan intervensi terhadap sekolah swasta.

“Bagaimanapun harus ada intervensi dari pemerintah terhadap sekolah swasta, walaupun tidak sebesar sekolah negeri tetapi harus ada, entah itu pada poin infrastruktur ataupun pada tenaga pendidiknya, walaupun kita tahu bahwa di NTT ini kekurangan guru bukan hanya pada sekolah swasta saja tetapi juga sekolah negeri,” katanya.

Ketua Umum BMPS NTT, Winston Neil Rondo mengatakan, seminar pendidikan ini membedah dari berbagai perspektif tentang perjalanan panjang peran serta sekolah-sekolah swasta dalam pembangunan pendidikan di NTT. Sekolah swasta sudah berperan hampir 200 tahun terakhir, sejak misi katolik dan zending protestan yang tak hanya mewartakan agama tetapi juga mendidik anak-anak di bumi Flobamora.

“Peran sekolah swasta di NTT sangat besar, 1,456 juta atau 32,5 % anak NTT mengenyam pendidikan di sekolah swasta. Jumlah sekolah swasta sebanyak 2.500, sehingga dengan porsi-porsi yang besar ini seharusnya pemerintah memberikan kebijakan yang adil. Karena mulai dari penerimaan peserta didik baru 2017 hingga 2018, pemerintah NTT dinilai gagal,” katanya.

Untuk mewujudkan mutu pendidikan yang baik di NTT, sekolah swasta meminta Agara kebijakan pemerintah baik itu anggaran maupun program-program harus berpihak dan ikut melindungi dan peduli pada sekolah swasta.

“Sekolah swasta berharap, misalnya peraturan-peraturan daerah penyelenggaraan pendidikan yang telah disusun agar mengakomodir kepentingan sekolah swasta,” katanya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Alo Min mengatakan, sekolah swasta harus bisa meyakinkan orang tua murid untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta. Untuk meyakinkan orang tua siswa, sekolah swasta harus mulai memberikan profil dan promosi tentang keunggulan dari sekolah tersebut.

“Kemampuan promosi dari sekolah swasta terhadap keunggulan yang dimiliki sangat diperlukan, mungkin ini yang kurang dilakukan selama ini oleh sekolah swasta. Ada sekolah swasta yang memang sudah terkenal sehingga tidak perlu promosi tetapi yang lainnya perlu melakukannya,” katanya.

Dia menambahkan, pemerintah memiliki anggaran yang cukup terbatas untuk membantu semua sekolah, karena itu pemerintah membuat regulasi dengan mendorong bantuan pihak ketiga atau dana CSR, agar bisa membantu sekolah-sekolah yang memang sangat membutuhkan bantuan tersebut.

Ketua Dewan Pendidikan NTT, Simon Riwu Kaho mengatakan, sekolah swasta di Indonesia jumlahnya jauh melebihi sekolah negeri, ini menunjukkan kepedulian sekolah swasta membangun pendidikan di negeri ini sangat tinggi. Karena itu, pemerintah juga perlu mendorong sekolah-sekolah swasta menjadi unggul dan sejajar dengan sekolah negeri.

“Ini artinya sekolah swasta sangat peduli dan tidak ingin membiarkan anak bangsa terlantar. Sehingga kepedulian ini perlu juga mendapat perhatian dari pemerintah. Kalau hanya harap pemerintah sendiri, tentu tidak mampu bangun sekolah sebanyak itu,” tandasnya. (R2)

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PENDIDIKAN

Anak Pra Sekolah di NTT Wajib Ikut PAUD

Published

on

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT Benyamin Lola, pose bersama Kepala BP PAUD dan Dikmas NTT Maria B. Advensia Ladju dan jajaran lainnya, seusai pembukaan seminar pendidikan wajib PAUD Pra SD di Hotel Aston Kupang, belum lama ini.

Kupang, penatimor.com – Para orangtua diingatkan agar setiap anak pra sekolah wajib mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

PAUD merupakan bentuk persiapan agar anak mudah berinteraksi dan bersosialisasi.

Peringatan ini disampaikan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT Benyamin Lola ketika membuka seminar pendidikan wajib PAUD Pra SD di Hotel Aston Kupang, belum lama ini.

Kegiatan yang melibatkan ratusan peserta ini mengusung tema, “Membangun persamaan persepsi dalam menyikapi kebijakan pemerintah tentang kesiapan pendidikan anak usia dini masuk sekolah dasar”.

Benyamin Lola mengatakan, keberadaan PAUD di NTT baru terjadi sejak tahun 2005 dan sebelumnya hanya ada taman kanak-kanak.

“Setiap anak pra sekolah harus mengikuti PAUD sebagai bentuk persiapan agar saat masuk SD secara sosial sudah terbiasa dengan kondisi kebersamaan,” tandasnya.

Anak yang mengikuti jenjang PAUD juga sudah biasa meninggalkan orangtua dan belajar dengan baik.

Di sisi lain, anak juga sudah bisa melakukan interaksi dengan teman sebaya karena tanpa pra sekolah maka akan merepotkan anak sekolah.

Benyamin Lola juga mengingatkan kalau anak usia dini masuk dalam golden age (usia emas), sehingga perkembangan otak anak masih terus berlanjut.

Untuk itu, rangsangan psikologis bagi anak harus terus dilakukan sehingga perkembangan anak terus terbangun dan anak menjadi cerdas dan memiliki potensi.

Dia pun berharap, sebaiknya saat anak masuk sekolah dasar jangan dites, karena akan menghambat kecepatan anak.

Kepada para guru, dia mengingatkan bahwa cara mengajarkan anak membaca menyulitkan anak membaca.

Oleh karena itu, pada anak usia dini harus diberi rangsangan yang tepat sehingga bisa membaca dan mengenal angka sebelum masuk SD.

PAUD pun berperan untuk memperkenalkan lingkungan pada anak dan memperkenalkan huruf dan angka pada anak.

Namun, Benyamin meminta para guru agar mengajarkan pada anak huruf sesuai bunyi vocal dan konsonan asli.

Lebih jauh dikatakan bahwa membaca sangat penting bagi anak karena lewat membaca anak bisa bercerita.

Benyamin menegaskan bahwa anak wajib mengikuti PAUD sebelum masuk SD.

Kepada para kepala daerah dan pemerintah kabupaten/kota, dia berharap agar kesepakatan anak harus mengikuti PAUD sebelum masuk SD bisa ditegaskan melalui peraturan bupati atau wali kota, atau juga melalui Perda, sehingga harus ada regulasi dan sanksi yang diatur bagi orangtua jika tidak mengikutkan anak pada PAUD, supaya anak-anak dipersiapkan sebelum masuk jenjang pendidikan dasar.

Selama ini kata dia, orangtua masih berpikir kalau pendidikan bagi anak adalah tanggung jawab pemerintah.

Sementara, Kepala BP PAUD dan Dikmas NTT Maria Bertha Advensia Ladju, pada kesempatan tersebut, mengemukakan kalau PAUD merupakan program prioritas pembangunan pendidikan nasional.

BP PAUD dan Dikmas NTT memiliki tugas melakukan pembinaan terhadap PAUD formal, nonformal dan informal, serta berkewajiban memperluas layanan, meningkatkan mutu dan memperkuat kelembagaan PAUD di lapangan.

Diingatkan kalau orang tua, pemerintah dan stakeholder bertanggung jawab mengirimkan anak bersekolah dan bisa dikenai sanksi jika gagal melaksanakan kewajiban tersebut.

Disebutkan pula bahwa mempersiapkan anak masuk sekolah dasar bukanlah semata harus dapat membaca dan menulis serta berhitung, namun yang perlu ditanamkan pada anak adalah sikap tidak tergantung pada orang dewasa, sehingga menunjukkan kemandirian anak, mau berbagi dengan teman, mau bergaul dengan teman sebaya dan tidak malu.

“Agar anak siap masuk SD, diperlukan kesiapan seluruh aspek perkembangan dari fisik motorik, kecerdasan, sosial-emosional, spiritual hingga bahasa dan seni,” ujarnya.

Melalui seminar, lanjut dia, ada kesepakatan bersama tentang apa yang harus dilakukan, agar anak benar-benar siap masuk SD dan menjadi senang serta optimal dalam belajar.

Dijelaskan, seminar sehari bertujuan membangun persamaan persepsi tentang kebijakan pemerintah untuk PAUD masuk jenjang pendidikan, memahami aspek perkembangan yang disiapkan orangtua dan pendidik selain usia kronologis anak.

“Mengetahui alasan anak masuk SD pada usia tujuh tahun atau minimal enam tahun, serta meningkatkan pemahaman tentang langkah persiapan anak masuk SD dan pemahaman tentang kompetensi pendidik pada jenjang pendidikan dasar,” sebut dia.

Seminar menghadirkan pembicara yakni Drs. Ben Labre, M.Psi., yang membawakan materi soal kesiapan anak usia dini masuk SD.

Ada juga Prof. Dr. Felix Tan yang memaparkan mengenai bentuk profesionalisme pendidik pendidikan dasar serta Pater John Salu, SVD., mengenai membangun karakter anak usia dini.

Seminar diikuti 260 orang peserta terdiri dari 55 orang kepala SD, 55 orang komite, dua orang Kabid SD, dua orang dari PAUD dan PNF.

Juga diikuti puluhan pendidik PAUD, pengelola PAUD, pengurus IGTKI, pengurus GOPTKI, Himpaudi, DWP Provinsi NTT, PKK Provinsi NTT dan BP PAUD dan Dikmas NTT.

Terpisah, Kepala SD Inpres Perumnas II, Jurahman Husain, mengatakan, ada beberapa aspek yang menjadi hal penting dalam menyikapi usia dini masuk ke sekolah dasar. Aspek pertama adalah penyelenggara PAUD/TK, orangtua dan sekolah dasar itu sendiri.

“Berkaitan dengan kebijakan bagi sekolah dasar untuk memperhatikan konsep membaca, menulis dan berhitung atau calistung, maka diperlukan semua pihak berperan dengan baik,” katanya.

Dia mengaku, memang sekarang calistung tidak menjadi seauatu yang dituntut saat anak masuk sekolah dasar. Calistung sebenarnya dapat digunakan sebagai pemetaan rombongan belajar, agar guru dapat merancang pembelajaran agar seauai dengan kemampuan dan pemetaan tersebut.

“Di persyaratan siswa SD baru memang tidak mutlak agar seorang anak harus melalui PAUD dan TK baru diterima. Jadi memang sekarang hanya bagaimana kesadaran para orangtua dan pendidik TK/PAUD agar bagaimana semua anak harus melalui TK/PAUD sebelum ke jenjang selanjutnya,” katanya.

Dia berharap, kegiatan ini dapat membangun sinergitas antara semua pihak, baik itu BP PAUD dan Dikmas, pemerintah kabupaten-kota, dan pemerintah provinsi.

“Sosialisasi ini perlu disampaikan ke khalayak umum, bahwa pentingnya pendidikan pra sekolah, dan bagaimana orangtua menyadari akan hal ini,” ujarnya. (R1)

Continue Reading

PENDIDIKAN

198 Siswa SMA se-NTT Ikut Lomba OSN

Published

on

Peserta Lomba OSN SMA dari 22 kabupaten-kota se-NTT saat menghadiri pembukaan lomba OSN SMA Tingkat Provinsi NTT di Lantai 4 Hotel Pelangi Kupang, belum lama ini.

Kupang, penatimor.com – Lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) Sekolah Menengah Atas (SMA) Tingkat Provinsi NTT kembali digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT.

Kegiatan tersebut dipusatkan di SMK Negeri 1 Kupang selama 3 hari.

Lomba yang diikuti peserta dari 22 kabupaten-kota se NTT itu dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Benyamin Lola, didampingi Kabid SMA-SMK Pius Rasi.

Pembukaan kegiatan tersebut berlangsung di Balloom Hotel Pelangi Kupang, Jl. Veteran, Kelurahan Fatululi, belum lama ini.

Benyamin Lola dalam kesempatan tersebut, mengatakan, peserta OSN yang mengikuti lomba di tingkat Provinsi NTT ini, merupakan siswa-siswi yang telah berhasil meraih juara I lomba OSN di tingkat kabupaten-kota masing-masing.

“Yang mewakili hadir saat ini adalah putra-putri terbaik yang sudah diuji melalui OSN tingkat kabupaten-kota sebelumnya,” ujar Benyamin.

Dia menjelaskan tujuan umum lomba OSN SMA ini antara lain, pertama, mendapat dan mengembangkan siswa bertalenta dan berkarakter dengan prestasi internasional, sehingga mampu berkontribusi sebagai pioner pembangunan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mewujudkan bangsa yang unggul.

Kedua, mendorong prestasi untuk memaksimalkan penemuan siswa bertalenta dan berkarakter dari seluruh pelosok NKRI, dan ketiga, menciptakan atmosfer berkompetisi dan berprestasi yang sehat, serta mendorong tumbuh kembangnya budaya silih, asuh di sekolah dan semua pemangku kepentingan.

Benyamin juga mengurai tujuan khusus dari kegiatan ini, antara lain, pertama, menyelenggarakan seleksi secara berjenjang bagi peserta OSN mulai dari tingkat sekolah, kabupaten-kota, provinsi dan nasional.

Kedua, menyeleksi siswa yang mempunyai kompetensi/kemampuan dalam bidangnya masing-masing, yaitu Matematika, Fisika, Kimia, Informatika/Komputer, Biologi, Astronomi, Ekonomi, Kebumian, dan Geografi.

Ketiga, menyiapkan calon peserta yang dapat diandalkan untuk mewakili Indonesia untuk Olimpiade Tingkat Internasional.

Ditambahkan, perlombaan ini tidak hanya sekadar formalitas kemudian mendapatkan juara, namun para peserta diperhadapkan dengan sembilan mata pelajaranan, sehingga peserta harus lebih giat belajar agar mampu bersaing dengan peserta lainnya.

Dikatakan, sembilan mata pelajaran pada bidang sains yang dilombakan yakni mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Informatika/Komputer, Biologi, Astronomi, Ekonomi, Kebumian, dan Geografi.

“Kalau disesuaikan dengan 9 mata pelajaran yang dilombakan, maka jumlah peserta yang seharusnya datang dari 22 kabupaten-kota di NTT sebanyak 198 orang. Tetapi, yang hadir saat pembukaan kurang lebih baru 160 orang peserta, sehingga kemungkinan ada beberapa kabupaten yang tidak mengirimkan pesertanya secara lengkap 9 orang,” kata Benyamin.

Dilanjutkan, siswa yang mendapat nilai tertinggi atau juara I dari masing-masing mata pelajaran yang dilombakan, akan mewakili NTT untuk mengikuti lomba OSN SMA Tingkat Nasional yang akan dipusatkan di Sulawesi Utara tahun ini.

Untuk jangka pendek, dia berharap, peserta bisa berlomba dengan baik dan bisa berhasil, sehingga mengharumkan nama sekolah dan kabupaten-kota masing-masing.

Sedangkan untuk jangka panjang, Benyamin Lola berharap lomba ini akan memberikan motivasi kepada siswa, baik kepada mereka yang saat ini mengikuti lomba OSN, maupun teman-temannya yang ada di sekolahnya masing-masing untuk belajar lebih giat lagi, sehingga bisa terpilih pada lomba berikutnya. (R1)

Continue Reading

PENDIDIKAN

3 Mei, UPG 1945 Kupang Akan Wisudakan 751 Lulusan, Bakal Dihadiri Menristekdikti

Published

on

Ketua BPH PGRI NTT Semuel Haning didampingi Rektor UPG 1945 NTT David Selan dan Kepala Biro Administrasi UPG 1945 NTT Mery Jagi usai memberikan keterangan pers di Resto Celebes Kupang, belum lama ini.

Kupang, penatimor.com – Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT segera menyelenggarakan acara wisuda ke dua tahun 2019.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir turut diundang untuk menghadiri acara dimaksud.

Tidak hanya Menristekdikti namun juga beberapa petinggi yang turut diundang dan sudah dipastikan hadir yakni Ketua L2DIKTI dan juga Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.

Acara Rapat Senat Luar Biasa ke dua UPG 1945 ini direncanakan akan berlangsung di Aula El Tari Kupang pada tanggal 3 Mei 2019 mendatang, dengan jumlah calon wisudawan sebanyak 751 orang.

Ketua BPH PGRI NTT Semuel Haning, S.H.,M.H., saat menyampaikan keterangan pers di Resto Celebes Kupang, belum lama ini, mengatakan, wisuda yang akan dilakukan kedua kalinya ini merupakan perjuangan panjang setelah wisuda perdana sebelumnya.

Semuel mengaku sempat mendapat teguran dan larangan untuk wisuda karena jurusan di UPG yang masih terakreditasi minimum, sehingga pihaknya berupaya dan bekerja keras untuk meningkatkan mutu pendidikan karena adanya persoalan sebelumnya.

Kerja keras dan upaya yang dilakukan diakuo Semuel tidak menghianati hasilnya, maka Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi (PT) melakukan penilaian dan hasilnya semua program studi di UPG mendapat nilai akreditasi B.

Dari nilai akreditasi ini, pihaknya berhak mewisudakan mahasiswa yang sudah memenuhi persyaratan studinya.

“Kami telah memenuhi syarat dan diizinkan untuk wisuda karena kami telah terakreditasi B dari BAN-PT sehingga dinyatakan sah,” kata Semuel.

Menurut dia, UPG 1945, mutu dan kualitas pendidikan tidak perlu diragukan oleh masyarakat lagi karena telah dinyatakan bermutu melalui BAN-PT.

“Kepada masyarakat kami memberitahukan bahwa lembaga pendidikan UPG 1945 merupakan lembaga yang diakui kualitasnya oleh negara dan pemerintah saat ini,” ungkap mantan Rektor PGRI NTT itu.

Sedangkan Rektor UPG 1945 NTT, David Selan dalam kesempatan tersebut, menambahkan bahwa pengalaman adalah polisi terbaik untuk menata diri dan perguruan tinggi yang mumpuni bermutu, berkualitas di NTT pada khususnya dan pada umumnya Indonesia, karena pengalaman yang dilewati sangat sulit sehingga untuk saat ini pihaknya tidak ingin kejadian itu terulang kembali.

Salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan yang saat ini berjalan untuk terus memulihkan keadaan agar mendapat kepercayaan dari masyarakat saat ini adalah dengan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak lagi dilakukan oleh dosen yang bergelar strata 1 (S1).

Semua dosen yang mengabdi di UPG 1945 NTT sudah dengan kriteria S2, S3 dan juga profesor.

UPG 1945 NTT juga melibatkan praktisi-praktisi seperti praktisi ekonomi, BUMN, BWS dan juga praktisi hukum agar mendorong SDM di UPG 1945.

“Langkah strategis inilah yang kami lakukan sehingga para lulusan tidak hanya lulus atau kacangan, namun harus mampu berdiri di kaki sendiri untuk memanfaatkan SDA dan kekayaan lainnya,” ujar David.

Penelitian-penelitian juga terus dilakukan saat ini terhadap dosen guna mencermati fenomena ekonomi, sosial dan budaya masyarakat untuk mengkaji atau meniliti.

Kampus UPG mendapat 20 judul penilitian dari Menristekdikti dan ini adalah judul terbanyak yang diperoleh perguruan tinggi di NTT. Selain itu, ada juga kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

“Dengan upaya-upaya yang dilakukan seperti ini para lulusan setelah taman langsung terserap di dunia industri atau dunia kerja,” imbuh David Selan.

Kepala Biro Administrasi UPG 1945 NTT Mery Jagi selaku sekretaris panitia dalam kesempatan itu, menambahkan, persiapan wisuda itu sudah 80 persen, dimana pembagian toga kepada calon wisudawan juga sudah dilakukan.

Dikatakan calon wisudawan yang akan diwisuda ke dua ini sebanyak 751 orang.

Sebelumnya digelar pada 26 April 2019, namun karena pihaknya sesuaikan dengan waktu dari para undangan yang hadir sehingga ditunda ke tanggal 3 Mei 2019.

“Kami sudah berjalan sesuai dengan range schedule dan yang telah disepakati bersama para pimpunan dan persiapan sudah 80 persen,” katanya.

Pelaksanaan wisuda yang dilakukan pada bulan Mei yang adalah bulan pendidikan ini akan dilakukan di Aula El Tari Kupang.

“Intinya kami siap mewisuda calon wisudawan pada periode wisuda II tahun 2019 ini, sesuai aturan yang berlaku sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan dan tetap eksis di NTT,” tegas Mery Jagi. (R1)

Continue Reading

Trending

error: Content is protected !!