Connect with us

HUKRIM

Pemerkosa Turis Prancis Dijemput Polres Mabar di Sumbar

Published

on

Kombes Pol Jules Abast

Kupang, penatimor.com – Aparat kepolisian bergerak cepat menangkap DPO kasus pemerkosaan terhadap wisatawan asing asal negara Prancis.

Pelaku yang diduga hendak melarikan diri, dibekuk polisi saat tiba di Pelabuhan Waekelo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), menggunakan kapal motor dari Sape, Bima, NTB, sekira pukul 06.30, Jumat (22/6).

Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Jules Abast, yang diwawancarai di ruang kerjanya, Jumat (22/6), membenarkan.

“Ya, benar DPO berinisial KAP alias A alias I sudah ditangkap oleh pihak Polsek Laura di Pelabuhan Waekelo,” kata Jules.

Menurut dia, pelaku kemudian diamankan di Mapolsek Laura dan selanjutnya diserahkan ke Mapolres Sumba Barat.

“Saat ini pihak Polres Sumba Barat dan Polres Manggarai Barat (Mabar) telah berkoordinasi. Tim penyidik Polres Mabar sudah ke Sumba Barat untuk menjemput pelaku,” kata Jules.

Mantan Kapolres Manggarai Barat itu mengimbau kepada para wisatawan mancanegara dan domestik yang berkunjung ke Labuan Bajo atau wilayah NTT dan ingin menggunakan jasa pemandu wisata, agar menggunakan jasa guide yang terdaftar resmi pada asosiasi atau organisasi resmi.

“NTT secara umum masih aman dan kondusif. Mudah-mudahan ini kasus terakhir. Kami ajak semua wisatawan untuk tetap datang ke NTT,” imbau Jules.

Perwira menengah dengan pangkat tiga melati di pundak itu, melanjutkan, pelaku diduga melakukan pemerkosaan terhadap korban berinisial MBL, 22, seorang mahasiswa asal negara Prancis yang baru saja berada di Labuan Bajo, sehari sebelum kasus asusila tersebut dialaminya.

Pelaku yang diduga asal Kecamatan Wolowaru Kabupaten Ende itu dijerat dengan Pasal 285 KUHP tentang Pemerkosaan dengan ancaman hukuman selama 12 tahun penjara.

Jules menguraikan, kasus tersebut bermula saat korban berkenalan dengan pelaku, kemudian korban meminta pelaku mengantarnya ke lokasi wisata air terjun Cuncawulang, sekira 25-30 Km arah timur Labuan Bajo, atau sekira 2 jam perjalanan darat, Selasa (12/6).

Sekembalinya dari Cuncawulang, pelaku yang membonceng korban menggunakan sepeda motor mengarahkan kendaraannya ke semak belukar lalu memaksa korban berhubungan intim bak suami istri.

Pelaku juga disebutkan mengancam korban jika tidak meladeninya berhubungan badan maka akan diperkosa beramai-beramai oleh sekumpulan orang yang disebut pelaku sebagai teman-temannya.

Korban yang ketakutan pun akhirnya pasrah diperkosa pelaku. Selanjutnya, keduanya melanjutkan perjalanan pulang ke hotel, tempat korban menginap di Labuan Bajo.

Sesampainya di hotel, pelaku kembali memaksa korban untuk berhubungan badan.

Namun korban menolak dan mengaku sakit, sehingga meminta pelaku mengantarnya ke Rumah Sakit Siloam.

Pelaku usai mengantar korban ke rumah sakit langsung melarikan diri. Karena korban masih dirawat, dia lalu dibesuk pihak hotel, dan saat itu korban mengungkapkan tindak pemerkosaan yang dialaminya.

Sehingga Lutfi dari pihak hotel tempat korban mengingap langsung melaporkan kasus tersebut ke polisi di Mapolres Manggarai Barat.

Atas laporan tersebut, Polres Manggarai Barat melakukan penyelidikan dan berkoordinasi dengan Polres-Polres tetangga untuk mendeteksi keberadaan pelaku.

“Hasil penyelidikan terakhir kita, pelaku diketahui berada di Sape. Pelaku juga tidak menggunakan handphone,” kata Jules.

Korban setelah menjalani perawatan intensif dan dibolehkan pulang oleh tim dokter, langsung kembali ke Jakarta.

Selain itu, lanjut Jules, pihaknya juga berkoordinasi dengan ASITA untuk pengembangan pariwisata di NTT, khususnya di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Dilansir sebelumnya, jajaran Unit Reskrim Polsek Loura, Polres Sumba Barat, dikabarkan telah berhasil mengamankan DPO asal Polres Manggarai Barat (Mabar) Constantinus Andhi Putra dengan nomor : DPO/08/VI/2018/ Sat Reskrim tanggal 21 Juni 2018 yang bertempat di Pelabuhan Waikelo, Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

Constantinus terlibat kasus pemerkosaan terhadap WNA Prancis dan Italia dengan laporan polisi nomor: LP/109/VI/2018/NTT/Res. Mabar tanggal 13 juni 2018 dan Laporan Polisi Nomor: LP/110/VI/2018/NTT/Res. Mabar tanggal 14 Juni 2018.

Sumber tepercaya media ini di Polres Sumba Barat, sampaikan kronologis penangkapan DPO tersebut, dimana setelah menerima daftar DPO anggota Reskrim Polsek Loura melakukan penyelidikan keberadaan DPO tersebut dari hasil teridentifikasi keberadaannya sehingga anggota Reskrim Polsek Loura, Brigpol Mansyur Yangki dan Brigpol Marianus lagho dan dibantu oleh Pol Air Waikelo Bripka M. Ali Akbar pada Jumat (22/6) sekira pukul 6.30 melakukan penangkapan terhadap tersangka di TKP yang diduga akan melarikan diri dengan menggunakan perahu motor menuju Sape, Bima, NTB.

Anggota Reskrim Polsek Loura langsung mengamankan pelaku tersebut di Pelabuhan Waikelo, Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten SBD.

Polisi juga mengamankan barang bukti berupa uang pecahan Australia 50 dolar sebanyak 6 lembar, uang pecahan Rp 50.000 sebanyak 6 lembar, uang pecahan Rp100.000 sebanyak 1 lembar, dompet yang diduga milik korban berisikan ATM serta paspor, 1 buah tas yang berisikan pakaian dan uang logam Australia sebanyak 11 keping.

Jalannya proses penangkapan terhadap pelaku tersebut berjalan aman dan lancar. (R1)

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Berkas P-21, Tiga Pengebom Ikan di Kupang Segera Diadili

Published

on

Tiga nelayan asal Kabupaten Kupang diamankan petugas di Kantor Stasiun PSDKP Kupang, belum lama ini.

Kupang, penatimor.com – Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kupang telah melengkapi berkas perkara tiga orang nelayan asal Kabupaten Kupang, yang diduga melakukan pengeboman ikan di perairan Tanjung Batu Lelan, Kabupaten Kupang.

Berkas perkara telah lengkap (P-21) dan rencananya akan dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi NTT setelah pemilihan serentak Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Legislatif.

Kepala Stasiun PSDKP Kupang Mubarak, S.St.Pi., kepada wartawan, Selasa (16/4), mengemukakan bahwa setelah melakukan penangkapan ketiga nelayan tersebut pihaknya telah merampungkan berkas perkara ketiga tersangka.

“Direncanakan pelimpahan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan setelah Pemilu. Jadi sekitar tanggal 23 Aprli 2019 kami akan melakukan pelimpahan tahap dua,” ujarnya.

Terhadap para tersangka yakni tersangka Princes Batuk Yusuf Tanakh dan Yepson Tari, dikenakan Pasal 86 ayat (1) jo Pasal 12 ayat (1), Pasal 84 ayat (1) jo Pasal 8 ayat (1), Pasal 85 jo Pasal 9, UU RI No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-Undang RI No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

“Jadi ketiga tersangka, kami jerat dengan Undang-Undang Perikanan dengan ancaman hukuman maksimal 10 dan denda 2 miliar,” jelasnya.

Ketiga nelayan tersebut merupakan nelayan asal Kabupaten Kupang. “Mereka menangkap ikan dengan menggunakan bom yang dikemas dalam botol kratingdaeng,” katanya.

Sebelumnya, Mubarak menjelaskan, kejadian bermula ketika tim operasi PSDKP Kupang menggunakan kapal patroli Napoleon-054 sedang melakukan penyelaman untuk memantau kondisi karang di perairan Pulau Kambing.

Selanjutnya, tim melihat sebuah kapal motor nelayan dilengkapi dengan sampan yang membawa alat tangkap gill net dandan monofilamen yang dicurigai melakukan penangkapan ikan di Tanjung Batu Lelan, sekitar 1 km dari Pulau Kambing.

“Mereka terus melaju dan berusaha melarikan diri. Namun, saat kami menghampiri, mereka pun berhenti, setelah diberikan tembakan peringatan sebanyak tiga kali pada titik koordinat 10°17. 960′ S dan 123° 25.199′ E,” ungkap Mubarak.

Setelah ditahan, petugas melakukan pemeriksaan, ditemukan sejumlah ikan yang diisi dalam sebuah kulbok yakni ikan hiu, ketamba, ikan kakak tua, serta ikan teri sebanyak satu kantong jaring dengan ciri-ciri mata pecah, dan badan memar.

“Setelah ikan dibedah, ditemukan bercak darah yang diduga terkena serangan bom. Kami berusaha mencari barang bukti, namun tidak menemukan,” paparnya.

Dari hasil interogasi awal, lanjut Mubarak, dua nelayan tersebut mengaku menggunakan bom saat menangkap ikan.

Bom yang dikemas dalam bentuk botol minuman berenergi itu dilempar juragan kapal berinisial PM asal Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat.

Mubarak menambahkan, dengan dua alat bukti yang didapatkan tersebut, ketiga nelayan masing-masing Princes Batuk, Yusuf Tanakh dan Yepson Tari tersebut diamankan di Pelabuhan Perikanan Tenau Kupang untuk pemeriksaan lanjutan. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Gara-gara Kunci Kotak Suara, Linmas TPS Tusuk Ketua KPPS

Published

on

Foto Istimewa (sripoku.com)

Kupang, Penatimor.com – Seorang Ketua Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS), Rio Habibi ditusuk anggota Linmas TPS berinisial FB. Penyebabnya diduga hanya karena anak kunci gembok kotak suara.

Sebagaimana dilansir merdeka.com, peristiwa itu terjadi di depan TPS 8, Kelurahan Selangit, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, Rabu (17/4) pukul 07.00 WIB. Tiba-tiba korban dan pelaku terlibat cekcok mulut.

Adu mulut berakhir penusukan. Korban mengalami luka tusuk ringan di dada dan langsung dievakuasi ke puskesmas terdekat. Sementara pelaku yang tak lain adalah anak ketua RT setempat langsung kabur.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara membenarkan kejadian itu. Meski sempat terjadi aksi penusukan yang dialami Ketua KPPS, TPS tersebut masih bisa dilangsungkan pencoblosan.

“Ya ada penusukan Ketua KPPS di Musi Rawas di bagian dada. Diduga karena masalah anak kunci,” ungkap Zulkarnain.

Sementara itu, Kapolsek Terawas, Musi Rawas, Iptu Arfan mengatakan, saat ini korban sedang melapor ke polsek setelah menjalani perawatan medis. Sementara pelaku masih dalam pemburuan.

“Korban masih melapor, untuk pelakunya masih lari. Korban itu Ketua KPPS dan pelaku Linmas,” kata Arfan.

Dari laporan yang diterimanya, kejadian itu diduga dipicu karena anak kunci kotak suara yang semestinya berjumlah tiga unit, tetapi hanya ada dua. Pelaku pun menuduh korban memegang satu anak kunci yang hilang.

“Ya soal anak kunci kotak suara, tapi lebih jelasnya belum tahu. Nanti kita sampaikan laporan selanjutnya,” pungkasnya. (merdeka.com/R2)

Continue Reading

HUKRIM

Polsek Alak Kejar Tiga Pemerkosa Mahasiswi

Published

on

Kapolsek Alak Kompol I Gede Sucitra didampingi penyidik pembantu PPA Polsek Alak Bripka Threena Labuh saat memberikan keterangan kepada wartawan di Mapolsek Alak, Rabu (10/4).

Kupang, penatimor.com – Polsek Alak terus mengejar tiga pelaku pemerkosaan terhadap korban KCBP (19), salah satu mahasiswi di lokasi Jalan Baru, Kelurahan Penkase, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Kasus kejahatan seksual tersebut terus didalami penyidik PPA Unit Reskrim Polsek Alak.

Kapolsek Alak Kompol I Gede Sucitra, SH., saat dikonfirmasi wartawan, menjelaskan pihaknya terus menyidik kasus pemerkosaan yang terjadi sekitar pukul 20.30 di kebun warga samping Jalan Baru Kelurahan Penkase Oeleta menuju Kelurahan Manutapen, Minggu (24/3) lalu.

“Kita masih mencari tahu para pelaku sesuai dengan keterangan korban dan mudah-mudahan bisa diungkap,” kata mantan Kapolsek Maulafa itu.

Kasus tersebut berawal saat korban KCBP dan pacarnya yang berinisial IS sementara asyik berpacaran sambil menikmati pemandangan di lokasi kejadian.

Tiba-tiba datang tiga orang pemuda dan langsung menodong korban dan pacarnya.

“Tiga pelaku tersebut menodong korban menggunakan barang tajam (parang) dan memaksa untuk menyerahkan barang milik kedua korban,” kata Kapolsek.

Saat ditodong pelaku, korban terpaksa menyerahkan dompet serta handphone nya.

Pacar korban lalu berusaha melarikan diri dan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Alak.

Saat IS melarikan diri, pacarnya jadi sasaran pelampiasan napsu dari para pelaku. Korban dipegang dan diperkosa secara bergiliran.

Polisi yang menerima laporan tersebut lalu mendatangi TKP. Namun pelaku mengetahui kedatangan polisi, langsung melarikan diri ke semak belukar.

“Dari pengakuan korban, dua orang pelaku sudah melakukan hubungan badan dengannya. Polisi cepat tiba di TKP jadi satunya tidak dapat giliran,” jelasnya.

Para korban lalu diarahkan ke Polsek dan dimintai keterangan. Korban tidak mengenal para pelaku, namun ciri-ciri pelaku sudah disampaikan kepada polisi.

Ketiga pelaku yang melarikan diri tidak sempat membawa barang-barang milik korban yang sebelumnya sudah dirampas.

“Polisi telah mendapat keterangan dari korban. Saat ini tengah dilakukan upaya penggungkapan dan penangkapan terhadap para pelaku,” sebut Kapolsek.

Perwira dengan pangkat satu melati di pundak tersebut mengimbau kepada masyarakat yang hendak melintas di jalan tersebut pada malam hari agar lebih berhati-hari karena kejadian kekerasan sudah berulang kali terjadi.

Pemerintah juga diharapkan dapat memasangkan lampu jalan di area tersebut.

Pasalnya ketiadaan lampu penerangan jalan di lokasi tersebut menyebabkan para pelaku mudah beraksi.

“Para orangtua juga kami imbau agar lebih menertibkan anak-anak agar pada malam hari tidak menggunakan tempat tersebut untuk berpacaran, meski pemandangan di situ bagus pada malam hari,” tutup Kapolsek. (R1)

Continue Reading

Trending

error: Content is protected !!