Connect with us

HUKRIM

Nahas, Ibu Guru di SMAN 4 Kupang Dianiaya Ayah Siswinya

Published

on

Kepala SMAN 4 Kota Kupang, Agustinus Bire Logo didampinggi para guru di Mapolsek Kelapa Lima, Kamis (18/10).

Kupang, penatimor.com – Makrina Bika, seorang guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Kota Kupang, dianiaya oleh Mateos Tuflasa, salah satu orangtua siswi, Kamis (18/10) siang.

Tindakan penganiayaan itu dilakukan di ruang kelas SMAN 4 Kupang.

Mateos Tuflasa nekat melakukan tindakan kekerasan terhadap perempuan yang berprofesi sebagai guru itu, karena tidak terima anaknya Meidel Tuflasa mendapat tamparan dari Makrina Bika.

Kepala Sekolah SMAN 4 Kota Kupang, Agustinus Bire Logo, saat dikonfirmasi di Mapolsek Kelapa Lima, mengatakan, kronologi kejadian itu bermula saat Meidel Tuflasa menyenggol Makrina Bika yang sementara berjalan di teras sekolah, dan langsung masuk ke ruang perpustakaan.

Makrina Bika yang mendapat senggolan, jelas Kepsek, lalu mendatanggi dan menegur anak didiknya itu. Namun, Meidel malah membalas teguran tersebut dengan kata-kata kasar kepada sang guru.

“Meidel Tuflasa mengeluarkan kata-kata kasar, sehingga ibu gurunya menampar, lalu anak ini menelepon dan melaporkan kejadian itu kepada orangtuanya. Karena tidak terima dengan aksi guru, Mateos Tuflasa langsung mendatangi sekolah dan menerobos masuk ke ruang sekolah dan menganiaya Makrina Bika,” ujar Agustinus.

Melihat ibu gurunya mendapat penganiayaan, para siswa yang ada di sekitar itu hendak melakukan perlawanan kepada Mateos yang datang seorang diri.

“Keadaan semakin memanas dan para guru melindungi Mateos dari amukan siswa. Saya langsung menghubungi aparat kepolisian Polsek Kelapa Lima untuk melakukan penjemputan terhadap Mateos agar menenangkan situasi yang saat itu sudah ricuh,” kata Agustinus.

Kapolsek Kelapa Lima AKP Didik Kurniato, membenarkan kejadian tersebut. Namun pihaknnya belum mengambil sikap yang lebih jauh terhadap kasus tersebut, karena belum ada laporan resmi dari korban dan keluarganya.

“Setelah kita mendapat laporan dari kepala sekolah untuk mengamankan pelaku, anggota langsung mengamankannya dan sementara ini kami mengamankan Mateos dan menanti laporan keluarga,” papar Didik.

Terhadap tindakan tersebut, orangtua murid Mateos Tuflasa untuk sementara waktu diamankan di tahanan Mapolsek Kelapa Lima, sambil menunggu laporan resmi dari pihak korban.

Informasi yang dihimpun, korban belum membuat laporan karena masih menunggu suami korban yang sementara dalam perjalanan dari Atambua hendak ke Kupang.

Menurut Makrina Bika, jika suaminya sudah tiba di Kupang, barulah mereka membuat laporan polisi untuk menindak tegas pelaku penganiayaan. (R3)

HUKRIM

Kasus Selfina, Satgas Trafficking Dipolisikan

Published

on

Permenas Arkalaus Manilapalai dan Dedy Jahapay saat berada di Mapolda NTT, Jumat (18/1) malam tadi.

Kupang, penatimor.com – Kasus dugaan pencekalan yang dilakukan Satgas Anti Trafficking Dinas Nakertrans Provinsi NTT di Bandara El Tari Kupang terhadap mahasiswa STT Yogyakarta asal Kabupaten Alor, Selfina Marsia Etidena, berbuntut panjang.

Aliansi Mahasiswa Peduli Kemanusiaan bersama kuasa hukum korban, Dedy Jahapay, SH., kembali mempolisikan Satgas Trafficking di Polda NTT, Jumat (18/1).

Hal ini berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/B/21/1/2019/SPKT dengan pelapor Permenas Arkalaus Manilapalai.

Satgas Trafficking dipolisikan dengan sangkaan melakukan tindak pidana pemfitnaan sebagaimana telah diatur dalam Pasal 317 KUHP.

Menurut Permenas, terlapor adalah Satgas Trafficking Nakertrans NTT yang bertugas di Bandara El Tari Kupang pada 4 Januari 2019 dan berjumlah lima orang.

Sementara, Dedy Jahapay, menambahkan, sampai saat ini pihaknya belum mengetahui Satgas yang bertugas pada saat itu.

“Kami belum tahu Satgas itu anggotanya siapa-siapa. Nanti pihak kepolisian yang menelusuri,” kata Dedy.

Laporan tersebut, lanjut dia, dikarenakan ada pengaduan atau laporan dari Satgas ke Ketua Tim Satgas yaitu Plt. Kadis Nakertrans NTT Sisilia Sona.

Ditambahkan, setelah rapat dengar pendapat dengan DPRD NTT, barulah diketahui bahwa laporan atau pengaduan yang disampaikan oleh tim yang berada di lapangan adalah laporan palsu.

“Kenapa demikian, karena yang kita dampingi teman-teman aliansi dan Selfina. Kami sudah memberikan data-data yang membuktikan Selfina benar mahasiswa dan bukan calon TKW,” sebut dia.

Masih menurut Dedy, sebagai pejabat publik, Plt. Kadis Nakertrans NTT harus mampu mempertanggung jawabkan apa yang selama ini dia sampaikan ke media massa.

“Sebagai kuasa hukum saya sangat sayangkan atas pernyataan yang disampaikan Plt. Kadis Nakertrans. Saya punya data-data yang valid untuk membuktikan bahwa korban adalah mahasiswa,” pungkas Dedy Jahapay. (R3)

Continue Reading

HUKRIM

Rekonstruksi Pembunuhan Boisala, Nimrot Lau Peragakan 18 Adegan

Published

on

Salah satu adegan diperankan tersangka Nimrot Lau dalam rekonstruksi di TKP wilayah Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Jumat (18/1).

Kupang, penatimor.com – Penyidik Unit Reskrim Polsek Alak melakukan rekonstruksi kasus dugaan pembunuhan terhadap korban Stefanus Boisala oleh tersangka Nimrot Lau.

Reka ulang dilakukan langsung di tempat kejadian perkara (TKP) di wilayah RT 10/RW 04, Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak sekira pukul 09.30, Jumat (18/1).

Tersangka dan tiga saksi dilibatkan dalam rekonstruksi tersebut dengan memeragakan 18 adegan.

Kapolsek Alak Kompol I Gede Sucitra kepada wartawan di sela-sela kegiatan itu, mengatakan, rekonstruksi dilakukan di dua tempat, yaitu di rumah korban Stefanus Boisala dan rumah Nimrot Lau.

Warga setempat tampak memadati lokasi sekitar TKP untuk menyaksikan secara langsung jalannya rekonstruksi.

Semua adegan diperankan oleh tersangka dan ketiga orang saksi sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP).

Adegan yang diperagakan, dimulai dari sebelum kejadian, saat kejadian dan sampai pelaku melakukan pembunuhan, korban terjatuh dan meninggal dunia.

Kapolsek katakan, motif kasus pembunuhan ini, sesuai hasil pemeriksaan tersangka dan saksi-saksi, adalah tersangka cemburu dan menaruh dendam terhadap korban yang diduga berselingkuh dengan istrinya.

“Karena sebelumnya ada peristiwa perzinahan dari korban dan istri tersangka,” ungkap Kapolsek.

Tersangka Nimrot Lau dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (R3)

Continue Reading

HUKRIM

Satlantas Polres Kupang Amankan 200 Motor, Segera Diputihkan

Published

on

Kasat Lantas Polres Kupang Iptu Andry Andriansyah, SIK., sedang menunjukan barang bukti kendaraan roda dua yang akan diputihkan, Rabu (16/1).

Kupang, penatimor.com – Ratusan barang bukti sepeda motor baik yang terlibat kasus kecelakaan lalu lintas maupun melakukan pelanggaran lalu lintas hasil sitaan sejak tahun 1999 hingga 2002 segera diputihkan.

Hal ini dilakukan jika pemilik kendaraan yang kendaraannya masih diamankan di kantor Satuan Lantas Polres Kupang, belum juga diambil pemiliknya.

Pihak Satuan Lantas Polres Kupang memberi kesempatan satu bulan kepada pemilik kendaraan untuk mengambil kendaraannya.

Syaratnya, harus membawa STNK dan BPKB kendaraan serta dilakukan cek fisik. Jika hingga satu bulan kedepan belum juga diambil maka dilakukan pemutihan barang bukti atau pemusnahan barang bukti.

Kasat Lantas Polres Kupang Iptu. Andry Andriansyah, SIK., saat di konfirmasi, Rabu (16/1), mengatakan, saat ini terdata total keseluruhan kendaraan roda dua yang berhasil diamankan sebanyak 200 unit dari berbagai merk.

“Ini sepeda motor barang bukti kecelakaan lalu lintas dan pelanggaran yang kita amankan dan belum diambil pemilik sejak tahun 1999 hingga 2002,” ujar Andry.

Ditambahkan, polisi tidak mengetahui pemilik sepeda motor karena selama belasan tahun sepeda motor tersebut tidak diambil pemiliknya.

“Masyarakat yang merasa memiliki kendaraan yang masih diamankan Polres Kupang di Babau sejak 1999, silahkan ke kantor kami dengan membawa STNK dan BPKB guna mengambil kembali sepeda motornya,” kata mantan Kasat Lantas Polres Rote Ndao itu.

Lebih lanjut dikatakan, pihak Sat Lantas Polres Kupang sudah mempublikasikan melalui berbagai media termasuk media sosial untuk mengimbau kepada masyarakat agar segera mengambil kendaraannya dengan membawa bukti kepemilikan yang sah.

Pihaknya juga memberikan deadline waktu satu bulan hingga pertengahan bulan Februari 2019 untuk pengambilan sepeda motor oleh pemilik.

“Kami berikan peringatan, bila dalam jangka waktu satu bulan tidak ada pemilik maka diputihkan, karena tidak bagus ditampung. Kami bukan menyimpan barang-barang tanpa pemilik, kami hanya amankan barang bukti yang ada pemiliknya,” tegas perwira pertama dengan pangkat dua balok di pundak itu.

Diakuinya kalau keberadaan ratusan sepeda motor tanpa kepastian pemilik dan ditampung bertahun-tahun di kantor Sat Lantas Polres Kupang bisa menimbulkan masalah.

“Bisa saja sepeda motor terbakar dan keberadaan nya menjadi beban bagi kita. Lahan penampungan yang seharusnya kita pakai untuk kegiatan lain ternyata saat ini diisi dengan menampung barang bukti selama belasan tahun,” tambahnya.

Ia menduga, sepeda motor tidak pernah diambil pemiliknya karena banyak sepeda motor yang tidak ada surat-surat seperti BPKB dan STNK.

Apabila ada warga yang bisa membuktikan kepemilikan kendaraan maka pihaknya siap mengeluarkan dan mengembalikan sepeda motor tersebut.

Namun sebelum diserahkan, polisi akan melakukan pengecekan fisik kendaraan untuk memastikan kepemilikan sepeda motor.

Ditegaskan kembali bahwa Sat Lantas Polres Kupang memberikan waktu sebulan sejak saat ini bagi masyarakat untuk mengkonfirmasi kendaraan jika memang miliknya.

“Jika ada STNK dan BPKB maka akan cek fisik, jika tidak maka akan kita bersihkan,” tegas Andry.

Kendaraan tersebut menumpuk di belakang kantor Sat Lantas Polres Kupang. Ratusan kendaraan berbagai merk dan tipe bahkan sudah berkarat.

Mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan, polisi mengosongkan tanki minyak kendaraan sehingga tersisa rangka kendaraan.

Kendaraan tersebut merupakan barang bukti kecelakaan dan sitaan polisi sejak tahun 1999 lalu. Hingga saat ini belum ada warga yang mengambil kembali kendaraan-kendaraan tersebut. (R3)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor