Connect with us

INTERNASIONAL

Replika Kapal Titanic Akan Segera Berlayar Tuntaskan Rute Sebelumnya

Published

on

Ilustrasi/ foto: net

Kupang, Penatimor.com – Proyek ambisius untuk membuat replika kapal pesiar legendaris, Titanic, diperkirakan akan rampung pada tahun 2022. Kapal pesiar ini juga direncanakan kembali berlayar pada tahun yang sama. Tentu saja kabar ini disambut gembira oleh para penggemar kisah cinta Rose dan Jack.

Sebelumnya proses pembuatan replika kapal Titanic ini sempat terbengkalai selama nyaris 10 tahun, karena kendala finansial.

Namun kini persoalan dana sudah bisa teratasi, sebuah perusahaan kapal penumpang Blue Star Line mengumumkan proses pembuatan kapal replika Titanic atau yang bisa disebut Titanic II sedang berjalan. Bahkan kabin utama kapal ini juga akan dibuat sama persis dengan Titanic.

Untuk merampungkan proyek ini, dibutuhkan dana sebesar US$500 juta (sekitar Rp 7,5 triliun). Nantinya Titanic II akan menampung 2.400 penumpang dan 900 awak kapal.

Rute pertama pelayaran Titanic II akan dimulai dari Dubai dan berakhir di Southampton. Untuk menuntaskan rute tersebut, perjalanan itu diperkirakan memakan waktu sekitar dua pekan.

Setelah menamatkan rute tersebut, Titanic II akan melanjutkan rute perjalanan Titanic yang tidak pernah terselesaikan yakni dari Inggris menuju Amerika Serikat.

Layaknya Titanic, kapal replikanya juga akan menawarkan kemegahan yang elegan. Tentu saja kemegahan itu akan dilengkapi dengan teknologi canggih abad 21, seperti alat navigasi dan sistem keamanan untuk menghindari musibah yang menenggelamkan Titanic sebelumnya.

Seperti yang dikutip dari travel pulse, Bos Blue Star Line Clive Palmer, mengatakan Titanic II sengaja dibuat untuk menginspirasi penduduk dunia sekaligus berbagi pengalaman saat menyinggahi pelabuhan-pelabuhan penting di dunia. (R2/cnnindonesia.com)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Tak Direspon, Imigran Ingin Ketemu Gubernur

Published

on

Para imigran pose bersama di Hotel Lavender Kupang, Senin (29/10). FOTO: WILIAM

Kupang, penatimor.com – Para pengungsi luar negeri di Kota Kupang, kembali melakukan pertemuan dengan perwakilan IOM, UNHCR dan Keimigrasian, Senin (29/10).

Pertemuan berlangsung di Hotel Lavender yang juga merupakan salah satu tempat penampungan para pengungsi luar negeri tersebut.

Selanjutnya, para imigran bersama IOM, INHCR dan Rudenim Kupang membahas tentang aksi unjuk rasa yang dilakukan pada Jumat (26/10), dimana mereka meminta untuk dipindahkan ke kota lain yang memiliki Community House.

Hendrik Ch. Therik, perwakilan UNHCR, kepada wartawan, mengatakan, para imigran tersebut minta dipindahkan ke wilayah lain yang memiliki Community House.

Disampaikan juga bahwa semua penampungan sudah diatur, dan untuk sekarang masih di Kupang.

“Dari pandangan UNHCR belum ada alasan mendesak untuk dipindahkan, mungkin dari pihak pemerintahan mempunyai kebijakan sendiri,” kata dia.

Pihak UNHCR juga masih berkoordinsi dengan pihak Rudenim selaku pihak yang melakukan pengawasan, sedangkan untuk penampungan dari pihak daerah, dengan demikian UNHCR juga masih terus berkoordinasi dengan para pihak terkait.

“Untuk pertimbangan anak-anak sekolah, sampai saat ini masih dilakukan diskusi antara pihak IOM, UNCHR dan Pemda, tentang kemungkinan bisa disekolahkan karena sampai saat ini diskusi belum selesai, jadi belum ada pernyataan yang final apakah tidak bisa disekolahkan di sini,” jelas dia.

Hingga saat ini pihak IOM belum mau memberikan penjelasan tentang hasil diskusi bersama para imigran.

Martusa Naseri, 27, imigran dari Afganistan, mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak IOM, UNHCR, Keimigrasian dan Pemerintah, untuk berbicara tentang Community House di kota ini, tapi dari pihak pemerintahan tidak ada.

“Kami ingin jawaban yang jelas. Kalau dari pihak IOM tidak ada jawaban yang jelas, kami akan ke kantor gubernur untuk berbicara degan pak gubernur. Memang untuk waktu belum tau kapan,” singkat Martusa. (R3)

Continue Reading

INTERNASIONAL

Diiringi Musik, Tubaigy Memutilasi Jamal Khashoggi

Published

on

Aktivis HAM dan rekan-rekan Jamal Khashoggi menggelar demonstrasi di depan Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Senin (8/10). Foto: Reuters

Ankara, penatimor.com – Media dalam dan luar Turki memberitakan bahwa Jamal Khashoggi tewas.

Tak hanya itu, media juga menyebut bahwa jurnalis kawakan tersebut dimutilasi di dalam kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu.

New York Times melaporkan bahwa Salah Muhammad Al Tubaigy-lah yang bertindak sebagai mutilator. Pria yang berprofesi kepala bagian bukti forensik pada Departemen Keamanan Publik Saudi itu memutilasi Khashoggi dengan gergaji tulang.

Sebagai anggota Saudi Association for Forensic Pathology, memutilasi tubuh manusia adalah pekerjaan gampang bagi Tubaigy.

“Saya melakukannya sambil mendengarkan musik. Kalian seharusnya melakukan hal yang sama,” ujar Tubaigy sebagaimana terdengar dalam rekaman audio yang diperoleh intelijen Turki.

Dia merupakan satu di antara 15 orang Saudi yang datang ke Turki pada hari kematian Khashoggi. Selain dia, tiga pria yang lain adalah orang dekat MBS. Sebelas terduga pelaku yang lain adalah personel pasukan elite.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa tunangan Hatice Cengiz itu langsung diserang begitu masuk gedung konsulat. Dia diseret ke ruang kerja Konsul Saudi di Turki, Mohammad Al Otaibi (pengganti Musa’d bin Abdulmuhsin Al Ganawi).

“Beberapa saksi mata mendengar jeritan dari ruangan itu,” kata pejabat Turki yang merahasiakan identitasnya. (sha/c6/hep/R3)

Continue Reading

INTERNASIONAL

Karoshi, Fenomena Kematian di Jepang Akibat Beban Kerja Berlebih

Published

on

Ilustrasi/ foto: net

Kupang, Penatimor.com – Orang Jepang dikenal sebagai pekerja keras. Mereka kerap bekerja tanpa kenal waktu, hingga melampaui batas kemampuan tubuh. Di forum-forum diskusi, pujian sering dialamatkan pada mereka terkait gairah bekerja dan disiplin yang tinggi. Tapi tahukah Anda? Di balik itu, ada fakta suram, yaitu kematian diam-diam mengintai mereka.

Di tahun 1970-an, ditemukan istilah karoshi, yang artinya kematian karena terlalu banyak kerja. Seperti dikabarkan di laman Business Insider, karoshi telah memakan korban karyawan yang melakukan bunuh diri atau menderita gagal jantung dan stroke karena tuntutan jam kerja yang panjang.

Pemerintah Jepang telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi kasus karoshi, tetapi para ahli khawatir langkah-langkah tersebut tidak cukup efektif.

Contoh kasus kematian karyawan akibat gaya hidup karoshi, yaitu jurnalis berusia 31 tahun, Miwa Sado. Dia dilaporkan bekerja selama 159 jam lembur dalam satu bulan di kantor berita NHK, Sado meninggal karena gagal jantung pada Juli 2013. Kematiannya dipastikan akibat karoshi pada awal Oktober 2017.

Sebelum itu, Matsuri Takahashi, 24 tahun, bekerja lembur 105 jam dalam sebulan di biro iklan Jepang Dentsu. Takahashi melompat dari atap majikannya pada Hari Natal 2015. Tadashi Ishii, presiden dan CEO Dentsu, mengundurkan diri sebulan kemudian.

Konsep karoshi di Jepang dapat ditelusuri kembali ke masa setelah Perang Dunia II. Selama awal 1950-an, Perdana Menteri Shigeru Yoshida membuat pembangunan kembali ekonomi Jepang sebagai prioritas utamanya.
Dia meminta perusahaan-perusahaan besar supaya menawarkan status karyawan tetap seumur hidup kepada pekerja mereka.

Sebagai timbal baliknya, perusahaan dapat memberlakukan syarat agar para karyawan itu bekerja dengan komitmen tinggi dan kesetiaan.
Perjanjian itu berhasil. Perekonomian Jepang sekarang termasuk yang terbesar di dunia, dan itu sebagian besar karena upaya Yoshida sekitar 67 tahun lalu.

Namun dalam satu dekade setelah digaungkannya konsep Yoshida tersebut, pekerja Jepang mulai melakukan bunuh diri dan menderita stroke atau gagal jantung karena beban stres yang sangat besar dan kurang tidur.

Awalnya, penyakit itu dikenal sebagai “kematian mendadak akibat kerja”, karena kematian itu terutama terkait pekerjaan, menurut para peneliti yang mempelajari sejarah karoshi. Dalam upaya mereka untuk membuat kesan yang baik pada bos, para karyawan rela berjam-jam berjibaku dengan pekerjaan.

Laporan tahun 2016 yang memeriksa kasus karoshi dan penyebab kematian mereka, menemukan bahwa lebih dari 20 persen responden dalam survei terhadap 10.000 pekerja Jepang, mereka bekerja setidaknya 80 jam lembur sebulan.

Tak jarang karyawan muda di Jepang bekerja lembur. Bos berharap mereka bekerja dengan datang lebih awal dan pulang terlambat, bahkan sering sampai larut malam. Misalnya Takehiro Onuki, seorang salesman berusia 31 tahun, sering tiba di kantor pukul 8 pagi dan baru pulang tengah malam. Onuki hanya dapat melihat istrinya pada akhir pekan. (Sumber: viva.co.id/ penatimor.com)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor