Connect with us

SELEBRITI

Eldo Hattu, Artis Cilik Asal Kupang yang Sukses Bintangi Puluhan Sinetron dan Film Layar Lebar

Published

on

Eldo Hattu

Kupang, penatimor.com – Elia Dominggus Rato Namo Hattu yang akrab disapa Eldo Hattu merupakan salah satu artis cilik asal Kota Kupang yang berhasil di dunia akting nasional.

Eldo memulai karirnya sejak usia 8 tahun dengan membintangi Sinetron Buyung upik.

Saat diwawancarai di Kupang, Senin (18/6), Eldo mengaku selama ini sudah membintangi 20 film, baik sinetron dan film layar lebar.

Bocah kelahiran Kupang 30 Januari 2007 ini mengaku memang sangat menyukai dunia akting, tarik suara dan modeling.

“Awalnya memang Eldo suka ikut lomba fashion show, menjadi model dan lainnya, didukung oleh mama dan papa akhirnya Eldo bisa sampai sekarang,” kata anak dari pasangan Richardo Hattu dan Justin Wini Ndaparoka ini.

Eldo mengaku sudah membitangi beberapa film, sinetron dan juga iklan.

Diantaranya, Uyung Upik, Putra Petir, Jodoh Wasiat Bapak, Takdir, Samson Ketemu Tuyul, Mitos Foto Bertiga, Terbakarnya Kapal Wisata, Tak Salat Maka Tak Sayang, Suara Hati Ibu, Istri Durhaka Kepada Suami Setia, dan film layar lebar Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.

“Eldo membintangi film dan sinetron di stasiun televisi RCTI, Antv, SCTV, Trans7, MNC, ANTV, Trans Tv dan lainnya. Banyak pengalaman dan hal baru yang Eldo dapat. Bertemu teman baru, artis senior sebagai lawan akting dan lainnya,” ujarnya.

Menurut Eldo, shuting tetap merupakan suatu pengembangan bakat dan merupakan hobinya, tetapi pendidikan adalah hal utama baginya.

Eldo sekarang sekolah di SD Katolik Nusa Melati, Cipayung Jakarta Timur.

“Jadi saat break di lokasi shuting, biasanya Eldo gunakan untuk belajar, karena waktu shuting mulai jam 1 siang, dilanjutkan sampai malam. Eldo memilih untuk belajar di lokasi shuting agar pekerjaan dan belajar tetap berjalan tanpa mengorbankan pendidikan atau shuting,” ujarnya.

Eldo berharap, akan ada banyak anak-anak Kota Kupang yang mengikuti langkahnya di dunia akting, menyanyi dan lainnya.

“Intinya adalah bakat yang ada dalam diri harus dikembangkan, jangan malu, terus belajar untuk menggapai semua cita-cita,” ungkapnya.

Sementara itu, ibunda Eldo, Justin Wini Ndaparoka, menggatakan, awalnya ia melihat anaknya berbakat dalam dunia akting saat mengikuti lomba fashion show di Kupang.

Ia melihat anaknya memiliki bakat akting dan berani menunjukan bakatnya di depan umum.

“Selain itu, saya mulai melatih Eldo dengan mengikuti berbagai lomba fashion show, menjadi model dan lainnya. Pada tahun 2016 lalu, Eldo mengikuti lomba fashion cilik mewakili Provinsi NTT dan bersaing dengan provinsi lainnya di Indonesia. Eldo keluar sebagai juara umum dengan memamerkan busana dengan motif tenun asli NTT. Terpilih menjadi juara umum, Eldo langsung ditawari bermain sinetron. Itulah awalnya Eldo mulai terjun dalam dunia akting,” katanya.

Justin mengaku, sebagai seorang ibu, ia juga tetap memprioritaskan pendidikan bagi anaknya.

Eldo selalu ditemani ibunya saat shuting maupun belajar di lokasi shuting.

“Bagi saya pendidikan bagi anak adalah hal utama. Untuk itu, saat break shuting selalu digunakan untuk belajar,” ungkapnya.

Menurutnya, sebagai orangtua harus bisa melihat bakat dan potensi yang dimiliki anak. Tidak memaksa anak mengikuti keinginan orangtua. Tetapi mendukung bakat yang ada, dengan terus dibimbing agar bakatnya bisa disalurkan dengan baik.

“Anak-anak terlahir dengan bakatnya masing-masing. Sebagai orangtua harus bisa melihat bakat anak dan membimbingnya. Tidak memaksanya menjadi orang lain, tetapi biarkan dia menjadi dirinya sendiri dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Orangtua juga bertanggung jawab membimbing anak dalam mewujudkan cita-citanya,” pungkasnya. (*/R1)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SELEBRITI

Buka Debat Capres, Judika Kenakan Baju Berbahan Tenun NTT

Published

on

Judika Sihotang saat tampil membuka debat Capres di Gedung Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (17/1). Dia mengenakan baju berbahan tenun ikat khas NTT.

Jakarta, penatimor.com – Debat calon presiden (capres) perdana di Pemilu Presiden 2019 diadakan malam tadi, Kamis (17/1).

Debat capres perdana tersebut berlangsung di Gedung Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan.

Penampilan penyanyi Judika Sihotang membuka debat capres perdana tersebut.

Jebolan Indonesian Idol itu tampil membawakan lagu ‘Zamrud Khatulistiwa’.

Dengan mengenakan baju berwarna hitam berbahan tenun ikat asal Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi NTT, suami presenter Duma Riris ini tampil di hadapan para penonton yang ada di tempat berlangsungnya debat tersebut tepat pukul 20.00 WIB.

‘Zamrud Khatulistiwa’ merupakan lagu yang diciptakan oleh Guruh Soekarno Putra. Lagu tersebut juga pernah dinyanyikan oleh Chrisye.

Debat tersebut berlangsung antara pasangan calon nomor urut satu yakni Joko Widodo dan Ma’ruf Amin dengan pasang calon nomor urut dua yakni Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Ira Koesno dan Imam Priyono menjadi moderator yang memandu jalannya debat pertama tersebut, dengan mengetengahkan Hukum, HAM, Korupsi dan Terorisme. (R4)

Continue Reading

SELEBRITI

Selamat Jalan Sang Maestro Sasando

Published

on

Yeremias Aougust Pah

Kupang, penatimor.com – Yeremias Aougust Pah, sang maestro dan pelestari Sasando, telah meninggal dunia dalam usia 80 tahun.

Berpulangnya sosok kelahiran Rote, 20 Oktober 1939 silam itu meninggalkan duka mandalam, tidak saja istri beserta 8 orang anak dan keluarga besar, tapi juga insan seni dan masyarakat NTT.

Yeremias mengembuskan napas terakhir pada pukul 04.00, Kamis (10/1) dini hari.

Pembuat Sasando sekaligus ayah dari Djitron Pah dan Berto Pah itu divonis dokter menderita prostat dan perdarahan di hati. Sakitnya itu diderita selama 1 tahun 5 bulan.

Istri almarhum Dorceh Pah-Ndun kepada wartawan di rumah duka, Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, mengatakan, kematian suaminya telah disampaikan kepada seluruh keluarga dan kerabat.

“Rencananya bapa akan dimakamkan pada Minggu 13 Januari 2019,” kata Dorceh.

Dia juga mengaku sangat kehilangan sosok suami yang rajin dan peduli dalam keluarga.

Yermias kata dia, dimasa senjanya terus melestarikan alat musik Sasando dan topi Ti’i Langga yang sudah menjadi warisan budaya orang Rote yang kini telah menjadi icon NTT bahkan Indonesia di mata dunia internasional.

Almarhum telah mengukir berbagai prestasi, misalnya mendapat penghargaan dari Jero Wacik Menteri Kebudayaan Pariwisata sebagai seniman senior Indonesia (Maestro) pada 28 Desember 2007.

Almarhum kerap diundang memainkan Sasando di Istana Negara dari pemerintahan Presiden Soeharto hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kecintaan almarhum untuk memperkenalkan alat musik Sasando tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hingga mancanegara misalnya di Yokohama, Jepang.

Putra almarhum, Djitron Pah juga pernah memainkan Sasando saat kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) waktu itu Barrack Husein Obama dan Ibu Negara AS Michael Obama pada 2013 lalu.

Jeremias memang terkenal. Tidak heran, dia berulang kali mendapatkan penghargaan Gold Liontin dari Kementerian Kebudayaan di Jakarta pada tahun 2016 dan penghargaan sebagai seniman Maestro oleh Presiden SBY saat itu.

Aki Kalla, salah satu seniman di Kupang, juga menyatakan dukacita mendalam atas kematian Yeremias Aougust Pah.

“Insan seni dan masyarakat NTT sangat kehilanganmu bapak Mias, torehan karyamu bagi NTT sungguh bernilai. Terima kasih untuk dedikasinya bagi kesenian di NTT. Karyamu menjadi nafas bagi kami semua orang muda untuk terus berkarya menuju NTT Bisa. Bagi ananda Jitron dan Berto serta basodara semua, Tuhan kuatkan selalu,” ungkap Aki Kalla yang juga pemilik Rumah Musik Siloam. (R1)

Continue Reading

SELEBRITI

Vanessa Angel Cuma Terima Rp 35 Juta

Published

on

Vanessa Angel (NET)

Jakarta, penatimor.com – Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Harissandi mengatakan, dari transaksi Rp 80 juta, Vanessa Angel tidak menikmati seluruh uang tersebut.

Dia hanya dijanjikan Rp 35 juta. Sisanya masuk ke kantong Endang yang bertindak sebagai perantara.

Uang Rp 45 juta dibagi dengan Tantri dan biaya hotel serta lainnya.

”Ketika kami tangkap, pihak pembeli jasa ini kan baru transfer 30 persen, jadi belum dibayar semua. Uang itu kini juga kami sita,” jelasnya, Senin (7/1).

Harissandi juga belum bisa menentukan penghasilan para muncikari tersebut dalam sebulan. Sebab, pesanan yang masuk kadang tak tentu.

Dalam seminggu saja mereka pernah tidak mendapatkan pesanan sama sekali. Meskipun dalam beberapa kesempatan mereka juga kebanjiran order.

Harissandi juga memberikan penjelasan tentang pria hidung belang yang memesan jasa dari Endang dan Tantri. Dia merupakan seorang pria berumur 45 tahun bernama Rian, berdomisili di Jakarta.

Rian atau menurut nama di KTP bernama Rudi Hastanto merupakan seorang pengusaha. ”Salah satu usahanya berada di Lumajang,” ucapnya.

Itu merupakan kali pertama Rian memesan prostitusi via daring. Setidaknya itulah yang dia katakan kepada Korps Bhayangkara ketika dimintai keterangan. Sebagai pengusaha, dia ingin mencoba prostitusi yang melibatkan artis kenamaan.

Karena itulah, pada Sabtu (5/1) dia mencoba memesan jasa Vanessa melalui Endang.

”Dia pilih di Surabaya karena kan yang paling deket, daripada ke Jakarta kan?” kata Harissandi. (R4)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pena Timor