Connect with us

HUKRIM

Kakek 69 Tahun Tikam Mati Gadis 27 Tahun

Published

on

Edward Sailana

Kupang, pentimor.com – Publik Kota Kupang digemparkan dengan terungkapnya kasus pembunuhan sadis sekira pukul 11.30, Selasa (15/5).

Pelakunya terindentifikasi adalah Edward Sailana, 69, pensiunan guru sekolah dasar yang juga warga RT 008/RW 004, Desa Oelomin, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang.

Pelaku juga merupakan pendeta di Gereja Presbyterian Injili Indonesia Sikumana, sudah ditangkap dan ditahan aparat Polsek Maulafa dibantu personel Polres Kupang Kota.

Sang pelaku nekat membunuh korban yang terindentifikasi bernama Deby Anggreani Balla (DAB), 27, di kamar kos miliknya di RT 009/RW 004 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa.

Kos-kosan tersebut adalah milik Marsen Tanaem. Sementara identitas korban diketahui dari hasil scan sidik jari yang dilakukan polisi.

Sesuai informasi yang dihimpun di tempat kejadian perkara (TKP), kasus tersebut berawal pada Senin (14/5) sekira pukul 07.00, saat korban menghubungi pelaku melalui handphone dan mengatakan ingin bertemu karena butuh uang.

Selanjutnya, sekira pukul 11.00, korban tiba di TKP dan bertemu dalam kamar kos pelaku.

Korban lalu meminta uang, namun pelaku mengaku akan memenuhi permintaan itu asalkan korban mau berhubungan badan.

Keduanya pun berhubungan intim layaknya suami istri. Namun tiba-tiba korban menolak melanjutkan adegan ranjang itu, sembari merampas dompet pelaku dan mengambil uang tunai Rp 800.000. Pelaku yang tidak terima, lalu merampas kembali uang tersebut.

Pelaku yang emosi lalu memukul korban dan langsung mengambil pisau dari dalam tas pelaku dan menikam pada bagian leher, dada dan perut korban sebanyak empat kali, sehingga korban langsung tewas seketika.

Setelah membunuh korban, pelaku mengambil tong air warna hijau yang berada di dalam kamar kos, lalu memasukan jenazah korban di dalamnya yang terlebih dahulu dilapisi dengan kasur tipis dan melakban penutup tong.

Setelah mengamankan jenazah di TKP, pelaku pulang kembali ke rumahnya lalu menghubungi Daud Baitani untuk menyewa mobilnya dengan alasan untuk memuat barang di kos milik.

Sekira pukul 19.00, Daud Baitanu bersama dengan anaknya Adolfina Baitanu tiba di rumah pelaku dengan sebuah mobil kijang pikap dan kemudian mereka berdua menuju ke kos milik pelaku.

Setibanya di TKP, pelaku dengan Daud Baitanu langsung mengevakuasi tong yang berisi jenazah korban ke rumah milik pelaku.

Informasi lain menyebutkan, pada saat tiba di rumah milik pelaku, tong berisi jenazah tersebut langsung dibawa pelaku dan dibuang ke dalam sumur kering sedalam 12 meter di belakang rumahnya untuk menghilangkan jejak.

Korban dan pelaku disebutkan awal kenal di Hotel Dewi Naikoten 1 pada bulan Februari tahun 2013.

Antara korban dan pelaku tidak memiliki hubungan asmara, namun pelaku mengaku sering menggunakan jasa korban.

Kepala Desa Oelomin Tuce Takesan, mengatakan, waktu hendak ke kantor dia melihat pelaku sedang mengambil tanah putih. Saat ditanya, pelaku mengaku material itu hendak digunakan untuk mengecor lantai.

“Saya tanya juga dia jawab tidak jelas. Waktu sudah di kantor baru dengar kabar dia sudah ditangkap dan bawah ke Polsek Maulafa,” kata Tuce.

Saat mengetahui pelaku ditangkap, Tuce kembali ke rumah pelaku, dan melihat di belakang rumah ada tumpukan tanah putih, campuran semen dan besi beton.

Saat mengecek ke dalam sumur, Tuce melihat ada bercak darah sehingga langsung dilaporkan ke polisi untuk pengecekan dan evakuasi.

Pelaku juga diketahui memiliki istri bernama Adolfina Kese dan 6 orang anak dan beberapa cucu yang kini berada di Soe, Kabupaten TTS.

Kapolres Kupang Kota AKBP Anthon Christian Nugroho, mengatakan, setelah menerima laporan warga pihaknya langsung mendatangi TKP dan mengevakuasi mayat korban, selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Titu Uly untuk proses otopsi.

Sementara, Kapolsek Maulafa Kompol Margaritha Sulabesi kepada wartawan, mengatakan, pelaku merupakan warga Oelomin namun indekos di Oepura karena berdagang multilevel dan obat kuat.

“Bapak itu (pelaku) rumahnya di Oilomin tapi tinggal di Jalan Sukun 2. Kos di situ karena berdagang multi level. Sesuai pengakuan pelaku, korban PSK jadi sering dia pakai. Nona ini (korban) butuh duit kesepakatan mereka Rp 150.000 tetapi nona mau Rp 800.000,” kata Kapolsek.

Sementara itu, korban terindentifikasi adalah anak ketiga dari empat bersaudara, dan merupakan anak dari Nabas Balla, warga RT 3 Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak.

“Setelah dilakukan autopsi, terdapat 16 tikaman di sekujur tubuh korban. Pelaku menikamnya dengan benda tajam (pisau). Setelah kami periksa diketahui bahwa korban benar atas nama Debby A.Balla sehinggga kami langsung menghubungi pihak keluarga,” jelas Kapolsek.

Berdasarkan keterangan keluarga korban yang enggan menyebutkan namanya, korban pamitan keluar rumah dari Senin (14/5) sekira pukul 10.00.

“Orangtua juga sempat pikiran karena korban tidak pulang rumah. Kami terkejut ketika mendengar kabar kalau Debby telah meninggal,” ungkapnya.

Sementara, pelaku Edward Sailana mengaku nekat membunuh korban karena kesal saat berhubungan intim belum selesai, korban malah menolak melanjutkan dan meminta bayaran mahal.

Karena emosi, dia pun nekat menikam korban yang sudah sering ditidurinya sejak tahun 2013. (R1)

Advertisement
Loading...
loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKRIM

Karimun yang Dikemudikan Dokter Terjungkal di Jalur 40

Published

on

Beberapa warga sekitar lokasi lakalantas berupaya mengevakuasi pengemudi mobil Karimun Estilo yang terjungkal di Jalur 40, Sabtu (18/5) pagi.

Kupang, penatimor.com – Kecelakaan lalu lintas (lakalantas) terjadi lagi di Kota Kupang, Sabtu (18/5), sekira pukul 05.30.

Sebuah mobil Suzuki Karimun Estilo warga pink dengan nomor polisi DH 3 VI mengalami lakalantas tunggal di Jalur 40, dekat Pura, Kelurahan Maulafa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Mobil nahas itu dikemudikan dr. Maria Devi Arianti (50), warga Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo.

Pengemudi yang adalah dokter umum di Kupang tersebut mengalami luka memar di kepala dan rasa sakit di dada.

Informasi yang dihimpun wartawan, kronologi kejadian itu berawal dari pengemudi bergerak dari arah BTN melewati Jalur 40 hendak ke gereja di Sikumana.

Saat tiba di tempat kejadian perkara, pengemudi hendak melambung sebuah sepeda motor yang bergerak di depannya.

Saat melambung, mobil keluar jalur dan terjungkal di jurang sedalam kurang lebih 10 meter.

Akibat kejadian tersebut mobil mengalami kerusakan material dan pengemudi mengalami luka ringan dan mendapat perawatan di Rumah Sakit (RS) Bartolomeus Kupang.

Kasat Lantas Polres Kupang Kota, Iptu Rocky Junasmi yang dikonfirmasi jurnalis, mengatakan, setelah menerima laporan masyarakat terkait kejadian lakalantas tersebut, pihaknya langsung mendatangi TKP.

“Kita lakukan olah TKP dan evakuasi korban dan kendaraannya,” kata Kasat Lantas. (R1)

Continue Reading

HUKRIM

Jaksa Ungkap Penyeludupan Motor Harley Davidson asal Singapura ke Atambua

Published

on

Ilustrasi sepeda motor Harley Davidson (NET)

Kupang, penatimor.com – Kejati NTT kini fokus menelurusi sindikat dalam kasus penyeludupan sepeda motor gede merk Harley Davidson dari Singapura ke Atambua, melalui Timor Leste.

Pemeriksaan saksi dalam seminggu terakhir intensif dilakukan penyidik Kejati.

Para saksi yang diperiksa termasuk pimpinan dan staf Kantor Bea Cukai Atambua.

Terpantau, dua saksi dari Kantor Bea Cukai Atambua memenuhi panggilan penyidik untuk diperiksa, kemarin.

Kedua saksi, Dedy Husni dan Maezun Najib, didampingi Kepala Kantor Bea Cukai Atambua Tribuana Wetangtera.

Kasi Penkum Kejati NTT Abdul Hakim yang dikonfirmasi wartawan, membenarkan pemeriksaan tersebut.

“Masih terus kita panggil saksi untuk didengar keterangan terkait kasus ini. Saat ini baru satu tersangka yang sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Atambua. Tersangka ini ada sopir tronton yang mengangkut barang-barang itu dari Timor Leste ke Atambua. Sementara pemilik barang di Surabaya sudah kita ketahui dan periksa,” kata Abdul.

Sementara, Pengadilan Negeri (PN) Atambua menggelar sidang perkara kasus bea cukai terkait dugaan penyeludupan motor gede Harley Davidson (HD) di perlintasan perbatasan Indonesia-Timor Leste, Senin (29/4).

Sidang beragenda pemeriksaan terdakwa yang dipimpin hakim AA Gede Susila Putra, SH.,M.Hum., tersebut berlangsung dari pukul 10.00-11.30.

Terdakwa Paulus Tanmenu (42), selalu sopir menjalani pemeriksaan kasus bea cukai sebagaimana Pasal 102 huruf D Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 tentang Kepabeanan.

Terdakwa dalam keterangan di persidangan, mengaku pada tanggal 19 September 2017, dirinya melakukan pengiriman barang dari Atambua ke Timor Leste berupa semen sebanyak 600 sak menggunakan 1 unit truck tronton warna hijau Nopol W-8709-XH dengan tujuan Toko Lucky Star di daerah Audian, Timor Leste.

Setelah sampai di Toko Lucky Star, barang dibongkar pada tanggal 20 September 2017.

Selanjutnya pada tanggal 21 September 2017, Frans Valdano alias Asun menelpon terdakwa Paulus mengatakan untuk bertemu orang di Toko Lucky Star daerah Audian-Timor Leste.

“Sesampainya di Toko Lucky Star, saya bertemu dengan 3 orang, yaitu 2 orang Timor Leste dan 1 orang Cina. Namun saya tidak tahu namanya. Selanjutnya pada saat bertemu mereka menanyakan kepada saya bahwa ini mobilnya pak Asun ya, lalu saya menjawab ya, kemudian mereka mengatakan bahwa mereka sudah menelpon pak Asun untuk muat barang mereka dari Dilli ke Atapupu,” urai terdakwa.

“Lalu sekitar pukul 11 siang saya bersama dengan mereka bertiga ke Aimutin untuk mengambil barang tersebut,” lanjut dia.

Setelah barang selesai diangkut, lanjut terdakwa, tidak ada dokumen yang diserahkan kepadanya.

Kemudian terdakwa mengaku menelepon Asun menanyakan mengenai dokumen perlintasan barang-barang tersebut.

“Lalu dijawab oleh Asun bahwa bawa saja barang-barang tersebut ke perbatasan karena sudah ada yang menunggu di perbatasan untuk mengurus dokumen dokumen perlintasan,” ungkap terdakwa.

Paulus Tanmenu melanjutkan, tanggal 21 September 2017 dia menuju ke Batu Gede.

Terdakwa bermalam di Batu Gede karena dokumen belum selesai. Hingga tanggal 22 September 2017 dokumen belum selesai sehingga dirinya masih bermalam di Batu Gede.

Selanjutnya, tanggal 23 September 2017, dokumen perlintasan selesai. Paspor terdakwa diminta dan dibawa oleh pengurus untuk mengurus perlintasan di Timor Leste dan di Motaain.

“Apabila ditanya petugas, saya disuruh menjawab isinya alat lisrik dengan tujuan Oecusse,” ungkap terdakwa.

Selama di pos perlintasan, terdakwa mengaku tidak turun dari truk karena sudah ada yang mengurus dokumen. Mobil langsung ditempel segel lalu berangkat. Dia tidak menandatangani dokumen apapun.

Setelah keluar dari PLBN Motaain, tronton menuju kolam susuk, gudangnya Asun. Sesampainya di gudang, terdakwa bersama-sama Soleman membuka segel. Kemudian mobil menuju ke Atapupu. Sesampai di Atapupu, barang dibongkar di belakang kantor Bea Cukai.

Sementara, JPU Danie, SH., mengatakan, terkait kasus ini, berdasarkan sidang selama ini, perbuatan terdakwa membuka segel di luar wilayah pabean sudah terbukti.

“Barang ini dalam dokumen perlintasan adalah barang transit. Seharusnya truk melintas sampai Winie dan segel dibuka oleh petugas bea cukai di Winie. Tetapi faktanya segel dibuka sendiri sebelum mencapai Winie tanpa pengawasan petugas bea cukai,” ungkap JPU.

Dia melanjutkan, perkembangan di lapangan, masyarakat bertanya-tanya, kenapa hanya sopir yang jadi korban.

Dan pemilik barang sampai dengan saat ini tidak dijadikan tersangka dan tidak diproses hukum.

“Pihak-pihak yang harusnya dimintai pertanggungjawaban menjadi DPO semua,” ungkap Danie.

Sekadar tahu, barang bukti dalam perkara ini adalah mobil tronton warna hijau dengan nomor polisi W-8709-XH, satu buah peti kemas 40” nomor DLCU4104775, 25 koli kotak kayu berisi spare part Harley Davidson, dan dokumen perlintasan. (R5)

Continue Reading

HUKRIM

Curi Motor Sitaan Satlantas Kupang, Hendrik Terancam 4 Tahun Penjara

Published

on

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi, SH.,MH.

Kupang, penatimor.com – Tim Buru Sergap (Buser) Polres Kupang Kota berhasil menangkap Hendrik Litik (24) yang diduga mencuri barang bukti sepeda motor di kantor Satlantas Polres Kupang Kota, Senin (13/5).

Hendrik yang adalah warga Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa itu ditangkap di lokasi Taman Nostalgia saat sedang bersama pacarnya menikmati jajanan salome.

Dia kemudian diamankan ke Mapolres Kupang Kota untuk menjalani proses hukum selanjutnya.

Pelaku berhasil ditangkap setelah tim Buser melakukan pengejaran selama dua hari.

Sepeda motor merek Kawasaki KLX dengan nomor polisi DH 2621 HL yang dibawa kabur tersebut sebenarnya adalah milik pelaku.

Hanya saja kendaraan tersebut disita polantas sebagai barang bukti, ketika pelaku ditilang karena tidak memakai helm, serta tidak memiliki SIM dan STNK.

Pelaku ditilang polantas di Jl. W.Z. Yohanes, Kelurahan Oetete, dekat SMK Negeri 1 Kupang. Motornya lalu diamankan ke kantor Satlantas.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota Iptu Bobby Jacob Mooynafi yang dikonfirmasi di Mapolresta, membenarkan.

Menurut Bobby, setelah ditilang, pelaku diarahkan ke kantor Satlantas dengan membawa serta kelengkapan sepeda motornya.

Dan satu jam kemudian, pelaku mendatangi kantor Satlantas untuk melengkapi kendaraannya.

Pelaku rupanya membawa kunci duplikat, sehingga dia pun secara diam-diam menghidupkan motor tersebut dan kabur.

Aksi Hendrik Litik ini tidak diketahui polantas yang berada di kantor Satlantas tersebut.

Beberapa saat kemudian, barulah dicek polisi dan tidak lagi mendapati motor tersebut.

Melalui pengecekan rekaman CCTV, barulah diketahui dengan jelas bahwa Hendrik lah yang membawa kabur motor tersebut. Polantas pun membuat laporan kehilangan.

“Setelah menerima laporan, kami langsung melakukan pengejaran dan berhasil menangkap pelaku. Pelaku sudah menjalani pemeriksaan. Dia kami izinkan pulang tapi wajib lapor. Pelaku dijerat Pasal 231 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara,” jelas Kasat Bobby. (R3)

Continue Reading




Loading...

Trending

error: Content is protected !!