Connect with us

HUKRIM

Kantor Imigrasi Kupang Deportasi 22 WNA

Published

on

Abdi Widodo Subagio

Kupang, penatimor.com – Selama semester I tahun 2018 (Januari-Juni), Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas 1 Kupang telah mendeportasi 22 orang warga negara asing (WNA).

Kepala Seksi Wasdakim Kantor Imigrasi Kupang Abdi Widodo Subagio kepada wartawan, Selasa (24/7), mengatakan, para WNA yang dideportasi berasal dari China, Bangladesh, Vietnam, Myanmar dan Timor Leste.

Dia menjelaskan, WNA dideportasi karena melanggar hukum kemigrasian, dimana mereka masuk wilayah Indonesia secara ilegal.

“Mereka tidak memiliki paspor. Tapi ada juga yang masuk secara resmi dan terdaftar pada sistem kami di perlintasan, namun saat diamankan tidak menunjukan parpor, seperti tujuh WNA asal China yang mengaku paspor mereka diambil polisi perairan Australia,” jelas dia.

Masih menurut Abdi, deportasi terakhir kali dilakukan terhadap tujuh WNA asal Beijing, China, setelah mereka menjalani putusan Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Kupang dengan membayar denda masing-masing senilai Rp 15 juta di Kejari Kota Kupang.

Deportasi dilakukan setelah sebulan lebih mereka diamankan di Rumah Detensi Imigran (Rudenim) Kupang.

Dia melanjutkan, uang pembayaran denda sesuai putusan hakim di PN Kelas 1A Kupang di Kejari Kota Kupang senilai Rp 105 juta sudah disetor ke kas negara.

Hakim Prasetyo Utomo di PN Kupang dalam putusannya menetapkan ketujuh terdakwa bersalah karena tidak mampu memperlihatkan dokumen keimigrasian kepada petugas Kantor Imigrasi, sehingga divonis hukuman masing-masing dengan pidana denda senilai Rp 15 juta subsider 2 bulan kurungan.

Para WNA tersebut masing-masing Wu Zheng Yin, Fang Min, Chen Chunlin, Fu Zedong, Liangyi Hu, Yin Guoguang dan Zheng Min.

Sebelumnya, Abdi Widodo Subagio menjelaskan, ketujuh warga China itu masuk ke Indonesia menggunakam izin masuk bebas visa kunjungan melalui Bandara Soekarno Jakarta dan Bandara Hasanuddin Makassar pada 23 Mei, 25 Mei, dan 31 Mei 2018 dari Kuala Lumpur menggunakan pesawat.

“Ketujuh WNA ini masuk ke Indonesia secara resmi dan memiliki paspor. Mereka terdata di sistem kami di perlintasan. Hanya dokumen yang mereka miliki disita oleh polisi Australia. Sesuai aturan Keimigrasian, orang asing yang diberikan visa bebas kunjungan hanya dalam rangka berwisata, termasuk dari negara China,” kata Abdi.

Kantor Imigrasi Kupang juga telah melaporkan ke Konsulat China di Bandung dan segera melakukan identifikasi, sejak 14 Juni 2018 mereka dititipkan di Rudenim Kupang.
Perkara tersebut kata Abdi, adalah tindak pidana ringan Keimigrasian sesuai Pasal 116 Jo. Pasal 71 huruf n Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, dengan ancaman hukuman maksimal 3 bulan kurungan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 25 juta.

Sementara itu, sesuai data yang terekam di perlintasan Keimigrasian, Chen Chunlin dengan paspor ED073630 tiba di Makassar pada 25 Mei 2018 pukul 11.42 WITA dari Kuala Limpur, Malasya dengan pesawat AK330.

Selanjutnya, Wu Zhengyin dengan paspor EC4114636 tiba di Bandara Soekarno Hatta pada 31 Mei 2018 pukul 21.11 WIB, Zheng Min dengan paspor ED1685887 tiba di Bandara Soekarno Hatta pada 25 Mei 2017 pukul 23.58 WIB.

Yin Guoguang dengan paspor E43723824, Fang Min dengan paspor E68351641, Hu Liangyi dengan paspor E47953910 dan Fuzedong dengan paspor E93469011, bersama-sama tiba di Bandara Soekarno Hatta pada 23 Mei 2018 pukul 00.08. (R1)

HUKRIM

Operasi Zebra di Kupang, Pelanggaran Meningkat

Published

on

Rocky Junasmi (IST)

Kupang, penatimor.com – Operasi Zebra Turangga 2018 berjalan aman dan lancar dari 30 Oktober hingga 12 November 2018.

Pihak Sat Lantas Polres Kupang juga telah melakukan rekapitulasi dan evaluasi terhadap hasil Operasi Zebra yang dilakukan.

Ada peningkatan pelanggaran mencapai 37 persen, jika dibanding dengan Operasi Zebra tahun 2017.

Hal ini diungkapkan Kasat Lantas Polres Kupang Kota Iptu Rocky Junasmi saat dikonfirmasi di kantornya, Selasa (13/11)

“Operasi Zebra yang dilakukan tahun ini meningkat. Hasil tilang sebanyak 802 atau meningkat 37 persen,” kata Rocky.

Dia menjelaskan, operasi Zerba Turangga 2018 lebih difokuskan kepada penindakan terhadap pengendara anak di bawah umur.

Selain itu juga pengendara yang mengemudi sambil menggunakan ponsel dan sering berkendara lawan arus.

Rocky merinci, dalam Operasi Zebra telah dilakukan penindakan terhadap ratusan pelanggar, masing-masing penguna helm sebanyak 314, batas usia (34), lawan arus (22), batas kecepatan (18), dan pengguna handphone (4).

“Rata-rata rata pengendara sepeda motor,” sebut Rocky.

Selain itu, jika dilihat dari profesi pelaku maka, terdapat pelajar sebanyak 457, karyawan swasta (325), dan PNS (20).

Adapula kecelakaan lalu lintas (lakalantas) yang terjadi sebanyak 18 kejadian, dengan jumlah korban meningkat dibanding tahun sebelumnya, yakni sebanyak 10 orang.

“Untuk operasi tilang hari Sabtu dan Minggu masih dilakukan terus. Tapi untuk hari Minggu kami masih melakukan sosialisasi penting nya mengunakan helm,” pungkas Rocky Junasmi. (R3)

Continue Reading

HUKRIM

Gara-gara Uang Rp 30 Juta, Trisen Baifeto Nekat Habisi Nyawa Istrinya

Published

on

Tersangka Trisen Deni Agung Baifeto sementara memperagakan salah satu adegan saat rekonstruksi di Mapolsek Alak, Selasa (13/11).

Kupang, penatimor.com – Penyidik Reskrim Polsek Alak menggelar rekonstruksi kasus dugaan pembunuhan terhadap Marlice Herianty Tefu (36), warga RT 23/RW 7, Kelurahan Manutapen, dengan tersangka Trisen Deni Agung Baifeto yang merupakan suami korban.

Dalam rekonstruksi yang dilakukan di halaman Mapolsek Alak tersebut, tersangka memperagakan 17 adegan.

Reka ulang itu melibatkan dua orang saksi, yakni saksi yang pertama kali melihat kejadian tersebut dan anak kandung korban yang saat kejadian berada di dalam rumah.

Kapolsek Alak Kompol I Gede Sucitra kepada wartawan di Mapolsek Alak, Selasa (13/11), menjelaskan rekonstruksi yang dilakukan pihaknya untuk melengkapi berkas penyidikan.

Menurut dia, rekonstruksi tidak bisa dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP) karena faktor keamanan yang tidak memungkinkan.

“Kami tidak bisa melakukan rekonstruksi di TKP karena faktor keamanan. Rekonstruksi ini juga hanya melengkapi berkas perkara sehingga kami memilih untuk mengelar di Mapolsek,” ungkap I Gede Sucitra.

Usai rekonstruksi tersebut, penyidik akan melengkapi berkas perkara untuk dilakukan pelimpahan ke Kejaksaan.

“Jika tidak berhalangan, usai rekonstruksi ini akan dibuat berita acara proses rekonsturksi agar dalam waktu dekat segera dilimpahkan, karena hasil otopsi sudah ada,” imbuh I Gede Sucitra.

Dia melanjutkan, sesuai dengan hasil pemeriksaan, tersangka mengaku melakukan aksi nekatnya itu karena faktor keuangan.

“Tersangka dan korban bersepakat untuk meminjam uang ke bank sebanyak Rp 30.000.000 untuk buka usaha, namun saat tersangka melakukan print out rekening, uang yang ada di rekening sudah berkurang. Dari kekurangan tersebut tersangka mempertanyakan kemana uang tersebut kepada korban, namun setiap kali ditanya, korban selalu mengelak dan marah-marah, sehingga tersangka melakukan kekerasan terhadap korban hingga meninggal dunia,” jelas perwira dengan pangkat satu melati di pundaknya itu.

Sebelum kejadian, tersangka juga mengaku bersama korban jalan-jalan dan mengunjungi makam ibu korban, lalu menginap di rumah keluarga korban baru kembali ke rumah.

“Tiba di rumah itulah yang puncak masalah dan tersangka menghabisi nyawa korban,” tutur Kapolsek.

Akibat perbuatan tersebut, penyidik menjerat tersangka dengan Pasal 44 Ayat (3) jo Pasal 5 huruf a Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004, tentang penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan ancaman kurungan 15 tahun penjara.

Maria Sanak, salah satu keluarga korban, saat diwawancarai di sela-sela kegiatan rekonstruksi, mengaku sangat menyesali perbuatan tersangka yang melakukan aksi nekat menghilangkan nyawa sepupu kandungnya itu.

Atas kejadian tersebut, menurut Maria, ketiga anak dari korban dan tersangka harus kehilangan orangtua, dan saat ini pihak keluarga telah bersepakat untuk mengasuh dan membesarkan ketiga anak tersebut.

“Kami dari keluarga meminta agar tersangka dihukum sesuai dengan perbuatannya, karena telah menghilangkan nyawa istri sendiri dan juga saat ini menerlantarkan ketiga anaknya. Kami sebagai keluarga sudah bersepakat untuk membesarkan anak-anak yang belum mengerti apa-apa ini,” papar Maria sambil meneteskan air mata.

Diketahui, ketiga anak korban masing-masing, EB, DB dan JB yang masih berusia 1,3 tahun. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Sidik Penipuan Senopati Travel, Polisi Periksa Saksi di Malang

Published

on

Yance Kadiaman

Kupang, penatimor.com – Penyidik Unit Pidum Satresktim Polres Kupang Kota telah mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) perkara dugaan penipuan dan penggelapan uang dengan tersangka Satrio Budi Santoso (30) ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kupang.

Hal ini disampaikan Kasat Reskrim Iptu Bobby Jacob Mooynafi melalui Kanit Pidum Yance Kadiaman, saat diwawancara di ruang kerjanya, Selasa (13/11).

“Jadi perkembangan sekarang, untuk kasus Senopati Travel ini, pemeriksaan tersangka sudah, kemudian pengiriman SPDP ke Kejaksaan, sekarang berkas lagi dirampungkan,” kata Yance.

Menurut Kanit Pidum, penyidik akan melakukan pemeriksaan beberapa saksi terkait dengan aliran uang yang sudah dikirim oleh mahasiswa kepada pihak Senopati Travel.

“Sesuai pengakuan tersangka, ada sejumlah uang yang digunakan untuk keperluan pribadinya. Dia juga sudah menjelaskan aliran uang ke beberapa pihak. Para pihak ini yang akan diambil keterangan, terkait untuk membuktikan bahwa uang ini tersangka sudah ambil dari pihak korban kemudian digunakan untuk kepentingan pribadi,” jelas Yance.

Untuk kepentingan pembuktian tersebut, penyidik akan melakukan pemeriksaan terhadap lima orang saksi di Batu, Malang, Jawa Timur.

Kelima saksi tersebut adalah karyawan Senopati Travel dan pihak lain yang menerima aliran uang dari tersangka untuk kepentingan pembayaran utang.

“Penyidik akan jemput bola dengan mendatangi beberapa saksi yang ada di wilayah hukum Polda Jawa Timur. Namun penyidik terlebih dahulu telah mengirim surat panggilan kepada alamat yang dituju, kemudian sudah mencantumkan kontak person untuk saling berkoordinasi terkait kepentingan pemeriksaan, agar pihak yang berkaitan ini bisa memahami tujuan pemeriksaan,” terang dia.

Ditambahkan, penyidik juga akan menelusuri ada tidaknya kemungkinan uang hasil penipuan tersebut digunakan untuk pengadaan aset pribadi.

“Kalau memang ada maka tentu harus diamankan. Tersangka dalam proses hukum juga koperatif dengan mengeluarkan rekening koran pribadinnya,” sebut Yance.

Penyidik juga terus mengembangkan penyidikan perkara dugaan penipuan dan penggelapan uang dari 88 mahasiswa Pasca Sarjana Undana Kupang tersebut, dengan telah memeriksa delapan orang saksi.

“Kita telah memeriksa delapan orang saksi yang merupakan koordinator untuk semua mahasiswa pasca sarjana Undana yang hendak melakukan study tour ke Negara Malaysia, Singapura dan Thailand, termaasuk perwakilan peserta dan dosen pasca sarjana,” kata Yance.

Penyidik juga segera melakukan pemeriksaan terhadap mahasiswa lainnya yang menjadi korban dalam perkara dimaksud.

Tersangka dijerat dengan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, mengatakan, studi tour ke luar negeri merupakan salah satu syarat bagi setiap mahasiswa atau lulusan program pasca sarjana Undana, karena nantinya mereka akan mengikuti seminar internasional dan mendapat sertifikat sebagai syarat pengambilan ijazah.

Dan Senopati Travel dipilih untuk menjadi travel agency studi tour ke tiga negara tersebut, setelah diundang ke Undana dan melakukan presentasi.

Dalam presentasinya, tersangka memberikan berbagai penawaran murah untuk perjalanan ke tiga negara tujuan.

Dan selanjutnya masing-masing mahasiswa menyetor uang senilai Rp 6.800.000, sehingga total dana yang terkumpul mencapai Rp 596 juta.

Setelah penyetoran uang selesai, ternyata tersangka membatalkan keberangkatan dari waktu yang sudah ditetapkan sebanyak tiga kali.
“Sudah tiga kali rencana keberangkatan, tetapi setiap H-1, tersangka meminta pembatalan tanpa alasan yang jelas,” kata Kasat Reskrim.

Pembatalan ini jelas sangat merugikan para mahasiswa pasca sarjana Undana yang kebanyakan sudah bekerja sebagai PNS dan pegawai swasta.

“Para mahasiswa merasa ditipu, karena rata-rata mereka adalah PNS dan harus mengajukan cuti, sementara waktu cuti telah selesai karena tiga kali pembatalan keberangkatan,” beber Bobby yang juga mantan Kasat Reskrim Polres Sikka.

Merasa sudah ditipu karena tiga kali pembatalan itu, para mahasiswa akhirnya meminta uang mereka dikembalikan. Namun tersangka masih berkelit dengan berbagai alasan.

Sehingga para mahasiswa lalu mengundang tersangka ke Kupang untuk menjelaskan secara langsung tentang apa alasan dan kendala yang mengakibatkan tiga kali pembatalan keberangkatan.

Namun saat tersangka tiba di Kupang, Rabu (31/10), berdasarkan laporan polisi yang dibuat salah satu mahasiswa sebelumnya, polisi melakukan penangkapan terhadap tersangka saat sedang makan di Restoran Dapur Nekamese.

Tersangka langsung dibawa ke Mapolresta untuk menjalani proses hukum, dimana dalam keterangannya ke penyidik, tersangka mengaku uang yang dikumpulkan dari mahasiswa pasca sarjana Undana telah digunakan untuk jenis usaha yang lain. (R1)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor